Packing sehari-hari

Makin Tua, Makin Ribet Packing?

Saya pernah baca tapi lupa di buku apa, kemampuan seseorang dalam berkemas (packing) untuk sebuah perjalanan mencerminkan bagaimana orang itu menyimpan ingatan dalam memorinya. Ia yang bisa berkemas dengan ringkas adalah orang-orang yang tak banyak menyimpan printilan kenangan yang tak penting. Mereka yang pergi keluar rumah dengan membawa segala macam gembolan, kemungkinan memorinya penuh keribetan juga.

Mungkin ini sebuah generalisasi, ya….

Tapi saya menyadari sesuatu; semakin saya bertambah usia, maka setiap kali pergi jalan-jalan bawaan saya makin ribet. Jaman kuliah dulu saya pergi kemana-mana dan berapa hari pun, cuma pake tas Jansport. Isinya; kaos sejumlah hari bepergian (yang biasanya tak lebih dari 7 hari), selembar celana panjang cadangan, satu pasang baju tidur, underwear, 1 lembar kain pantai, dan alat mandi dalam ukuran mini.

Dan rasanya, dengan barang bawaan seringkas itu, perjalanan saya tetap menyenangkan.

Di usia 29 tahun (tahun 2013) saya bisa jalan-jalan 5 hari ke Banda Aceh dan Pulau Weh hanya dengan sebuah backpack bervolume 26 liter. Baju, alat mandi (dan alat dandan, karena saya mulai genit) sampai ke kaki katak, snorkel dan masker masuk semua ke dalam tas itu. Waktu ditimbang di bandara tas saya cuma 9 kilogram, salah satu yang paling enteng diantara teman-teman seperjalanan.

Packing sehari-hari
Barang bawaan saya sehari-hari kalau ngantor. Masih cukup ringkes, kan?

Sekarang ini, dengan tas yang sama, saya cuma mau pergi selama akhir pekan saja tasnya sudah penuh! Minggu lalu saya pergi ke Cibeo, sebuah perkampungan Suku Baduy Dalam di pelosok Kabupaten Rangkasbitung. Backpack 26 liter saya penuh sampai matras alas tidur harus ditaruh di luar. Memang sih hampir setengah dari isi tas itu adalah bahan makanan dan sekedar oleh-oleh untuk tuan rumah yang saya inapi di sana, tapi saya tetap ga ngerti dengan barang bawaan saya sendiri.

Ini bukan pertama kali saya pergi ke Baduy Dalam, jadi harusnya saya tahu apa yanh seharusnya dibawa dan ditinggal saja. Saya tahu di kampung Baduy Dalam kita tidak diijinkan mandi di sungai dengan menggunakan sabun mandi, shampoo dan pasta gigi. But, I brought them anyway! Hanya karena saya tahu, saya bisa menumpang mandi di toilet umum yang ada di Cijahe. Padahal ga usah mandi juga ga apa-apa, tunggu aja mandi di rumah kalau sudah sampai.

Karena saya tahu saya bisa menumpang mandi, saya bawa extra baju bersih untuk ganti. Padahal, selama saya pakai deodorant, saya tidak perlu khawatir dengan kaos yang basah oleh keringat. Biarkan saja kering terkena angin, orang lain yang duduk di samping saya ga akan terganggu oleh aroma keringat.

Saya bawa jas hujan karena takut jika hujan turun kamera dan barang-barang elektronik lainnya di dalam ransel akan basah dan rusak. Padahal sudah bawa dry bag juga.

Repot ya?

Mungkin sudah saatnya saya belajar kembali kesederhanaan berkemas yang dulu pernah saya kuasai waktu muda. Bertambah usia seharusnya semakin bijaksana dalam berkemas.

28 Days Writing Challenge

Day 2: What’s In Your Bag

Seorang teman menantang saya untuk melakukan 28-Days Writing Challenge di blog ini. Aturannya sederhana; setiap hari dia akan meberikan sebuah tema dan saya harus menulis sebuah tulisan pendek (tidak lebih dari 500 kata) dari tema tersebut.

Baca semua artikel 28-Days Writing Challenge!

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
4 Responses
  1. Gue sih yang berubah paling dari ransel ke koper. Itu juga kalo business trip doang. Ke Jepang 10 hari bawa koper cabin size. Jas sama winter jacket ditenteng. Ribet bawa banyak2 hahaha

    1. Parahita Satiti

      Nah, gw kayanya juga akan mulai memikirkan bawa koper cabin size kalo perginya naik pesawat atau kereta api, Bang Ben. Tapi lo jago, Bang. 10 hari cuma bawa cabin size, hihi…

Leave a Reply