Museum Gedung Perjanjian Linggarjati

Museum Gedung Perjanjian Linggarjati

Saat saya melangkah memasuki Museum Gedung Perundingan Linggarjati, saya sedikit teringat akan pelajaran jaman SMP, tentang apa yang diajarkan oleh guru sejarah saya mengenai Perundingan Linggarjati.

Seingat saya, Perjanjian Linggarjati adalah hasil dari perundingan antara pihak Indonesia yang diwakili oleh perdana menteri Sutan Sjahrir dan pihak Belanda dengan Wim Schermerhorn sebagai kepala delegasi. Lord Killearn dari Inggris bertugas sebagai moderator yang menengahi jalannya perundingan.

Guru sejarah saya dulu bilang, hasil perundingan ini sebenarnya merugikan Indonesia karena Belanda hanya mengakui Indonesia berkuasa atas wilayah Jawa dan Madura saja. Dan oleh sebab itu, Republik Indonesia (yang hanya terdiri atas Jawa dan Madura) harus membentuk Republik Indonesia Serikat dengan daerah-daerah lainnya di Hindia Belanda, dan bergabung dalam Persemakmuran Indonesia-Belanda dengan ratu Belanda sebagai pemimpinnya.

Ruang tempat berlangsungnya perundingan Linggarjati
Ruang tempat berlangsungnya perundingan Linggarjati

Pada saat itu, banyak partai politik di Indonesia yang tidak setuju dengan hasil Perundingan Linggarjati. Partai Masyumi, PNI, Partai Rakyat Jelata dan Partai Rakyat Indonesia adalah beberapa partai yang keras menolak hasil perundingan ini. Mereka berpendapat Perundingan Linggarjati adalah bukti kegagalan pemerintah mempertahankan kedaulatan wilayah Republik Indonesia.

Lorong di Museum Linggarjati
Lorong menuju kamar-kamar peserta perundingan

Namun dampak politis di luar negeri yang ditimbulkan dari Perjanjian Linggarjati ini jauh berharga dibandingkan pengakuan atas wilayah saja. Dengan Perjanjian Linggarjati ini, negara-negara seperti Palestina, Mesir, Inggris dan Amerika Serikat mengakui kedaulatan bangsa Indonesia.

Jika kita mengenal Sutan Sjahrir, kita tahu mengapa beliau mau menandatangani perjanjian ini. Bagi beliau, perjuangan untuk memperoleh kedaulatan harus dilakukan dengan cara damai dan pendekatan moral yang terpuji.

Sofa di depan kamar Delegasi Belanda
Sofa di depan kamar Delegasi Belanda

Melihat foto Sutan Sjahrir duduk sejajar di sebuah sofa dengan Wim Schermerhorn menandatangani hasil perundingan, adalah suatu pemandangan yang mungkin tak pernah terbayangkan pada masa itu. Akhirnya bangsa Indonesia bisa duduk sejajar dengan penjajahnya, menandatangani hasil perundingan; sebuah perjuangan untuk merdeka tanpa pertempuran dan pertumpahan darah.

Walaupun pada akhirnya pihak Belanda mengingkari isi Perjanjian Linggarjati. Salah satu anggota delegasi Belanda di perundingan Linggarjati, Jenderal Van Mook, pada tanggal 20 Juli 1947 menyatakan Belanda tidak lagi terikat dengan hasil perjanjian. Lalu keesokan harinya, tanggal 21 Juli 1947 meletuslah Agresi Militer Belanda I.

Bagian samping museum gedung perjanjian Linggarjati
Bagian samping museum gedung perjanjian Linggarjati

Sebelum digunakan sebagai tempat perundingan Linggarjati, gedung ini adalah sebuah hotel. Lokasinya yang terletak di lereng Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan memang sangat pas sebagai tempat berlibur. Waktu saya berkunjung ke sana saja (Oktober 2016) udara sejuk masih sangat terasa, apalagi pada tahun 1946, tentunya tempat ini sangat pas dijadikan sebagai tempat perundingan.

Jika berkunjung ke Museum Gedung Perundingan Linggarjati, kita masih bisa melihat replika perabot yang digunakan pada masa itu. Ya, sayangnya hanya replika karena perabot yang asli sudah hilang entah kemana. Namun perabot-perabot replika tersebut masih disusun sesuai dengan situasi pada tanggal 11-12 November 1946.

Secara umum kondisi museum ini cukup bersih dan terawat. Yang saya agak sayangkan, kasur-kasur di kamar yang dulu digunakan sebagai tempat tidur delegasi Belanda, tidak dipasangi sprei dan sarung bantal. Atau memang jaman dulu ga pakai sprei?

Kamar tidur delegasi Belanda di Museum Gedung Perjanjian Linggarjati
Kamar tidur delegasi Belanda di Museum Gedung Perjanjian Linggarjati

Kalau kamu lagi jalan-jalan ke Kabupaten Kuningan atau Cirebon, sangat saya sarankan untuk mengunjungi Museum Gedung Perundingan Linggarjati ini. Setelahnya, kamu bisa jalan-jalan di kaki gunung Ciremai yang sejuk. Atau kamu bisa ikuti itinerary yang dulu kami jalani pas jalan-jalan ke sana.

Beberapa foto di postingan ini adalah milik teman saya Bang Bernard.

28 Days Writing Challenge

Day 9: Museum

Seorang teman menantang saya untuk melakukan 28-Days Writing Challenge di blog ini. Aturannya sederhana; setiap hari dia akan meberikan sebuah tema dan saya harus menulis sebuah tulisan pendek (tidak lebih dari 500 kata) dari tema tersebut.

Baca semua artikel 28-Days Writing Challenge!

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
2 Responses
  1. Wah saya ingin banget ke museum ini. Beberapa kali sudah ada outing kantor di kawasan dekat sana namun belum sempat tandang ke Linggarjati padahal lokasinya lumayan dekat. Namanya kawasan dekat gunung memang pasti jadi tempat tetirah yang sip, hanya saja khusus yang ini dapat tambahan cerita sejarah yang sangat menentukan perjuangan bangsa. Gedungnya tampak bersih dan terawat, bagus sekali.

Leave a Reply