Search
Search

Pengalaman Melintasi Perbatasan Darat Malaysia-Thailand

pos perbatasan milik Thailand

Hari ini satu tahun yang lalu (25 Desember 2018) saya menghabiskan hampir setengah hari di stasiun kereta api Padang Besar; sebuah kota perbatasan antara negara Malaysia dan Thailand. Ini adalah pengalaman melintasi perbatasan darat antara dua negara yang pertama kali buat saya. Jujur, saya agak deg-degan waktu itu karena dari beberapa blog post yang saya baca dan unggahan video youtubers, banyak yang cerita kalau petugas imigrasi di stasiun di kedua negara ini sedikit lebih tidak ramah jika dibandingkan dengan petugas-petugas imigrasi di bandar udara.

Ada turis dari Eropa yang cerita pengalaman melintasi perbatasan darat di kedua negara ini di unggahan youtube-nya karena dikenakan biaya visa on arrival  yang lebih mahal untuk periode tinggal yang lebih singkat dibanding apa yang dia baca sebelumnya, hanya dengan alasan “it’s songkran time.” Ada yang ngeluh harus bayar untuk arrival card pengganti karena dia salah tulis di arrival card yang dibagiin gratis. Bayarnya nggak dalam jumlah besar sih, recehan doang, tapi hal-hal kaya gini kan nggak seharusnya terjadi.

Nggak bener, tapi karena keduanya terjadi di bukan negara saya, jadi ya udahlah ikutin aja cara mainnya. Mudah-mudahan saya nggak kena apes ‘diusilin’.

tiket dari Ipoh ke Padang Besar
Tiket kereta api dari Ipoh ke Padang Besar, saya beli online sekitar sebulan sebelum berangkat.

Saya tiba di Padang Besar sekitar pukul 12.45 siang waktu Malaysia (GMT+8), naik kereta dari Ipoh. Nah, dari Padang Besar kalau mau nyeberang ke Hat Yai itu bisa dengan cara; naik van/minibus atau naik kereta api. Saya memilih naik kereta api karena pengen ngerasain naik kereta kelas ekonomi milik Thai Railways. Selain itu kalau naik van, kita musti jalan kaki keluar dari stasiun Padang Besar menuju pangkalan/terminal van-nya, yang saya baca-baca diberbagai postingan blog itu lumayan jauh juga; 1 kilometer sampai ketemu no man’s land di perbatasan kedua negara, plus sekitar 500 meter lagi sampai di pangkalan van. Saya suka sih jalan kaki, tapi nggak deh makasih untuk kali ini. Pas kebetulan kok ya siang itu nggak lama setelah kereta sampai di statiun Padang Besar, hujan deras turun. Nggak kebayang kalau saya berubah pikiran dan memilih naik van ke Hat Yai, pasti sudah basah kuyup pas jalan kaki ke pangkalan van.

loket tiket kereta ke Hat Yai
Ruangan tempat beli tiket kereta api ke Hat Yai. Baru buka pukul 14.00 waktu Thailand
tiket kereta api dari Padang Besar ke Hat Yai
Tiket kereta api dari Padang Besar ke Hat Yai, yang belinya hanya bisa di jam-jam tertentu itu.

Nggak enaknya kalau milih naik kereta api dari Padang Besar ke Hat Yai, untuk beli tiketnya aja musti nunggu lama banget. Waktu itu loket baru dibuka pukul 14.00 waktu Thailand (GMT+7, pukul 15.00 waktu Malaysia), jadi ya saya harus nunggu 3 jam tuh cuma untuk beli tiket saja. Kalau mau baca cerita tentang pengalaman membeli tiket dan naik kereta di perbatasan ini, silakan baca di sini.

kantin di stasiun Padang Besar
Kantin di lantai atas Stasiun Padang Besar
makan siang di stasiun Padang Besar
Saya lupa berapa tepatnya harga makan siang ini, tapi kayanya sih ga lebih dari IDR 25.000 kalau dikurskan. Masih murah lah yaaa…

Untungnya walaupun menunggu lama, di lantai atas stasiun terdapat food court yang lumayan lengkap. Mau makan berat dengan menu masakan Malaysia ataupun Thailand lengkap tersedia. Ada juga kedai-kedai yang menjual oleh-oleh, cemilan, dan minuman instan buatan kedua negara. Jadi nunggu lama pun nggak khawatir bakal kelaperan.

Untuk proses imigrasinya sendiri saya pikir ya kaya proses di bandara, gitu… kita bisa menghadap petugas kapan saja untuk mendapatkan stempel keluar dan masuk. Ternyata nggak gitu prosesnya. Jadi, imigrasi Malaysia akan menunggu dulu kereta ekonomi yang membawa penumpang dari Hat Yai dateng, lalu mereka memeriksa seluruh penumpang yang datang ini dulu. Baru nanti penumpang yang mau naik kereta ke Hat Yai diperbolehkan menghadap petugas imigrasi Malaysia untuk minta stempel ‘out’, dan menghadap petugas imigrasi Thailand untuk mendapat stempel ‘in’. Karena prosesnya begini, jadilah antriannya panjang banget.

melintasi perbatasan darat
Ruang imigrasi di Stasiun Padang Besar

Padahal penumpang yang mau naik kereta ke Hat Yai rata-rata sudah ada di stasiun dari pukul 12.00 atau 13.00, lho. Harusnya sih bisa sambil nunggu kereta datang penumpang yang sudah siap bisa diperiksa dulu paspor-nya. Terus habis itu yang sudah dicap paspornya bisa nunggu di ruang tunggu khusus. Banyak ruang tunggu tersedia dan nyaman daripada penumpang disuruh antri di peron.

Ya tapi ini teori saya doang, sih. Mungkin petugas-petugas imigrasi itu lebih tahu proses yang terbaik untuk menjaga perbatasan negara.

Begitu penumpang yang tiba dari Hat Yai selesai diperiksa semua, sekitar 10 menit kemudian petugas mempersilakan calon penumpang ke Hat Yai untuk masuk ke ruang imigrasi. Petugas imigrasi Malaysia sih cepet aja meriksa paspor kami; buka halaman buku paspor langsung stempel. Nah yang di imigrasi Thailand-nya kami dibagi dalam beberapa barisan gitu; WN Thailand, WN Malaysia, ASEAN, dan WN lainnya. Karena saya sudah datang dari siang dan ga pernah keluar antrian, saya kebagian antrian lumayan di depan deh. Nggak tahu ini beruntung atau sial, saya dapat petugas yang teliti banget meriksa paspor. Orang yang antri di depan saya ada kali paspornya dibuka bolak-balik sampai 3 kali, salah satu halaman bahkan sampai dilihat pakai kaca pembesar sama petugasnya. Pas giliran saya juga gitu. Meski deg-deg-an abis, saya berusaha tetap chill aja. Ntar kalau kelihatan gugup malah dicurigai yang aneh-aneh sama petugas ye, kan!

kereta kelas 3 Thai Railways
Ini kereta api yang membawa saya ke Hat Yai dari Padang Besar. Jendela bolong itu bukan karena kacanya diturunin, ya. Memang bolong, hehe.

Sekitar pukul 17.30 waktu Thailand akhirnya proses keluar di imigrasi Malaysia dan masuk di imigrasi Thailand beres dan kami pun naik kereta menuju Hat Yai. Jadi hari itu total saya ngabisin waktu lima jam lebih di perbatasan Malaysia-Thailand. Sungguh ini pengalaman yang seru bagi saya dan membuat saya ingin nyobain pengalaman melintasi perbatasan darat negara-negara lainnya.

Written by
Parahita Satiti

About me

 

Parahita Satiti; suka jalan-jalan dan bercerita. Makanya dia bikin blog ini. Kalau mau tanya/ngobrol/kerjasama dia bisa dihubungi lewat email: [email protected]

Member of

Travel Blogger Indonesia