I wear this when a stranger implicitly ask me a for bl*wjob

Pelecehan Kala Jalan-Jalan

Bolehkah saya meng-klaim menjadi seorang pejalan wanita itu jauh lebih berat daripada pejalan pria dalam menghadapi street-harassment?

Memang, street harassment (pelecehan yang terjadi di jalanan) bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, di jalan depan rumah, di kota tempat kita tinggal, di sekolah tempat kita pergi belajar, di mall, di kantor, dan yang barusan saya alami; kejadian saat traveling. Bagi perempuan, bentuk pelecehan bisa bermacam-macam. Dari mulai sekedar dilihatin dari atas kebawah, disiulin, dipanggil-panggil dengan suara hewan (meeeoong, misalnya), sampai yang level agak parah misalnya dicolek, digrepe, hingga yang paling parah; percobaan perkosaan hingga perkosaan itu sendiri. Mau kejadian di mana pun, mengalami pelecehan itu pasti menyisakan rasa sesak di dada, terhina, kadang juga trauma.

Sekian lama punya hobi jalan-jalan, ada 2 kejadian pelecehan yang bikin rasanya keseeeel banget. Yang pertama terjadi di kota Yogyakarta, sekitar bulan April 2009. Saat itu saya bersama teman-teman liburan roadtrip dari Jakarta ke Yogyakarta. Satu malam sebelum kembali ke Jakarta, kami menginap di Hotel Sunarko di Jl Parangtritis. Malam itu saya menempati satu kamar bersama 4 orang teman. Begitu masuk kamar, 3 teman saya langsung antri untuk pipis. Tinggal saya yang malam itu belum mandi setelah cave-tubing dan river-tubing di Gunungkidul. Menyadari aktifitas saya di kamar mandi akan paling lama, saya mempersilakan teman-teman untuk ke kamar mandi terlebih dahulu. Saat masuk ke kamar mandi, saya tidak terlalu memperhatikan situasi di kamar mandi itu. Cuek aja mandi kaya biasanya. Hingga di tengah acara mandi, saya menyadari kalau di atas shower, ada lobang angin berukuran sekitar 40×30 cm dengan kaca putih buram. Saya perhatiin kaya ada bayangan hitam, saya hampir menjerit karena saya pikir itu tikus yang gueedee banget. Saya makin perhatiin lagi dengan teliti, ‘kan mata minus 4 tanpa kacamata sering salah lihat,  lho kok bentuknya seperti kepala manusia! Saya membentak “Wooy! Ngintip lo ya!”

Buru-buru saya menyambar handuk di gantungan baju, melompat ke atas wastafel dan melongok ke lobang angin tempat saya melihat bayangan hitam tadi. Ketika menggapai ujung kusen lobang angin, tanpa sengaja tangan kanan saya menyenggol kaca yang menutupi lobang angin itu, dan rupanya si kaca tidak dipasang mati pada kaca kusen lobang angin hingga jatuh ke ruangan sebelah yang rupanya juga kamar mandi.

Saya masih melihat ada sekelebatan bahu keluar dari pintu kamar mandi itu.

Badan saya sudah gemeteran menahan marah dan malu. Saya melompat turun dari wastafel dan berlari keluar mandi sambil teriak “gw diintip dari kamar sebelah!” Teman-teman lari ke resepsionis untuk mengadukan hal ini. Beberapa yang lain mencoba menenangkan saya yang mulai menangis.

Beberapa saat kemudian teman-teman saya kembali. Kamar sebelah kamar yang kami tempati itu dihuni oleh 2 orang sopir bus karyawisata sebuah SMK dari Bali. Mereka tentu saja menolak mengakui udah mengintip saya, dan mengaku sedang tidur-tiduran saja di kamar.

Kalau mereka sedang tidur-tiduran di kamar saat saya menjatuhkan kaca lobang angin, logikanya mereka akan masuk ke kamar mandi untuk melihat ada apa, kan? Bukan malah saya melihat ada bahu yang keluar dari pintu kamar mandi. Dan 2 pengecut itu tentu saja tidak berani untuk dikonfrontasi dengan saya.

Pihak hotel meminta maaf atas ketidaknyamanan ini, tapi rasa malu saya ga bisa hilang begitu saja. I was so angry, I kicked a plastic dustbin to the wall that night.

Dan hingga bertahun-tahun setelah kejadian itu, setiap kali harus mandi bukan di kamar mandi kost atau rumah (terutama di hotel atau losmen) saya punya ritual tersendiri; cek semua lobang angin, kalau ada cermin di kamar mandi saya selalu menggunakan metode sederhana ‘tempel kuku ke kaca’ untuk memastikan itu bukan cermin dua arah, membolak balik semua benda yang ada di kamar mandi, memastikan benda itu bukan kamera tersembunyi. Hingga mandi dengan kacamata tetap terpasang. Ya, saya jadi parno sendiri.

***

Kejadian kedua terjadi beberapa hari yang lalu di Cirebon. Dari awal saya dan Bulan sampai di kota ini, kami merasa kota ini kok kurang bersahabat ya… Dari mulai tukang becak yang terlalu memaksa menawarkan jasanya, padahal kami sudah dari awal menolak dengan sopan “Nggak, Pak… Terimakasih” “Nggak….” (sambil melambaikan tangan tanda menolak), sampai saya udah ga sabar dan menjawab dengan sedikit ketus “Nggak!” karena Pak Becak itu terus membuntuti kami yang mau mengambil foto stasiun, dan kami memang berniat jalan kaki saja, karena kami menginap di Hotel Amaris yang cuma 150 meter aja jaraknya dari stasiun.

WTF moment berikutnya kejadian waktu kami makan nasi jamblang di lesehan Jl Kartini. Malam itu memang sudah lewat jam 11, mungkin sudah  bukan waktunya cewe-cewe keluar cuma berdua saja. Tapi kami ‘kan baru datang dari luar kota dan lapar, apa salahnya cari makan? Sepanjang makan kami merasa tidak melakukan satu gerakan apapun yang provokatif secara seksual. Baju yang kami kenakan pun sangat sopan untuk ukuran manapun; saya pakai kaos longgar dan celana di bawah lutut, Bulan pakai celana jins panjang dan kaos lengan panjang yang gombrong, bukan longgar lagi.

Tiba-tiba, ketika kami meminta ibu penjual nasi jamblang menghitung semua yang kami makan, ada seorang om-om yang makan di sebelah kami berkata:

“Cantik, udah ga usah bayar. Om aja yang bayar…” dengan suara merayu.

Kami berdua berusaha memasang muka datar, tidak menoleh ke suara tersebut, langsung membayar dan pergi dari warung itu tenda itu tanpa menengok lagi.

Ada orang yang sungguh-sungguh harus belajar bahwa memang ada perempuan yang keluar makan hampir jam 12 malam karena MEMANG lapar, bukan mau menjajakan diri, batin saya marah.

Keesokan harinya kami mengunjungi Kraton Kanoman. Hanya sekitar 15 menit kami di tempat itu, kami memutuskan untuk pindah mencari Kraton Kasepuhan. Peta yang saya print sepertinya tidak terlalu banyak membantu, akhirnya kami bertanya ke seorang mbak-mbak yang baru pulang dari pasar. Ditunjukkannya kami gang kecil yang katanya mengarah ke Kraton Kasepuhan. Mengikuti gang tersebut, kami bertemu dengan Jl Pulasaren. Selanjutnya, gambar di peta agak meragukan apakah kami harus berjalan ke arah kiri dari gang, atau ke kanan. Tengak-tengok ga ada yang bisa ditanya, akhirnya saya mengajak Bulan masuk ke sebuah Alfamart. Membeli YouC1*** dan bertanya arah menuju Kraton Kasepuhan.

Setelah dijelaskan dengan detil oleh mas kasir yang baik hati, kami jalan lagi. Saya sambil jalan mulai minum minuman dalam botol kecil itu. Melewati sebuah kios tambal ban ada celetukan keras “eh, awas mabok, Neng!”. Saya diam saja. Saya sering jalan kaki sambil minum sesuatu di trotoar Jakarta, TANPA PERNAH dikomentari seperti itu.

Kami berjalan naik ke trotoar, 20 meter kemudian ada sebuah truk membunyikan klakson dari belakang kami. Kami menoleh, dan mendapati kernet truk yang duduk di sisi kiri mengedipkan sebelah matanya ke kami.

Kami turun lagi ke jalan karena trotoar tertutup gerobak kaki lima. Ada seorang pria berjalan kaki menyusul di belakang kami. Dia tanpa diminta berkata “Itu Kasepuhan di pertigaan depan ke kanan”, Bulan dengan sopan menjawab “Iya, terimakasih” sambil terus berjalan.

Tanpa sengaja saya menjatuhkan tutup botol minuman yang saya pegang, karena ga mau nyampah, ya saya jongkok untuk mengambil tutup botol itu. Bulan berjalan beberapa langkah meninggalkan saya, pria yang tadi belakang saya kini ada di antara saya dan Bulan.

Ketika saya bangun dari mengambil tutup botol, pria itu setengah menyodorkan pinggulnya ke muka saya dan berbisik “eh jatuh, isep dong!”

WHAT THE FUCK!!!! Did he just ask for a bl*wjob from me?

Saya mempercepat langkah menyusul Bulan.

Kejadian yang kedua ini tidak menyebabkan trauma sedalam kejadian pertama yang saya ceritakan tadi. Yes, clearly one has grown 5 years more mature 🙂 Saya yang sekarang mungkin bisa lebih dewasa menyikapi segala kemungkinan buruk yang terjadi dalam hidup.

Menghadapi street harassment atau pelecehan seksual pada umumnya, ada yang berpendapat cuekin aja, ga usah ditanggepin karena nanti malah bikin pelakunya ke-GR-an, menghabiskan waktu dan energi saja. Ada juga yang berpendapat harus dilawan, biar pelakunya kapok. Saya perpaduan antara keduanya. Kalau cuma disiul-siulin, cat calls, saya akan biarin aja walaupun gondok juga. Tapi kalau sudah berani menyebut anggota badan tertentu, atau memegang fisik, dan kejadiannya di tempat umum yang ramai, saya akan tegur. Kalau pelecehan yang lebih parah dari sekedar grepe? Saya berdoa saja semoga ga pernah kejadian.

Karena ya, unluckily, kita masih hidup di jaman di mana cara perempuan berpakaian lah yang akan lebih disalahkan, ketimbang ketidakmampuan para lelaki pinggir jalan mengatur otak mesum dan nafsu-nya.

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
6 Responses
  1. Rifqy Faiza Rahman

    Saya sangat kesal jika ada pelecehan seperti yang diceritakan njenengan. Makanya kami kalau traveling sama teman perempuan selalu dalam formasi yang mana laki-laki berposisi sebagai pengaman. Kdang-kadang di sebuah kota/daerah yang maju pun bisa lebih memalukan daripada di daerah-daerah terluar yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

    Semoga tetap tabah dan tidak kapok untuk jalan-jalan terus. Rasa parno mungkin bisa dijadikan ritual rutin melatih kewaspadaan diri 🙂

    1. Parahita Satiti

      Seneng dengernya kalau cowo ngelindungi temen jalannya yang perempuan, Rif.. Dan ya, pelecehan bisa terjadi dimanapun. Ga peduli daerahnya, asal ada orang yang berotak kotor, dimanapun bisa kejadian.

      Ga akan kapoklah kalo cuma karena dilecehin, what doesnt kill me makes me stronger! 😀

  2. Kak titi,

    Duh ngenes yah bacanya. Emang kak kalo boleh jujur hal hal seperti ini kerap juga saya jumpai kebanyakan di Indonesia. Gak tau napa kalo di LN biar pakai apapun jarang tuh saya menemukan hal seperti ini.

    Apakah emang budaya atau dasar orang2 itu saja yang otaknya gak beres? IIIhh!!

    Semoga kita selalu aman dimanapun ya kak

    Salam TBI 🙂

    1. Parahita Satiti

      Hai Kak Lenny,

      Aku selalu mencoba percaya bahwa harassment bisa terjadi dimanapun, tapi ya kok yang aku baca-baca dari beberapa blog orang yang pernah tinggal baik di Indonesia dan di luar negeri (misalnya; Inggris dan Amerika Serikat), memang seperti itulah keadaannya… sepertinya kesadaran masyarakat kita akan menghargai tubuh orang lain masih sangat rendah.

      Terimakasih sudah mampir, Kak Lenny… Salam 🙂

  3. Gemes banget ya sama laki-laki seperti itu. Saya selalu lawan, tp yg bikin gondok, mereka suka playing victim. Akhirnya kita yg dikatain belagu.
    Pokoknya kita harus lawan. Paling ga kasih tahu mereka kalau itu perbuatan kriminal

    1. Parahita Satiti

      Hai Novy, ikut sedih dengan apa yang terjadi sama kamu, ya… *peluk*

      Sepertinya jalan untuk bisa meyadarkan orang untuk tidak melakukan street harassment masih amat sangat panjang, ya.. apalagi di Indonesia yang sangat kuat budaya patriarki-nya. Ya, saya setuju. Harus dari kitanya yang melawan.

Leave a Reply