Search
Search

Moo Baan Chon Pao Kampung Long Neck di Pattaya

perempuan suku Karen

Kalau bukan karena outing kantor, rasanya saya nggak akan bisa sampai ke Moo Baan Chon Pao. Sebuah ‘desa’ di pojokan Pattaya yang berisi perkampungan beberapa suku di Thailand. Kenapa saya tulis desa dalam tanda kutip, karena sebenarnya Moo Baan Chon Pao adalah desa buatan. Desa yang sengaja dibuat untuk tujuan pariwisata aja.  Kenapa nggak bakal sampai? Karena desa ini letaknya lumayan jauh dari pusat kota Pattaya, sekitar 20 menit kalau naik bus tour. Buat saya yang biasanya kalau traveling sukanya jalan kaki aja di dalam kota, ini tuh jauh banget, hehehe. Sebelum sampai ke tempat ini, saya iseng nanya ke tour guide lokal yang menemani kami; Moo Baan Chon Pao ini tempat apa? Sekilas dia menjelaskan kalau ini tuh semacam desa tempat tinggal warga suku long neck di Pattaya. Saya sedikit agak mengernyitkan dahi waktu dengar jawabannya. Setahu saya, kalau suku long neck yang dia maksud adalah suku Karen, bukannya mereka tinggal di bagian utara Thailand yang berbatasan dengan Myanmar, ya?

Moo Baan Chon Pao

Hmmm.. mungkin ini suku long neck yang berbeda, batin saya kemudian.

Moo Baan Chon Pao

Rombongan outing kantor saya sampai di Moo Baan Chon Pao pas tengah hari bolong. Bus kami parkir di lapangan persis di depan gerbang masuk desa. Rupanya saat itu (October 2019) adalah low season di Pattaya. Saat high season konon seluruh lapangan parkir itu akan terisi bus pariwisata dan mobil-mobil turis. Saya nggak tahu harga tiket masuk ke sana berapa saat itu, karena kan kalau outing kantor gitu semua yang ngurusin dari tour guide-nya. Hasil browsing di market place saat ini sih (10 April 2020), ada yang jual sekitar IDR 140.000 per orang dewasa, anak-anak dengan tinggi badan kurang dari 90 cm gratis. Baca di blog lain ada yang bilang tiket masuknya THB 400 untuk turis asing dan THB 100 kalau kamu punya SIM Thailand. Agak pricey sih kalau harus bayar segitu untuk apa yang akan kita dapatkan nanti di dalam sana, menurut saya.

suku karen

Setelah melewati gerbang depan dan berjalan kurang lebih 50 meter, kami diarahkan berbelok ke kiri, lalu ke kanan dan masuk ke sebuah lorong kampung dengan deretan rumah-rumah terbuat dari bambu. Deretan rumah itu nampak seragam; di setiap terasnya ada satu set alat tenun dengan perempuan muda yang sedang menenun. Beberapa ditemani anak balita yang sibuk gelendotan di punggung ibunya, asumsi saya. Di depan perempuan yang sedang menennun itu tergantung aneka warna kain hasil tenunan dan rajutan. Ada kain panjang, ada juga syal dan baju-baju lainnya.

Perempuan muda dan anak-anak itu memakai sesuatu yang khas di leher dan kaki mereka; kalung tembaga raksasa yang ‘memaksa’ leher dan kaki mereka tumbuh panjang melebihi ukuran leher dan tungkai manusia normal.

kain suku karen

Dan benar, mereka adalah warga suku Karen yang berasal dari bagian utara Thailand. Mereka ikut dalam semacam program transmigrasi pariwisata yang dicanangkan pemerintah Thailand pada tahun 2016. Di tempat asalnya kehidupan mereka bisa dibilang berkekurangan secara finansial. Mereka tinggal di tempat terpencil, lebih dekat ke Myanmar, tapi mereka tidak bisa bersekolah dan berbisnis di sana. Dimusuhi lah istilahnya. Akhirnya beberapa keluarga muda memutuskan ikut program pemerintah ini dan memulai hidup baru di Moo Baan Chon Pao.

 

“Lebih enak di sini?” tanya saya ke mbak yang rumahnya kami datangi dengan perantara tour guide kami sebagai penerjemah.

“Di sini kami bisa cari uang, tapi kalau enak ya tentu lebih nyaman tinggal di kampung sendiri.” Jawabnya.

Saya memaklumi. Memang terkadang uang tidak bisa menggantikan rumah kan, ya?

Sebenarnya di desa Moo Baan Chon Pao ada beberapa perkampungan suku lain juga, seperti; suku Lisu, suku Akha, dan suku Paulong yang terkenal dengan gigi dan bibirnya yang berwarna hitam. Sayangnya, ya itu tadi karena sedang low season, maka penduduk-penduduk kampung lebih memilih untuk mengolah lahan pertanian yang ada di belakang desa. Dan di siang hari bolong seperti waktu kami datang, kebanyakan mereka lebih memilih untuk tidur siang, menyimpan tenaga untuk bekerja kembali di ladang di sore hari.

kain suku karen

Jika tidak dalam low-season, setiap perkampungan akan menyajikan atraksi-atraksi khas suku mereka masing-masing. Pengunjung bebas untuk menyaksikan pertunjukan yang diinginkan. Setiap suku memiliki beberapa pertunjukan setiap harinya. Selain itu pengunjung bisa juga menyewa kostum tradisional untuk berfoto, main panahan dan permainan tradisional lainnya, juga jajan-jalan kuliner tradisional. Karena tidak ada pertunjukan apapun hari itu, akhirnya kami hanya berfoto bersama mbak-mbak penenun tadi. Mereka tidak mematok tarif khusus untuk diajak foto bareng, hanya mereka berharap kita mau membeli hasil tenunan mereka. Tidak beli pun nggak papa, palingan kita ngasih sedikit uang tip untuk mereka. Dua puluh baht pun mereka terima.

Moo Baan Chon Pao

Inilah kenapa tadi saya bilang agak pricey ya kalau musti bayar tiket masuk THB 400 sementara di dalam sedang tidak ada atraksi apapun. Jadi, kalau kamu tertarik untuk datang ke sini pas main ke Pattaya, pastikan kamu datang di saat high-season, ya. Biar bisa ngerasain banyak keseruan di dalam ‘desa’ ini.

Written by
Parahita Satiti
Join the discussion

About me

 

Parahita Satiti; suka jalan-jalan dan bercerita. Makanya dia bikin blog ini. Kalau mau tanya/ngobrol/kerjasama dia bisa dihubungi lewat email: [email protected]

Member of

Travel Blogger Indonesia