merah putih

Mendaki Puncak Gunung Merbabu; Pengalaman yang Bikin Kapok Lombok!

Usai menyantap makan malam, saya segera mencari posisi paling nyaman di dalam tenda dan menggelar sleeping bag. Jelas, saya tidak mau tidur di bagian pinggir, karena di posisi itu biasanya udara dingin gunung dan angin paling terasa. Indra lalu membantu menutup resleting sleeping bag hingga ke leher. Saya menghiraukan ledekan Wira dan Santi tentang teori aklimatisasi yang tadi sore saya lontarkan.

“Katiti, ini bintangnya mulai muncul, lho! Cakep banget!” kata Wira dari luar tenda.

“Bodo amaaaaaattttt….” sahut saya dengan nada bercanda tentu saja.

Setelah menghabiskan hampir 6 jam berjalan kaki dari basecamp Selo hingga Sabana 1, rasanya betis saya udah nyut-nyutan. Belum lagi dinginnya malam dan angin yang terus datang menderu-deru di Sabana 1 malam itu, membuat saya hanya ingin menghangatkan diri di dalam sleeping bag. Diam terbungkus rapat dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kalau bisa cuma lubang hidung saja yang terbuka untuk menghirup udara.

“Mungkin inilah definisi tua bagi para pendaki” batin saya sebelum akhirnya jatuh tertidur.

sunset di sabana 1
Cakep ya sunset di Sabana 1 ini?
sunrise di merbabu
Sunrise di Sabana 1 pun tak kalah memukau!

Keputusan untuk membuka tenda di Sabana 1 Gunung Merbabu kami rasa adalah keputusan yang sangat tepat. Di sini kami bisa melihat pemandangan matahari tenggelam dan terbit tanpa halangan apapun, dan kata Mas Burhan, angin di Sabana 1 relatif lebih sedikit dibanding di Sabana 2, apalagi dibandingkan jika kami memilih nge-camp di dekat-dekat puncak.

sunset di merbabu
Here’s to another 35 year ahead! Ini sunset terakhir saya diumur 34.

Sebelum makan malam, saya sempat menghabiskan waktu sebentar untuk berfoto dengan background matahari tenggelam di ufuk barat. Saya bisa bilang, ini adalah salah satu momen sunset terbaik yang pernah saya lihat. Gumpalan awan putih menutupi kaki gunung, lalu perlahan-lahan langit mulai menggelap, menyisakan sebaris warna jingga di horizon. Garis jingga itu tak lama berganti warna menjadi ungu, dan tak lama kemudian menghitam.

Akhirnya Muncak Juga!

Keesokan paginya saya terbangun sekitar pukul 05.30, sudah terlalu siang sebenarnya jika kami ingin ke puncak. Karena untuk menuju puncak Merbabu dari Sabana 1 itu dibutuhkan sekitar 2 jam mendaki, biasanya para pendaki mulai berjalan lagi sekitar pukul 5 dini hari, atau lebih pagi lagi jika ingin menyaksikan sunrise dari puncak Merbabu.

Saya, Santi, Wira dan Indra bukanlah pendaki ambisius yang punya target harus muncak pukul sekian atau harus lihat sunrise di puncak. Bisa bangun pagi untuk lihat matahari terbit dari Sabana 1 saja sudah prestasi besar buat saya. Ya, pagi itu angin bertiup cukup kencang di sana, bikin saya makin posesif sama sleeping bag. Indra dan Wira sudah keluar dari tenda sejak lama. Sementara saya? Harus dikasih segelas susu dan seplastik koko crunch dulu, baru bisa dirayu untuk keluar tenda.

sabana 2 merbabu
Baru sampai di Sabana 2, nih.. udah keringetan tapi belum capek 😀

Meski sudah sedikit kesiangan, tapi akhirnya kami memutuskan muncak juga pagi itu. Saya memutuskan mau muncak karena “ya masa udah sampai sini ga dilanjutin, sih..”. Semetara bagi Santi ini adalah pendakian ke Merbabu yang ketiga. Pendakian yang pertama dan kedua, dia ga sampai puncak, kalau sekarang nggak muncak lagi bisa-bisa dia saya kasih piring cantik. Indra, pasti sudah diwanti-wanti ibunya (tante saya) untuk jagain saya. Jadi kemana pun saya pergi dia pasti ikut. Tinggal Wira yang sebenernya lebih pengen foto-foto di Sabana 1, tapi akhirnya mau muncak juga karena nggak mau diceng-cengin “iiih, nggak sampai puncak!” sama saya.

“Ya kalau nggak ada yang sakit, kenapa nggak muncak?” tantang Mas Burhan pagi itu.

Jadi berangkatlah kami meninggalkan Sabana 1 untuk menuju puncak Merbabu.

puncak gunung merbabu
Kelihatan nggak kalau udah mau ngambek di sini?

Meninggalkan Sabana 1 kami langsung disambut tanjakan menuju Sabana 2. Tanjakannya tidak seekstrim “tanjakan setan” kemarin, namun lumayan tinggi juga untuk didaki pagi-pagi. Beberapa kali saya minta time-out untuk istirahat barang satu atau dua menit. Sekitar empat puluh menit kemudian, sampailah kami di Sabana 2. Untungnya, karena masih banyak sisa embun di pagi hari, jalanan setapak yang kami lewati tidak terlalu berdebu seperti kemarin. Meninggalkan Sabana 2 kami makin banyak bertemu dengan pendaki lain yang turun dari puncak. Beberapa kali kami saling bertukar salam dan menyemangati satu sama lain.

bunga edelweiss
Bunga Edelweiss di Sabana 2 Gunung Merbabu, cantik ya!

Entah benar atau ini hanya perasaan saya saja, pada waktu saya mendaki ini, saya jarang sekali melihat pendaki yang seumuran dengan saya. Kebanyakan anak muda sekitar umur belasan tahun (usia SMP-SMA), paling tua sepertinya sekitar umur awal dua puluhan. Dan entah ada hubungannya dengan umur atau tidak, saya merasa pendaki muda ini beberapa orang masih sangat sembrono. Misalnya; turun gunung dengan berlari (duh, jantung saya rasanya mencelos saat melihat satu orang pendaki berlari lalu kehilangan keseimbangan, lalu terjatuh dan nggelinding! untung ia masih sempat pegangan pada tumbuhan perdu sebelum jatuh makin jauh), belum lagi yang muncak hanya dengan beralaskan sendal jepit karet, atau tidak membawa perbekalan yang cukup.

Mungkin pendaki yang begini mikirnya; ah, ngapain repot-repot pakai sepatu, berat-berat bawa minum, bawa kotak P3K segala ke puncak, toh ke puncak cuma 2 jam dari camp.

Sungguh saya tak ingin ngajarin apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak, wong saya juga cuma pendaki amatiran yang nggak berani pergi ke gunung kalau nggak ada guide-nya. Pas lihat pendaki yang kepleset tadi saya cuma mbatin; semoga setelah ini dia diberi kebijaksanaan untuk semakin berhati-hati.

Dua setengah jam berlalu akhirnya kami sampai di puncak Kenteng Songo, salah satu dari tiga puncak tertinggi gunung Merbabu. Lebih lama 30 menit dari waktu perkiraan yang hanya dua jam saja. Ini adalah puncak gunung pertama yang saya capai dengan gembira. Tahun lalu sebenernya saya udah pernah muncak di gunung Prau, namun berhubung waktu muncaknya malam hari (i don’t quite enjoy night trekking, by the way) jadi ya rasanya biasa-biasa aja pas sampai puncak. Beda dengan pas sampai di puncak Merbabu ini. Rasanya seneng banget bisa lihat pemandangan gunung-gunung lain yang mengelilingi Merbabu; Merapi, Lawu, Sindoro, Sumbing, Telomoyo, Ungaran, Andong!

puncak kenteng songo
Akhirnya sampai juga di puncak Kenteng Songo, Gunung Merbabu.

Pic by: Wira Nurmansyah

Setelah kemarin jalan kaki enam jam, hampir menyerah menghadapi tanjakan setan, lalu disambung jalan kaki lagi 2.5 jam yang sama sekali tidak lebih mudah dibanding kemarin, akhirnya semua terbayar lunas oleh pemandangan indah di puncak.

Turun gunung adalah perkara lain yang tak kalah susah.

Saat naik di tanjakan setan saya sudah sempat berkata dalam hati “ini besok turunnya gimana, ya?” Hati yang sebelah lagi ngasih jawaban “ya besok dipikirin besok aja…”

Lalu besok jadi hari ini. Mau nggak mau saya musti turun gunung; pertama dari puncak menuju camp di Sabana 1, dilanjutkan dengan dari Sabana 1 menuju base camp. Teori yang dilontarkan Mas Burhan sih gampang; dari puncak kembali ke Sabana 1 itu cuma butuh satu jam saja, dan biasanya dari Sabana 1 ke basecamp orang butuh tiga hingga empat jam.

Sabana 1 dari atas Sabana 2
Tempat kami kemah di gunung Merbabu

Prakteknya? Saya dan Santi butuh sekitar 1.5 jam untuk kembali ke Sabana 1, Wira dan Indra sudah jalan duluan karena mungkin nggak sabar nungguin duo mbak-mbak yang kelewat berhati-hati ini. Kami berdua boro-boro mau lari turun gunung, jalan kaki aja pelan banget. Setiap turunan kami nikmati pelan-pelan; kalau kira-kira ada turunan yang terlalu tinggi untuk diraih dengan kaki lurus, ya kami jongkok.

Di tanjakan setan lebih parah lagi, saya hampir sepanjang jalur itu bergantung pada pegangan tangan Mas Burhan dan tali webbing yang ia bawa. Entah apa jadinya jika nggak ada tali yang dibawa Mas Burhan. Karena selain nyali yang minim, sepertinya ada yang salah dengan cara saya berdiri saat di tanjakan. Wira berkali-kali bilang untuk “Tegakin badan, Kak! Jangan condong ke depan, nanti kamu lebih gampang nyusruk.”, sampai ransel saya pun di-set ulang talinya sama dia, tapi tetap saja rasanya ada yang salah dengan cara saya berdiri.

gunung merapi
Gagahnya gunung Merapi ini sungguh keterlaluan

Kalau turun gunung dengan cara berlari risikonya adalah jatuh terpeleset, maka turun gunung dengan jalan pelan-pelan kaya saya gini risikonya otot paha dan dengkul lebih cepat sakit. Di Pos 3 selepas tanjakan setan, paha saya sudah tak karuan rasanya tapi masih tertutup excitement sudah berhasil lepas dari tanjakan setan. Begitu turun di tanjakan menuju Pos 2, rasanya udah beneran nggak karuan. Apalagi pas ketemu turunan di tanjakan macan. Hauuuh! Itu rasanya kaya dicubitin ke segala arah.

Kalau pas naik saya gembira betul ketemu Sabana 1, maka pas turun saya rasanya bahagia sekali ketemu Pos 1.

The last 600 meters was the hardest.

Dari Pos 1 ke pintu Taman Nasional Gunung Merbabu itu jaraknya kurang dari 2 kilometer, nggak sampai 2000 meter. Di Jakarta, jalan kaki di antara dua halte busway (kira-kira 2 km) itu gancil bangetlah buat saya. Tapi kemarin di Merbabu, itu rasanya dua kilometer terjauh dan terlama yang pernah saya lalui. Kayanya udah habis 2 lagu saya nyanyikan dalam hati, tapi 1 hektometer aja ternyata belum berlalu. Udah ngobrol sama Santi sampai kami berdua nggak terpaku lagi sama berapa hektometer yang masih tersisa, ternyata kami baru jalan 300 meter.

Kan kesel!

Mana paha, dengkul, betis, telapak kaki rasanya udah nggak karuan.

Mas Burhan mencoba menghibur kami dengan kalimat “Tenang, turunannya udah habis, kok! Ayo semangaatt!”

puncak cuma bonus
Ini kalau di deketin, masih ada sisa-sisa air mata di pipi saya.

Little did he know, saya tuh paling nggak bisa dijanjiin dengan kata-kata penghiburan macam gitu. Apalagi kalau di depan ternyata masih ada turunan kecil (kecil banget! sesungguhnya nggak sampai lima meter panjangnya, itupun miringnya ya nggak ada apa-apanya dibanding turunan-turunan sebelumnya.) Jadi lah saya sukses ngambek pake keluar sedikit air mata dan bilang “Katanya udah nggak ada turunan lagi! Pokoknya dari pintu gerbang ke rumah Pak Parman aku mau naik ojek!”

Sekarang malu sendiri sih kalau inget. D’oh!

Setelah lima jam berlalu, sekitar pukul 17.30 kami sampai di basecamp rumah Pak Parman. Sambil menikmati semangkok mie instan rebus pakai cabe rawit yang pedasnya minta ampun, saya berjanji untuk nggak naik gunung lagi. Kapok. Kapok lombok.

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
4 Responses
  1. Kapok lombok emang naik gunung itu wkwkwkw.
    Buatku juga paling susah turun sih, bisa bisa lutut bergetar karena jadi tumpuan.
    Meski baru skali naik gunung juga wkwkwk

    1. Kapok tapi besok diulangi lagi ya, Lant? Hahahaha…

      Aku dengkul nggak terlalu sakit sih, tapi otot-otot paha itu rasanya pedes minta ampun. Setiap langkah rasanya kaya lagi dicubitin dari segala arah, tapi kalau nggak terus melangkah ya kapan sampainya ‘kan. Serba salah 😀

  2. kalau ingat merbabu, jadi ingat almarhum teman euy. dulu kita berempat cewe semua dan nanjak lewat jalur wekas. Disana dia nyeletuk, “nanti kita kesini lagi pas sudah punya anak yaa. kita naik bareng lagi sama anak2 kita yang cewe”. Takdir berkata lain, dia meninggal satu bulan setelah melahirkan anak pertama.

    Rasanya ingin kesini lagi suatu saat nanti, sekedar bernostalgia bersama kenangannya.

    Btw, kapok naik gunung biasanya cuma berlaku satu bulan sih. setelahnya mah diajakin nanjak pasti mau lagi. hehehe.

    1. Duh, ya ampun… ikut sedih denger cerita tentang temanmu, Endah.

      Eh tapi tetep bisa lho impian sama almarhum temen mu diwujudkan. Kamu sama 2 temen mu bisa tuh ajak anak temen mu mengenang perjalanan kalian dengan mamanya.

      Aku, sejauh ini, 3 minggu habis nanjak Merbabu ini masih bisa bilang “nggak ah, kapok…” kalau ada yang nawarin naik gunung lagi. Nggak tau deh seminggu lagi, hehehehe..

Leave a Reply

%d bloggers like this: