Istana Pagaruyung

Sisa Kemegahan Istana Pagaruyung

Day 26: Istana

Kami tiba di Istana Pagaruyung saat tengah hari, namun panasnya matahari yang bersinar siang itu tak menyurutkan semangat wisatawan untuk menjelajahi salah satu istana kebanggaan warga Sumatra Barat itu.

Beberapa anak kecil berkejar-kejaran di halaman yang dilapisi dengan batu kerikil. Langkah kaki mereka menimbulkan suara gemerisik yang cukup kencang. Beberapa ibu-ibu nampak sibuk mengajak suami dan anaknya untuk berswafoto dengan handphone dan tongsis yang terjulur panjang. Sementara beberapa remaja putri nampak malu-malu berfoto mengenakan baju adat sewaan yang berwarna-warni, mereka saling bergantian mengambil foto satu sama lain. Ada juga keluarga muda yang berfoto dengan kostum sewaan itu. Si ibu nampak sangat menikmati mengenakan baju princess Sumatera Barat, sang ayah terlihat canggung, sementara putra mereka ngambek tak mau pakai topi lancip yang sepertinya tidak nyaman dipakai dikeningnya yang berkeringat.

Istana Pagaruyung Padang Sumatera Barat
Ini adalah Istana Pagaruyung yang telah dibangun keempat kalinya setelah 3 kali terbakar habis.

Saat itu adalah musim libur Lebaran, saatnya hampir seluruh orang di Indonesia pergi liburan. Dan Istana Pagaruyung nampaknya termasuk ke dalam tujuan wisata favorit di Sumatra Barat saat libur Lebaran. Saya termasuk orang yang kurang bisa menikmati suatu tempat wisata yang terlalu ramai, jadi ketika mendapati Istana Pagaruyung begitu ramai siang itu saya memutuskan tidak berlama-lama di sana.

Istana Pagaruyung ini sungguh membuat saya terkesan. Bangunannya begitu besar dan tinggi, belum lagi dengan konstruksi rumah panggung dengan atap dan dinding yang mengesankan kemewahan. Saya sangat awam dengan teknik konstruksi, jadi saat melihat ada bangunan rumah panggung sebesar ini dengan atap yang begitu besar dan ga ambruk, saya sungguh kagum dengan cara mereka membangun istana ini.

Sayangnya ke-grande-an yang terlihat dari luar, agak kebanting dengan isi istana. Entah kenapa bangunan yang begitu megah di luar, isi koleksi-nya begitu sedikit. Jadi kesannya kosong, gitu. Sayang aja sih menurut saya.

Istana Silinduang Bulan
Istana Pagaruyung dalam versi yang lebih kecil; Istana Silinduang Bulan

Sedikitnya, koleksi Istana Pagaruyung mungkin erat kaitannya dengang sejarah istana ini yang pernah terbakar tiga kali; pada saat Perang Padri tahun 1904, tahun 1966, dan yang terakhir tahun 2007 akibat sambaran petir. Saat tersambar petir tahun 2007, diyakini kolesi Istana Pagaruyung yang asli tinggal tersisa sekitar 15% saja. Sebagian koleksi yang tersisa disimpan di Balai Peninggalan Benda Bersejarah Kab. Tanah Datar, sebagian lagi disimpan di Istana Silinduang Bulan. Sepulang dari Istana Pagaruyung kami sempat mampir ke Istana Silinduang Bulan, sayangnya tutup. Gagal deh lihat sisa keindahan pusaka-pusaka peninggalan kejayaan kerajaan Pagaruyung.

 

[Seorang teman menantang saya untuk melakukan 28-Days Writing Challenge di blog ini. Aturannya sederhana; setiap hari dia akan meberikan sebuah tema dan saya harus menulis sebuah tulisan pendek (tidak lebih dari 500 kata) dari tema tersebut]

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
1 Response
  1. bagus juga ya artefak2 disimpannya di beberapa tempat terpisah. jadi kalau kenapa-kenapa di satu tempat, nggak habis semua artefaknya sekaligus..

Leave a Reply