Kapel di Komplek Sekolah Santa Lucia Sawahlunto

Sawahlunto: Kota Tua, Mungil, dan Menawan

Pokoknya saya mau ke Sawahlunto! Itu yang saya sampaikan ke partner jalan-jalan saya menjelajahi Sumatera Barat, Kamiki. Kengototan itu didasari oleh romantisme saya yang agak berlebihan pada kereta api, apalagi yang tua.

Sawahlunto, sebuah kota mungil yang dapat dicapai dengan berkendara mobil sekitar 2 jam lamanya dari Kota Padang. Pada masa kolonial Belanda, Sawahlunto memiliki peran yang sangat penting; sebagai penghasil batubara terbesar di Indonesia.

Dari kisah penambangan batubara inilah, sejarah kota Sawahlunto dimulai, tahun 1988 ditentukan sebagai tahun berdirinya kota Sawahlunto. Telah lebih dari 1 ¼ abad usianya, tentu kota ini sangat kaya dengan bangunan kuno. Dari mulai pasar, gedung koperasi, hotel, gereja, sekolah, masjid, stasiun kereta api dan museum-museumnya, hampir keseluruhan adalah bangunan peninggalan Belanda.

Gedung Tua di Belakang Hotel Ombilin Sawahlunto
Gedung Tua di Belakang Hotel Ombilin Sawahlunto
Hotel Ombilin Sawahlunto
Hotel Ombilin Sawahlunto
Sekolah Santa Lucia Sawahlunto
Sekolah Santa Lucia Sawahlunto

Mak Itam, sebuah lokomotif bekas pengangkut batubara di masa kejayaan kota Sawahlunto. Naik kereta uap ini menjadi salah satu impian saya sejak lama. Karena sibuk kerja sebelum berangkat, saya ga sempat cari info mengenai kereta ini. Dan ternyata saat tiba disana, saya baru tahu keretanya sudah berhenti beroperasi. Sediihhh…

Akhirnya saya dan KaMiki hanya menghabiskan waktu lihat-lihat sebentar di depan gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto, Musium Kereta Api, Musium Gudang Ransum, dan foto-foto sebentar di sebuah tikungan jalan antara Hotel Ombilin dan Sekolah Santa Lucia.

 

Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto

Di sinilah pemberhentian mobil kami yang pertama. Dari plang yang saya baca, diceritakan bahwa gedung ini didirikan tahun 1910. Pada jaman itu, gedung ini berfungsi sebagai gedung pertemuan (societeit), tempat pekerja perusahaan tambang batubara yang berkedudukan tinggi melepas penat dengan pesta dansa-dansi, bermain bowling dan bilyar.

Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto
Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto

Sayangnya kami ga bisa masuk ke dalam gedung pagi itu. Akhirnya cuma foto-foto di depan gedungnya. Ngobrol-ngobrol sama 2 anak SD yang lagi bolos sekolah. Mau nyobain jajan di kafe yang ada di samping gedung, mereka belum buka. Akhirnya kami melangkahkan kaki ke untuk foto-foto bangunan tua lainnya seperti Hotel Ombilin, Gereja & Sekolah Santa Lucia.

 

Museum Kereta Api Sawahlunto

Di Indonesia ada 4 musium kereta api, yaitu di kota Jakarta (TMII), Bandung, Ambarawa dan Sawahlunto. Dari keempat kota itu, saya sudah main ke 2 musium, Jakarta dan Sawahlunto. Udah setengah jalan dong… sebagai pecinta kereta api, saya bangga!

Stasiun KA Sawahlunto Kini Musium Kereta Api
Stasiun KA Sawahlunto, kini Museum Kereta Api

Musium kereta api ini memanfaatkan bangunan bekas stasiun kereta api Sawahlunto. Harga tiket masuk IDR 3.000 saja. Di dalam musium kita bisa lihat berbagai macam peralatan perkereta-apian yang sudah digunakan sejak tahun 1850an. Juga bisa melihat film tentang bagaimana kereta api menjadi satu bagian penting dari industri tambang batubara pada jaman Belanda.

 

Museum Gudang Ransum

Selain kereta api, faktor lain yang menjadi bagian penting dari industri tambang batubara di Sawahlunto adalah adanya dapur umum yang menyediakan makanan bagi ribuan buruh tambang. Kebayang gimana caranya masak nasi/ubi/singkong dan lauk-pauk pelengkapnya untuk orang sebanyak itu?

Nah, di Musium Ransum ini kita bisa lihat jawabannya. Dari dandang raksasa, penggorengan super besar, sampai kompor segede rumah yang menghasilkan uap air untuk masak, ada semua.

Kompor raksasa di Museum Gudang Ransum Sawalunto
Kompor raksasa di Museum Gudang Ransum Sawalunto
Rumah Potong Hewan di Musium Gudang Ransum
Rumah Potong Hewan di Musium Gudang Ransum

Musium Gudang Ransum seperti halnya Musium Kereta Api, Lobang Mbah Soero dan gedung-gedung tua lainnya di Sawahlunto kini dikelola oleh Pemerintah Kota Sawahlunto. Dengan tiket masuk yang sangat terjangkau, gedung-gedung tersebut sangat apik dijaga kebersihan dan kerapiannya. Jadi meskipun agak sedikit kecewa ga bisa naik Mak Itam, saya seneng banget bisa main ke Sawahlunto!

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
11 Responses
  1. Kyaaaaaa. Sebagai seseorang yang mengidentikkan dirinya sebagai “Penjelajah Kota”, gue pengen ke Sawahlunto. Dari pertama baca di blognya mas Dansapar udah tertarik. Sayang ya keretanya udah nggak ada.

    Baru tahu di Bandung ada stasiun kereta api. Di mana, kak? Aku kok ora ngerti hahaha.

    1. Parahita Satiti

      Gampang banget untuk jatuh cinta dengan Sawahlunto, Nug! Aku ngebayangin pas kota ini masih aktif produksi batubara, pasti seru banget….

      Musium Kereta Api di Bandung katanya ada di Jl. Dayang Sumbi No.10, dan ya… tinggal hampir 5 tahun di Bandung pun, gw belum pernah ke sana. Hahahaha…

    1. Parahita Satiti

      Hai, Dita… terimakasih sudah mampir ya 🙂 Namamu sepertinya familiar sekali di timeline twitter. Temennya @bayuendah ya? 😉

      Iyaaa, sedih kereta Mak Itam udah ga jalan lagi. Padahal kalau jalan, rute (panjang) nya lewat pinggiran Danau Singkarak. Sementara rute pendek lewat terowongan yang ga kalah serunya…

      Hahaha, iya, kamu kemarin ke FDbloggerworksop juga? Salam kenal, Ditaaa…

  2. ooooh mba Titi ini genk travelingnya mba Endah tooo
    ya ampuuuunn ternyata sempit yaaaa 😀
    iya kemaren ke FDbloggerworkshop juga dan berasa gembel banget secara yang dateng kece-kece smua

    1. Parahita Satiti

      Sawahlunto cantik banget, Vir! 🙂 Sayangnya Mak Itam udah ga beroperasi lagi, seru banget kayanya kalo bisa menelusuri Sawahlunto naik kereta api…

  3. Wahh bulan depan kayanya harus mampir ke Sawahlunto pas trip #TourDeSumatra 😀

    Btw, Lawang Sewu Semarang juga jadi Museum Kereta Api sekarang.

Leave a Reply