Selfie di pasar semarangan

Malam Mingguan di Pasar Semarangan Tinjomoyo

Salah satu agenda di itinerary Famtrip Blogger Semarang Hebat 2018 kemarin adalah mengunjungi Pasar Semarangan Tinjomoyo. Apa sih Pasar Semarangan itu? Ini adalah sebuah tempat pasar kreatif yang dibangun oleh pemerintah kota Semarang sebagai destinasi wisata baru di kota ini. Di sana selain ada penjual makanan-makanan khas kota Semarang, pengunjung juga bisa nongkrong-nongkrong sambil melihat pertunjukan musik, jagongan (ngobrol) dengan sedulur dan kawan-kawan, atau sekedar ngeceng aja, kalau kata anak Jakarta.

BNI Tapcash
Cuma bisa bayar pakai kartu BNI Tapcash dan aplikasi YAP di Pasar Semarangan Tinjomoyo

Foto: www.mysweetescapediary.com

Uniknya lagi, pembayaran di Pasar Semarangan Tinjomoyo sudah memanfaatkan teknologi cashless. Untuk berbelanja di sana, pengunjung wajib membayar dengan menggunakan kartu BNI tapcash atau bisa juga menggunakan aplikasi YAP. Maka tak heran jika Pasar Semarangan ini dinobatkan sebagai pasar tradisional digital pertama di Indonesia. Kalau nggak punya kartu BNI tap cash, aplikasi YAP, atau kartu tapcash-nya ndak ada saldo gimana? Tenaaaaang, di depan pintu masuk pasar tersedia booth untuk pembelian kartu BNI tapcash dan bisa juga untuk isi saldo kartunya.

Wedhang Rojo
Bapak penjual wedhang rojo sedang menyaring dagangannya.

Pasar Semarangan Tinjomoyo hanya buka di hari Sabtu saja, dari pukul 15.00 hingga 21.00 malam. Kemarin kami datang masih terlalu awal. Beberapa warung masih bersiap-siap menggelar dagangannya, tapi ada juga yang sudah ramai diserbu pembeli. Produk yang dijual di sini kebanyakan adalah makanan tradisional khas Semarang. Beberapa malah ada yang sudah mulai jarang bisa ditemukan sehari-hari, misalnya Mie Kong alias mi singkong. Mie satu ini karena proses pembuatannya yang memakan waktu lama, sudah mulai jarang dijual, bahkan di pasar-pasar tradisional sekalipun. Bisa jadi juga karena kita lebih hobi makan mie instant? ;p

Warung Mie Kong di Pasar Semarangan
Warung Mie Kong di Pasar Semarangan

Kota Semarang sendiri ‘terbentuk’ dari 3 etnis utama; Jawa, Cina, dan Arab. Nah, Pasar Semarangan mengadopsi hal tersebut dengan menghadirkan juga makanan khas etnis Cina dan Arab di sini. Saya sebenermya pengen nyobain salah satu chinese food di sini yang konon warung itu diboyong langsung dari Pasar Semawis, sayangnya mereka belum siap buka pas kami di sana. Ada juga warung yang menjual nasi kebuli dan makanan lain yang khas Arab. Namun berhubung saya nggak terlalu suka makanan Timur Tengah karena bumbu rempah yang rasanya terlalu kuat lidah saya, akhirnya saya nyobain Mie Kong dan bakso di warungnya Bu Mitri.

Kerudung lukis di Pasar Semarangan
Kerudung lukis karya salah satu pedagang di Pasar Semarangan
Pasar Semarangan Tinjomoyo
Ramainya pedagang Nasi Jantung Raja dikelilingi pembeli

Selain makanan, di Pasar Semarangan ada juga stand/warung yang menjual mainan tradisional, kerajinan tangan seperti kerudung lukis, alat rumah tangga dari anyaman bambu, juga kaos-kaos bergambar bangunan khas Kota Semarang. Di beberapa sudut pasar dipasang ornamen-ornamen yang bisa dipakai untuk wefie rame-rame dengan teman setongkrongan. Pokoknya ini tempat memang di-setting sebagai tempat malam mingguan yang asik banget buat warga Semarang dan wisatawan tentunya.

Selesai dari Pasar Semarangan, di bus, Jojo -salah seorang Kenang (semacam Abang Jakarta gitu) yang mendampingi perjalanan kami sempet melontarkan pertanyaan ke saya;

“Menurut Mbak Titi, apa yang kurang dari Pasar Semarangan ini?”

wefie sama temen
Kamu bisa nih wefie rame-rame di sini!

Foto: www.mysweetescapediary.com

Jujur pertanyaan ini membuat saya sejenak berpikir. Saya suka tempat ini, namun masih satu hal yang sebenarnya sangat mengganggu buat saya di sana; tidak adanya larangan merokok bagi pengunjung pasar, atau setidaknya merokok hanya boleh dilakukan di pojok tertentu saja (smoking area) Sebagai tempat wisata yang banyak dikunjungi keluarga muda yang kadang membawa anak kecil, rasanya pemberlakuan larangan merokok di Pasar Semarangan patut diterapkan. Semoga pengelola mau mempertimbangkan usulan ini, ya…

Selebihnya, Pasar Semarangan perlu banget kamu masukkan agenda kalau pas lagi di Semarang di malam Minggu. Asik lho nongkrong di sana!

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
6 Responses
    1. Parahita Satiti

      Kan hari Sabtunya buka sore jam 3 sampai malam jam 9, keburu nggak kalo pulang kerja?

      Eh, tapi bolos juga ga papa, sih! Jangan sampai kerjaan ganggu traveling yooooo…

Leave a Reply