Danau Maninjau Rancak Bana

Patah Hati Pada Danau Maninjau

Pernahkah kamu kenalan dengan seorang lelaki atau perempuan, yang dari kesan saat berjabat tangan ia terlihat begitu memesona? Senyumnya menawan, sorot matanya cerdas, mengajakmu untuk bercakap lebih lanjut. Sambil duduk menyesap secangkir kopi hangat, mungkin?

Namun, setelah kalian berdua duduk ngobrol sambil menyesap kopi itu, baru ketahuan kalo si cowo/cewe itu ternyata jorok minta ampun. Hobi ngupil dan suka nempelin hasil “menggalinya” di sofa, misalnya. Masih mau kah kamu meneruskan obrolan?

Itulah yang saya rasakan ketika mengunjungi Danau Maninjau di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Waktu itu saya sedang dalam perjalanan kembali ke kota Padang dari kota Bukittinggi. Begitu memasuki jalan Kelok 44, saya terpesona oleh keindahan Danau Maninjau. Sontak saya dan 2 teman meminta Pak Sopir untuk menepi di sebuah warung kopi, pas di kelok nomor 43.

Inilah pemandangan yang saya nikmati:

Secangkir kopi dengan pemandangan Danau Maninjau
Secangkir kopi dengan pemandangan Danau Maninjau

Sambil minum kopi dan foto-foto, saya dan Kak Miki menyadari satu hal. Hmmm… kok ga ada tempat sampah ya? Pemilik warung itu membuang sampah bungkus kopi, makanan ringan, dll begitu saja di pojokan halam rumahnya. Ketika ditanya, jawabannya singkat: “nanti kalau sudah banyak, dibakar…”

Sampah dimana-mana
Selesai makan? Buang saja sampahnya dibelakang!

Kami melanjutkan perjalanan menuruni Kelok 44. Hampir di setiap kelok jalan berliku sejauh kurang lebih 10 kilometer itu, terdapat plang yang menunjukkan Anda sedang di kilometer berapa. Plang besar, dengan logo sebuah bank nasional yang cukup besar pula. Lalu di bawah plang tersebut berserakan setumpuk sampah juga.

Tak jarang plang penunjuk nomor kelokan bersandingan dengan plang bertuliskan Asma’ul Husna. Jika kebersihan adalah sebagian dari iman, berarti Allah Maha-Penyuka-Kebersihan? Adakah nama yang mendekati nama itu dari 99 nama kemahaan Allah?

Hingga akhirnya kami sampai di ujung Danau Maninjau, PLTA Maninjau. Kami masuk, dikenai biaya masuk IDR 5.000/orang dan mobil IDR 5.000 juga (tapi cuma dikasih karcis masuk PLTA 1 orang, dan kartu parkir 1 lembar), hanya untuk mendapati pemandangan seperti ini:

Sampah di Danau Maninjau
Sampah di sana….

Sampah di mana-mana. Di bawah pohon. Di dekat warung. Di pinggir danau. Ada tempat sampah, tapi sampah luber sampai radius 2 meter.

Saya diam terpaku di pojok danau, menyaksikan seorang ibu dengan santai membuang kertas bekas pembungkus nasi ke pojok danau.

“Kok dibuang ke sini, Bu? Kan di sana ada tempat sampah besar?”

“Ah, jauh! Orang [lain] sudah buang di sini. Saya ikut saja!” jawabnya ketus sambil berlalu.

Sudah patah hati lihat keadaan Danau Maninjau yang berubah jadi tempat sampah raksasa, tambah lagi sebel sama semua pihak yang ikut membiarkan ini terjadi.

Ya, pengunjung yang buang sampah seenaknya, ya pengelola tempat wisata yang ga bisa menjaga tempatnya tetap bersih, ya pemerintah daerah yang mendiamkan.

Shame on you!

***

Namun, begitu kekesalan saya agak terobati begitu melihat keindahan sepotong senja di Danau Singkarak. Baca juga cerita perjalanan saya yang lain saat berada di Sumatera Barat.

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
5 Responses
    1. Parahita Satiti

      Nice post, Mba Swastika.. 🙂

      Ya, ga cuma di Danau Maninjau saja, waktu ke Lobang Jepang di Bukittinggi pun keadaannya juga sama. Sampah dimana-mana. Sedih lihatnya..

    1. Parahita Satiti

      Saya pribadi sih lebih berpendapat cara masyarakat kita dalam memperlakukan sampah yang harus diubah. Dan masyarakat di sini ga cuma penduduk Sumatera Barat ya.. tapi kita semua. Harus lebih bijaksana dalam membuang sampah. 🙂

Leave a Reply