Surabaya On Foot

Surabaya on Foot

Dari sekian banyak kota besar di Indonesia, Surabaya mungkin tidak termasuk dalam daftar kota yang ingin saya kelilingi dengan berjalan kaki. Kota yang panas, semrawut, dan kesimpulan sepihak saya sebagai orang Jawa kraton yang halus tentang orang Jawa Timur yang temperamental, membuat saya berpikir dua tiga kali sebelum mengambil keputusan keliling (sesudut) Surabaya, berjalan kaki.

Pagi itu, saya sampai di Stasiun Gubeng sekitar pukul 06.30, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2.5 jam naik kereta api dari Malang. Turun dari kereta, karena ga tau musti naik apa untuk memulai perjalanan, saya cuma mikir “ah, naik angkot apa aja yang pertama berhenti di depan gw!”. Tak lama, sebuah angkot berwarna cokelat muda dengan kode huruf F di bagian depan berhenti, saya naik. Alih-alih melewati pusat kota, angkot membawa saya menuju daerah Wonokromo, dan sepertinya ga ada yang menarik di sekitar situ. Saya putuskan turun ketika angkot berhenti di lampu merah dekat sebuah patung kuda. Naik angkot lagi dengan kode yang sama, ke arah sebaliknya.

Niat awal ke Surabaya adalah mau ke House of Sampoerna, dan beli almond crispy titipan teman-teman. Dari sekitar Gubeng, naik angkot apa ke House of Sampoerna? Umm.. ga tau juga… Akhirnya saya ya udah pasrah aja mau dibawa ke mana sama sopir angkotnya oleh si angkot cokelat. Hampir setengah jam di dalam angkot, udah lewat lagi Stasiun Gubeng, kok ya si angkot bukannya makin masuk ke dalam kota, malah kayanya makin menuju daerah berbau pelabuhan gitu. Barulah saya memberanikan diri nanya ke Pak Sopir Angkot:

“Pak, kalau saya mau ke kantor Sampoerna, yang di Jalan Rungkut, naik angkot apa ya?”

“Walaaahh.. salah naik angkot, Mba’e! Ini aja, balik lagi naik angkot ini, nanti di perempatan yang kedua, ganti angkutan yang D, yang biru muda..” Pak Sopir menjawab ramah dengan logat Suroboyoan yang kental.

Mengikuti petunjuk Pak Sopir Angkot dengan seksama, saya berhasil sampai di House of Sampoerna, jam masih menunjukkan pukul 08.30, tiga puluh menit sebelum city tour mereka yang pertama di mulai. Sayangnya, setelah menunggu beberapa saat, untuk city-tour jam 09.00, tidak ada peserta lagi yang mendaftar, jadi tur dibatalkan. Hiks.

Sisi baik dari dibatalkannya city-tour yang pagi itu, saya punya waktu 3 jam untuk literally jalan-jalan keliling Surabaya. Bayangan akan Surabaya yang keras dan temperamental sudah sedikit menghilang ketika Pak Sopir Angkot menunjukkan jalan yang benar menuju kawasan Rungkut, dan seiring saya menelusuri trotoar dari House of Sampoerna sampai ke kawasan Jembatan Merah, saya melihat Surabaya yang benar-benar berbeda dengan bayangan saya.

Keluar dari House of Sampoerna, saya berbelok ke kanan. Menelusuri sepanjang tembok Penjara Kalisosok. Tak berapa lama, saya bertemu jalan raya dengan trotoar yang nyaman sekali dipakai berjalan kaki. Beberapa Pak Becak yang mangkal di depan kantor PTPN menawarkan jasanya, saya menggeleng dan tersenyum, menolak dengan halus. Di satu titik, saya melihat ada warung lontong kupang yang ramai pengunjung di sebrang jalan, tapi terpaksa urung karena tidak melihat ada zebra cross di sekitar situ, dan saya ga mau nyebrang jalan sembarangan karena dengkul masih cenat-cenut akibat jatuh di Stasiun Senen sebelum berangkat ke Malang. Kan ga lucu lagi jalan cimit-cimit bukan karena centil, eh diklaksonin mobil dan motor.

Bangunan Tua di Kawasan Jembatan Merah
Bangunan Tua di Kawasan Jembatan Merah

Terus menelusuri Jl Rajawali, tak lama saya sampai di sekitar kawasan Jembatan Merah. Banyak gedung tua nan cantik di seputaran wilayah ini. Kebanyakan difungsikan sebagai bank, ada juga museum De Javasche Bank. Tujuan saya selanjutnya ke Tugu Pahlawan. Dari info Mas Penjual Soto tempat saya sarapan, lumayan jauh kalo jalan kaki dari JMP ke Tugu Pahlawan, saya disarankan naik semacam mobil colt, yang saya baca jurusan Gresik. Ternyata ukuran “jauh” saya dan Mas Penjual Soto ga sama. Ga sampai 5 menit naik angkot, saya diturunkan di depan gedung kantor pos, dan ditunjukkan jalan menuju Tugu Pahlawan. Laaah, tau sedeket ini mah jalan kaki aja, menikmati trotoar nyaman yang ga tiap hari saya temui di Jakarta.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Jalan kaki sesingkat dari House of Sampoerna ke Tugu Pahlawan aja, bisa merubah pandangan saya akan Surabaya. Kota yang saya pikir semrawut, panas, temperamental ternyata sangat loveable.

Tugu Pahlawan, Surabaya
Tugu Pahlawan, Surabaya
About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
4 Responses
  1. Salam kenal, wah untung baca tulisan ini. Awal tahun saya rencana mau ke Surabaya setelah kunjungan saya terakhir (kira-kira 20 tahun yang lalu). Tnyata …..Surabaya banyak berubah ya, mungkin karna bu walikota itu…..?

  2. RICKY

    salam kenal mbak.. saya juga pernah jalan2 di sby sendirian akhir taun 2013.. hehe siang malam hujan panas..dan sangat menyenangkan, bersih, rapi, trotoar nyaman dan aman…bulan depan saya rencana mau kesana lagi jalan2 ke tempat yg waktu itu blm terksplor.
    oya waktu itu rute jalan kaki saya (gatau sudah brp km :)) start dari Kedungdoro-Tunjungan-Kepanjen-Tugu Pahlawan-Monkasel-Gubeng dll
    sorenya juga sempat ke Taman Bungkul dan makan rawon kalkulator yg sedap

    1. Parahita Satiti

      Hai, salam kenal juga, Mas Ricky 🙂
      Terimaksih ya sudah mampir di blog saya. Yup, Surabaya memang kota yang sangat menyenangkan. Enak buat jalan kaki, dan banyak makanan enak.

      Selamat jalan-jalan lagi ke Surabaya ya, have fun! 🙂

Leave a Reply