Kelenteng Sin Hin Kiong

Pelangi di Pecinan Padang

Beberapa waktu lalu, temen saya posting “thought” di Path. Intinya, dia sebagai orang Indonesia yang kebetulan keturunan Cina, bingung dengan pengucapan kata “Cina” menjadi “China [dibaca: caina]”. Kalau ada hubungannya dengan rasisme, dia juga bingung, kenapa kata Cina harus dianggap sebagai kata yang rasis.

Diakhir “thought”-nya dia nulis kira-kira begini: “bingung juga kalo disebut orang Cina, wong kampung halaman di Cina udah ga punya, gw dan orangtua lahir di Indonesia, ga bisa bahasanya juga, dan nyari makan juga di Indonesia”

And I love her thought.

Saya suka kalau kita semua bisa berpikiran seperti dia. Semua orang yang lahir, tinggal, cari makan di Indonesia, berbahasa Indonesia sehari-hari, dan cinta negeri ini, ya orang Indonesia. Ga peduli dia keturunan suku apa.

Waktu tinggal di rumah nenek di Jalan Pramuka, Klaten, hampir 50% rumah di jalan itu dihuni keturunan Tionghoa. Dan rasanya di seluruh Kota Klaten-nya, orang asli Jawa dan Tionghoa pun hampir berimbang jumlahnya. Kalau di desa-desa memang mayoritas Jawa semua.

Tapi di Klaten, kayanya sih ga ada Kelenteng, atau Pecinan. Kebanyakan warga Tionghoa beragama Kristen atau Katolik. Yang saya ingat, tahun 2000-2001, pas Imlek ada barongsai “ngamen” di pertokoan sepanjang Jalan Pemuda. Lalu nenek saya cerita, itu kesenian pernah dilarang dari tahun 70an. Ketika para pemain membuka kostum barongsainya, saya mendapati ada salah satu paklik (oom) teman saya yang orang Jawa ikut main sebagai “kaki” barongsai. Wow!

Klenteng Sin Hin Kiong Padang
Klenteng Sin Hin Kiong Padang

Suatu malam di Kota Padang, sekian tahun kemudian, saya dibuat ternganga oleh hal yang sama. Saya dan teman-teman sedang foto-foto di Kelenteng Sin Hin Kiong ketika kami mendengar alunan musik bersyair Mandarin dari Gedung HBT (Himpunan Bersatu Teguh) di seberang kelenteng.

“Ya, itu memang kegiatan rutin setiap Minggu malam di sana”, ujar penjaga kelenteng. Setelah puas mengambil gambar, kami menyebrang mendekati sumber suara. Ternyata penyanyi perempuan yang menyanyikan sekian lagu Mandarin tadi, adalah perempuan Minang berjilbab!

Dan setelah diperhatikan, ada yang unik dengan keturunan Tionghoa di Padang ini. Hampir semuanya berbicara dengan bahasa Indonesia berlogat Minang/Melayu, bahkan ketika berbicara dengan sesama keturunan Tionghoa.

Dibeberapa kawasan Pecinan di Indonesia, kan sering tuh kita temui keturunan Tionghoa yang masih berbicara bahasa Mandarin atau bahasa Cina lainnya. Ya ga ada yang salah sih dengan tetap mempertahankan bahasa ibu, sama halnya dengan saya yang juga keberatan kalau ga boleh lagi bicara bahasa Jawa, hehe… Tapi saya melihat ini sebagai salah satu “kerelaan” warga Tionghoa di Padang untuk melebur dengan tempat tinggalnya.

Band Para Sepuh di Pecinan Padang
Band Para Sepuh 😀

Saya dan Tami malam itu duduk ngelesot di pintu masuk teras Gedung HBT, menikmati lagu demi lagu yang dimainkan oleh band yang mayoritas pemain musiknya sudah sepuh. Beberapa lagu berlalu, seorang kakek yang memainkan alat musik petik berbentuk kotak, dengan dawai-dawai senar di bagian atasnya, berdiri dari tempat duduk dan menghampiri kami. Memaksa kami untuk duduk di kursi kosong yang tersedia. Dan beliau memaksa, tidak mau kembali memainkan alat musiknya sebelum kami berdua duduk di kursi. Demi menghormati beliau, kami menurut dan kembali menikmati 2 lagu lagi malam itu.

Kami lalu pamit dan melanjutkan jalan-jalan ke sudut pecinan lainnya. Di jalan yang segaris dengan jalan kelenteng Sin Hin Kiong, ke arah kelenteng lama, ada banyak gedung-gedung cantik khas Pecinan. Semua gedung dan rumahnya masih sangat terawat. Sebagian baru saja diperbarui cat dindingnya, terlihat semarak dengan warna merah, kuning, hijau, dan biru.

Baca juga: Kelana Klenteng

Wah, kalau ke sini pas ada matahari pasti seru. Di salah satu teras bangunan, ada segerombol bapak-bapak sedang ngobrol ngalor-ngidul. Kami minta ijin untuk foto-foto, dan akhirnya malah jadi ikutan ngobrol tentang gedung-gedung di sepanjang lorong itu. Salah satu yang menarik, ada gedung berusia lebih dari 150 tahun dan masih berdiri kokoh.

Malam semakin larut dan kami pun berpamitan kembali ke hotel, karena esok pagi harus melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi.

Baca juga: Bukittinggi; sebuah cerita mudik ke kampung orang

“Besok hari Senin, berangkatlah sebelum jam 5 dari sini, agar tak terjebak macet di pasar sayur Padang Panjang…” saran seorang bapak ketika kami mengucap pamit.

Indonesia sungguh indah, seperti warna warni pelangi yang menghiasi dinding-dinding Pecinan Padang ini.

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.

Leave a Reply