Toko Batik di Kampung Batik Kauman

Pak Becak, Toko Batik dan Buatan Tiongkok

“Mari, mbak… Naik becak ke hotel? Keliling Malioboro, Tamansari, Alun-alun? Lima ribu saja. Cari oleh-olehnya, Bakpia, Kaos Dagadu, Batik… Mau kemana?”

Sapaan ramah seperti itu pasti sudah biasa kita dengar begitu menginjakkan kaki di Stasiun Tugu ataupun Stasiun Lempuyangan. Terkadang meski kita sudah menggelengkan kepala menolak tawaran tersebut, Pak Becaknya masih ngikutin aja terus. Gigih. Ongkosnya IDR 5.000? Murah banget?!

Masa iya Pak Becak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dengan ongkos semurah itu? Hmmm.. sudah bukan rahasia lagi sih kalau para penarik becak di kawasan wisata di Jogja tidak mengandalkan pendapatan hanya dari ongkos penumpang saja, melainkan dari tips yang diberikan toko oleh-oleh, toko batik, dll, jika berhasil membawa wisatawan berbelanja.

Kalau di Jogja trik mendapatkan pembeli oleh-oleh melalui Pak Becak sudah sangat kelihatan, di Solo saya belum merasakan “serangan” yang semasif Pak Becak di Stasiun Tugu, misalnya. Pada hari kami keliling kota Solo, Pak Mul, sama sekali ga pernah nawarin untuk cari oleh-oleh di toko A atau B.

Beliau membebaskan kami menuju ke manapun. Paling hanya menyarankan kami ke Kampung Batik Kauman saja ketika kami bingung antara mau ke Kauman atau Laweyan. Mungkin dengan pertimbangan Kauman lebih dekat dengan posisi kami saat itu, Pura Mangkunegaran. Sesampainya di Kampung Batik Kauman pun, Pak Mul hanya menyarankan kami belanja di Toko Batik Gunawan.

Baca juga: Lambaian kain di Kampung Batik Laweyan

Perkiraan saya sih, karena toko batik ini yang paling besar, dan koleksi batiknya memang lumayan bagus (dan mahal, karena hampir semuanya batik tulis). Soal apakah Pak Mul dapat persenan dari belanjaan kami Bulan, entahlah… Kalaupun iya, kami ya ndak keberatan. Toh, Pak Mul juga ga memaksa kami untuk hanya belanja di situ saja.

Trik untuk menarik pembeli dengan cara semacam itu meskipun kadang genggeus juga, saya masih menganggap wajar. Jaman sekarang persaingan usaha batik makin berat. Bukan hanya dari sesama pengrajin batik di Indonesia, batik made in China pun merajalela di pasaran. Dan pastinya, apa saja yang buatan Tiongkok, dari harganya kita tidak bisa melawan. Kalau soal kualitas, sejelek-jeleknya produksi para pengrajin batik di Indonesia, masih jauh lebih bagus dari kain massal buatan Tiongkok-lah.

Ada kekhawatiran beberapa orang, tren kecintaan akan batik yang cenderung meningkat akhir-akhir ini, justru dinikmati hasilnya oleh pabrik kain Tiongkok, bahkan Thailand. Pengrajin batik Indonesia, ya tetap gitu-gitu aja pendapatannya. Karena Masyarakat menengah kebawah mungkin akan lebih memilih membeli batik seharga IDR 50.000 sudah jadi kemeja/rok, dibanding selembar kain batik seharga IDR 100.000, misalnya.

Tapi, beneran deh… kain batik produksi pengrajin tanah air tuh ga bisa dibandingin dengan batik printing pabrikan manapun. Cobalah sesekali jalan-jalan ke Pusat Batik Nusantara di Thamrin City. Beragam batik dari seluruh penjuru Indonesia ada di sana. Mulai dari batik cap, batik cap kombinasi tulis, sampai batik tulis yang njelimet motifnya, lengkap. Bahkan yang batik cap dengan harga sekitar IDR 125.000 pun kerennya udah 10x lipat batik printing, kalau menurut saya. Apalagi kalau membandingkan batik printing dengan batik tulis.

Baca juga: Batik, si Intangible Cultural Heritage of Humanity dari Indonesia

Itu baru di Thamrin City ya… kalau lihat kain batik di sentra kerajinan batik seperti Kampung Batik Kauman, Laweyan, Trusmi, Ngasem, Palbatu, dijamin kita akan jatuh cinta dengan salah satu warisan budaya bangsa Indonesia ini.

Saya pribadi, tidak akan terganggu dengan cara toko batik (dan oleh-oleh lainnya) yang mencoba bertahan dari serangan harga murah batik China dengan memakai metode “Bujukan Pak Becak”. Dan sebisa mungkin membeli batik hanya yang buatan pengrajin Indonesia, meskipun baru tega ngeluarin uang untuk beli batik sekelas batik cap kombinasi tulis. Kalau batik tulis beneran, nunggu dikasih warisan kain-kain batik Mbah Putri aja deh.

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
9 Responses
  1. jadi, gimana rasanya diserang pak becak di stasiun tugu?
    #eh
    #salahfokus

    dulu jaman kuliah di solo, sering main ke batik gunawan setiawan. jadi kangen pengen main ke kauman lagi. pagi-pagi banyak simbok2 yang jual nasi liwet enaks disekitaran kauman!

    1. Parahita Satiti

      Rasanya? hmmmm… serang aku, pak! :p *lalu pak becak-nya gilo dhewe*

      Waaah, pas aku ke Kauman itu siang hari bolong, ga ketemu simbok pedagang nasi liwet 🙁

    1. Parahita Satiti

      Mungkin tawaran tergantung tampang, kak… Kak Bolang kan emang masih terlihat remaja [pada masanya], jadi ditawarinnya abegeh 😛

Leave a Reply