Limbuk dan Cangik

Saya Merasa Terhormat Dipanggil Limbuk

“Wah, anakku kaya Limbuk, wayang sak kotak ayu dhewe…”

Itu ‘pujian’ yang biasanya dilontarkan papa saya ketika saya masih TK, biasanya setelah saya mandi sore dan pakai bedak cemong-cemong di wajah, melompat kesana kemari sambil disuapi makan sore oleh Mama. Saya ketika itu belum tahu rupa tokoh wayang bernama Limbuk itu seperti apa. Yang saya tahu, kalau saya bertingkah manis, mau mandi sore dengan segera dan tidak susah disuruh makan, maka saya akan dipuji seperti Limbuk, tokoh wayang paling cantik sekotak wayang yang besar itu. Iya, sekotak wayang yang jika dijejerkan satu persatu, bisa menutupi lebar layar putih yang dipakai untuk pagelaran wayang. Uh, mungkin perasaan saya kala itu hampir sama kali ya dengan anak kecil jaman sekarang yang dipuji “Wah, cantiknya kaya Elsa di film Frozen!”

Hingga ketika sekitar kelas 4 SD, saat liburan di rumah Mbah Kakung, saya membaca buku pelajaran Muatan Lokal milik salah satu sepupu jauh dan mendapati gambar tokoh wayang Limbuk di salah satu halaman buku itu. Aarrrgh.. ternyata penampakan Limbuk ini jauh sekali dengan yang saya bayangkan selama ini! Bayangan saya, Limbuk itu ya ga akan beda jauhlah dengan Sumbadra yang wayangnya pernah saya pegang di rumah salah satu teman Papa. Wayang langsing dengan hiasan kepala rumit dan wiron kain berjuntai-juntai di antara kakinya.

Lha ini? Kok ya gambar seperti ini yang tertera di atas nama ‘Limbuk’

Limbuk dan Cangik
Limbuk yang gemuk, Cangik yang kurus.

Foto diambil dari sini

Wayang gemuk, dengan bedak tebal berwarna putih dan bibir lebar berwarna merah, berjidat lebar, berhidung pesek dan dengan raut muka yang jauh dari kesan ramah. Apalagi ayu.

Waktu itu, iya saya mau nangis rasanya lihat gambar Limbuk pertama kali. Kok tega ya Papa ku menyamakan anaknya dengan wayang buruk rupa seperti ini? Ketika Papa menjemput saya balik ke Jakarta usai liburan, hal pertama yang saya tunjukkan padanya ada buku sepupu saya itu, dengan deraian air mata di pipi dan rajukan “Pokoknya aku nggak mau lagi dipanggil Limbuk!”. Iya, dari kecil saya memang sudah dramatis.

“Nanti kalau kamu tahu siapa Limbuk, kamu pasti akan suka dipanggil dengan nama itu…” kata Papa sambil meraih saya ke dalam pangkuannya.

Jauh setelah kejadian pengungkapan bagaimana wujud wayang Limbuk itu, tepatnya ketika saya kuliah di Bandung. Ada tetangga sebelah rumah yang sudah saya anggap seperti pakdhe sendiri, gemar sekali menonton pertunjukan wayang, baik secara langsung maupun lewat VCD. Suatu hari ketika saya sedang kerumahnya untuk mengambil titipan kunci rumah, Pakdhe Sadimin sedang nonton VCD wayang, kok ya pas kebeneran bagian Limbukan (salah satu fragmen dalam pementasan wayang ketika Limbuk dan ibunya, Cangik, muncul). Karena dialog antara dalang, wayang, sinden dan perwakilan penonton yang memang lucu, saya kemudian ikut duduk dan nonton.

Apakah dengan sepotong fragmen Limbukan tadi pandangan saya berubah? Tentu tidak. Dibutuhkan berlembar-lembar halaman google untuk menyadarkan saya, siapa Limbuk itu sebenarnya.

Limbuk adalah putri dari Cangik, keduanya adalah penggambaran akan abdi dalem keraton. Tak hanya sekedar pembantu rumah tangga yang bertugas bersih-bersih, memasak dan menyiapkan kebutuhan ndoro putri-nya, namun merekalah abdi-abdi setia yang mengetahui seluk beluk rahasia keputren suatu keraton. Bisa jadi, Limbuk dan Cangik adalah penasehat terdekat bagi para putri dan permaisuri.

Meski biasanya kemunculan Limbuk dan Cangik identik dengan lelucon dalam pentas wayang, namun dari sana kita bisa banyak belajar tentang kebesaran jiwa dari keduanya. Betapa mereka adalah contoh sempurna dari kesetiaan dan kepatuhan pada aturan dan atasan, kesederhanaan dan kerendahan hati, juga pada kerja keras. Nilai-nilai yang ada pada jiwa bangsa Indonesia, sebuah Mahakarya Indonesia yang mungkin sudah banyak dilupakan oleh kita.

Papa saya sudah tak pernah lagi menggoda saya dengan panggilan “Limbuk, wayang sak kotak ayu dhewe…”, padahal setelah tahu siapa Limbuk, sungguh saya tidak keberatan dipanggil dengan nama itu.

Benar kata Papa saya dulu, saya akan suka dipanggil dengan nama itu. Saya merasa terhormat dipanggil Limbuk.

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
9 Responses
  1. ajengria

    Jujur..
    Habis baca cerita ini jadi mewek. Keinget ama papa saya yang udah almarhum.
    Dulu mesti dipanggil “nonik” , sejak papa gak ada yang manggil gitu lagi.

    BTW,
    Limbukan itu fragmen paling ditunggu dalam pagelaran wayang. Soalnya mesti banyak adegan kocaknya.

    Artikelnya bagus 😀 . Salam kenal ya Mbak

    1. Parahita Satiti

      Daughter – Father relationship is always something special 🙂

      Salam kenal kembali, Mba Nonik :’)

  2. aku di panggil entong :D. Dalam bahasa sunda konon anak lelaki kesayangan (padahal saya bukan orang sunda). Ada juga yang mengartikan kosong. apapun artinya aku suka dipanggil entong, terasa begitu spesial.

    1. Parahita Satiti

      Haiii, Kak Entong! 😉

      Entong kalo di bahasa Betawi juga kayanya artinya “anak lelaki kesayangan”, Kak…

  3. Saya baru tau loh mba kalo ada tokoh wayang Limbuk ini hehehe. Suka baca ceritanya yang natural dan enak dibaca. Ngebayangin juga kalo saya dipanggil limbuk antara suka dan tidak suka hihihi

  4. zack

    parahita,,,,saya dari malaysia”bila saya baca storie awak di atas saya ketawa sendirian,,sebab saya pun sedang mengaji tentang siapa limbuk sebenar nya,,he he he sebenar nya di sebalik kisah limbuk ini ada tersurat prime number 1 dan 9@ 19 ini adalah number prime,, limbuk yg besar” ibu nya yang kurus,dan pemegang screat gavenor atau kerajaan,,,memang patut awak berbangga,,dengan panggilan limbuk,,,,,he he he,,,,,apapun,, stories awak di atas so sweet,,,,,,

    1. Parahita Satiti

      Hi Zack, terimakasih sudah mampir di blog saya. Wah, saya baru terpikir itu mengenai prime number 1-9 di sosok Limbuk & Cangik. Dan kebetulan juga 19 adalah tanggal lahir saya. By the way, kenapa kamu tertarik belajar tentang wayang?

      1. zack

        ada beberapa crytografi di dalam wayang tersebut,,that is amazing”alphabet no (s) (19) 1@9 ada lah password kunci..mostly berkaitan kerajaan @pemengang amanah (pembuka dan penutup)di mana pun ada 2 pairing@ charater untuk membina satu kekuatan baik ghaib dan nyata ..simbolik 2 dalam pewayangan hollywod ialah dalam cerita iron man “tony stark dan james rodes “menguna kan kan algorisma yg sama begitu juga filem indonesia filem tengelam nya kapal van der wijkh (zainuddin dan muluk),,sebenar nya banyak rahsia di sebalik algorima 19 ini,,,,saya sendri lahir pada 19 haribulan prime number) memang benar ia nya ada di mana2 kerajaan mana pun,,tidak dapat di nafi kan pewayangan jawa memang ada cyptografi nya yg tersendri,,,yg sangat halus,,,boleh saya kata kan ini lah hierogrif jawa,,, dalam bentuk pewayangan” yg harus kita pelajari tersurat dan tersirat nya,,,ini lah yg membuat saya tertarik

Leave a Reply