Sunrise di Teluk Kalong

Pengalaman Live On Board di Labuan Bajo

Waktu awal-awal ngrencain trip komodo, saya bersama kedelapan teman saya, kompakan ngomong; “Pokoknya ya, gw ogah nginep di kapal! Males banget 24 jam lebih tanpa air bersih buat pipis, dll”.

Dalam bayangan kami waktu itu jarak Taman Nasional Komodo itu bisa ditempuh pulang-pergi dari Labuhan Bajo, dan kami belum sadar berapa harga sewa kapal kalau bikin trip pulang-pergi begitu.

Hingga suatu hari, seorang temannya teman yang bantuin cariin kapal bilang: “harga sewa kapal Labuan Bajo – Komodo PP itu 5juta/hari”. Waaakkwaaaw!! We don’t have that much money to spend for 3 days full day trip.

Karena alasan finansial itulah akhirnya ketakutan atas ga ada air bersih terkalahkan. Beggars can’t be chooser, can they? Dibantuin teman lain (yang awalnya kenal via twitter), namanya TheJapra, akhirnya kami dapat kapal untuk live on board selama 2 hari 1 malam, seharga IDR 500ribu per orang.

Harga itu sudah termasuk 4 kali makan, 2 kali snack, buah pisang dan teh-kopi sepuasnya. Murah kan? Kapal yang dipakai LOB itu muat untuk bersepuluh plus 3 ABK. Ada 1 kamar dengan kasur busa tipis dan bantal, tapi kami semua memutuskan untuk tidur di geladak bawah dan atas, di kamar sumpek soalnya.

Sailing trip komodo dimulai
#TheKomodos on LOB

Berangkat dari pelabuhan Labuhan Bajo jam 8 pagi, tujuan pertama adalah Pulau Rinca. Ternyata benar, dari Labuhan Bajo, butuh waktu 3.5 jam untuk sampai di Pulau Rinca. Kalau ngotot pengen PP, udah habis tuh waktu 7 jam cuma buat di jalan di laut. Jam 11.30 kami melapor ke pos jaga TN Komodo-Rinca.

Nah, di pos jaga ini kami kenalan deh sama bule pendiam asal Jerman, namanya Max, yang LOB sendirian. Kami tanya, dia harus keluar USD 210 untuk sewa kapal. Mahal bener yak! Mungkin karena harga sendirian.

Kapal live on board di pelabuhan Labuan Bajo
Rainbow, kapal kami yang paling kiri.

Jadilah akhirnya rombongan trekking kami nambah 1 orang. Masuk TN Komodo-Rinca harga tiketnya IDR 10.000/orang, trus ada sumbangan pembangunan buat Pemda setempat (resmi kok, ada tiketnya) IDR 10.000/orang, dan jasa ranger Rp.100.000/ranger dibagi ber 10. Kalau sudah bayar tiket di Pulau Rinca, di Pulau Komodo sudah tidak perlu bayar tiket lagi, tinggal bayar ranger saja. Begitu juga sebaliknya. Jadi simpan baik-baik tiketnya, ya!

Jam 12 siang (TENGAH HARI BOLONG) kami mulai trekking keliling Pulau Rinca ditemani Pak Usman sebagai ranger. Ngomong-ngomong soal Pak Usman, saya dengar kabar beberapa hari yang lalu beliau digigit komodo. Hiks, sedih. Hope he’s okay and getting well soon. Amin!

Back to the story of trekking, ga tanggung-tangung, rute yang kami pilih adalah long-track.

Duh, gimana ya kami kan sekumpulan anak sok muda yang tak kenal kata capek, panas, males. :-p Lalu penyesalan mulai sedikit timbul saat harus mendaki 3 bukit berturut-turut. Pelajaran berharga untuk LOB; berangkatlah pagi-pagi bener dari Labuhan Bajo, biar bisa nyampe di Rinca masih pagi, jadi ga trekking naik turun bukit di tengah hari bolong.

Trekking di Pulau Rinca
Trekking di Pulau Rinca

Udah setengah mati panas-panasan gitu, ketemu komodonya cuma 1 ekor aja. Itupun ga sengaja. Ceritanya, pas lagi di bagian yang mirip savana gitu, Pak Usman bilang:

“Kalian tunggu di sini ya, tadi pagi saya antar tamu berkeliling, ketemu banyak (komodo) di sini sedang berjemur. Saya coba cari ke sana (dekat batu) siapa tahu ada. Jangan kemana-mana!”

Kami semua menjawab “OK, pak!” sambil mikir, emangnya kita berani kemana-mana tanpa dirimu, Pak? Pak Usman pergi, kami bengong kepanasan, eh tiba-tiba salah satu teman saya, Ucok, udah mencar foto-foto sendirian. Spontan kami teriak “Ucok! Jangan jauh-jauh!” dan saudara-saudara…. Ternyata sudah ada seekor komodo berdiri di depan Ucok, mereka berdua sama-sama kaget, tapi untung reaksi si komodonya adalah lari menjauh. Apa jadinya kalo si komo marah dan gigit Ucok?

Sampai selesai trekking satu setengah jam kemudian, tidak ada komodo lain yang kami temui, hingga kami sampai di dapur tempat masak makanan untuk para ranger. Walah, itu ada komodo 10 ekor lebih lagi ngadem di kolong rumah panggung. Haaaah, tau di sini banyak komodonya, kenapa tadi ga langsung ke sini aja? Pak Usman hanya nyengir memandangi kami yang ngos-ngosan sambil foto-foto sana-sini.

Mau tahu bedanya kapal IDR 5juta untuk bersepuluh dan USD 210 untuk satu orang? Pelayanan. Kalau kami selesai trekking hanya mendapati makan siang nasi berlauk fillet ikan goreng tepung, tumis sawi hijau, dan mie goreng maka di kapal si Max, selain makan siang a la barat, juga ada 2 gelas jus segar. Rasanya pengen lompat ke kapal sebelah dan bilang “do you want me to accompany you?” Kidding! Saya ga mau nuker 9 temen gila saya dengan seorang bule pendiem.

Pulau Rinca Labuan Bajo
#TheKomodos – Rinca

Sambil makan siang, kami meluncur ke Pink Beach. Lagi-lagi udah kesorean. Sampai di pink beach udah lewat jam 3 sore. Padahal Pink Beach itu paling bagus pas matahari di puncak kepala, pink-nya keliatan banget. Tapi ya sudahlah, nikmati saja. Toh pemandangan bawah lautnya tetap indah. Paling indah yang pernah saya lihat, bahkan. Kalau saja arus di Pink Beach ga terlalu kenceng, pasti saya ga berhenti snorkeling.

Capek main air, kami naik ke pantai, terus manjat bukit kecil disebelah timur, woooww.. magnificent! Ga terasa sampai hampir sunset kami main-main di Pink Beach. Dari kami bersepuluh, cuma 3 orang aja yang bawa life-vest, sementara arus makin kencang, badan udah capek banget. Saya dan 2 orang yang bawa life-vest, bukan perenang yang jago, kalo berenang sambi digandulin 2 orang yang numpang di life-vest, rasanya mustahil bakalan sampai ke kapal yang parkir 500 meter dari pantai.

Untung ada serombongan bule kakek-nenek yang kapal phinisi-nya dilengkapi speed boat kecil, kami bersepuluh berdelapan dianterin sampai kapal. So sweet! Tika dan Ucok jago, lho! Mereka berenang menantang arus sampai di kapal.

Underwater di Pulau Rinca

Underwater Pink Beach

Pink Beach Hill Labuan Bajo
Pink Beach Hill

***

Live On Board tadi kan tidur di kapal, maksudnya kapalnya bersandar di pantai gitu kan?

NOPE!

Kapalnya buang jangkar di tengah teluk, namanya Teluk Kalong, dan kita tidur sambil kapalnya sedikit goyang-goyang kena ombak. Seru!

Ditengah teluk, hanya ada kapalmu dan teman-teman dan beberapa kapal lainnya, disekitar gelap gulita, air tawar habis, jadi mandi/pipis/dll pake air laut trus dilap pakai tisu basah, makan rame-rame, seru-seruan main games dengan segala kekonyolan, udah capek ketawa-tawa trus galau berjamaah ngeliat bintang yang banyaknya belum pernah kamu lihat di manapun.

That was the best five hundred thousand rupiah I’ve ever spent!

Malam itu, saya, Tika, Japra, Ucok, dan Dhanu tidur di geladak atas. Sementara Sisil, Endah, Hanny, Destia, dan Iin tidur di geladak bawah. Banyak kejadian yang bikin ketawa kalo diinget, dari mulai Destia yang softlens-nya copot sebelah, Iin yang kebangun gara-gara denger ABK ngelindur, Dhanu yang katanya pas ngambil air laut buat pipis, airnya bersinar (yang belakangan baru kami tahu itu plankton).

***

Pernah ngalamin bangun tidur, badan pegel-pegel, tapi hati rasanya excited banget?

Itu yang saya rasain pas bangun tidur di atas Kapal Rainbow, di Teluk Kalong. Pas buka mata, lihat matahari baru pecah kemerahan di ufuk timur, wow!

Sunrise di Teluk Kalong
Breaking Dawn at Kalong Bay, Komodo Island

Pegel-pegel karena seharian kemarin trekking dan snorkeling tetep terasa sih, tapi rasanya ga sabar untuk memulai petualangan hari ini; trekking di Pulau Komodo! Jam 6.30 kapal mulai bergerak meninggalkan Teluk Kalong.

Kami para penumpang tinggal duduk manis sambil menikmati sarapan mie rebus. Dari Teluk Kalong ke pintu masuk TN Komodo ga terlalu jauh, cuma butuh 30 menit naik kapal. Begitu turun kapal, langsung lapor lagi ke kantor ranger, terus tinggal bayar buat ranger doang.

Saya lupa nama ranger waktu di Pulau Komodo siapa, pokoknya namanya tuh ada hubungannya sama Sulawesi gitu deh, daerah asalnya. Dari awal kami memang pengen ngambil long-track, karena kami pengen liat semuanya.

Ternyata si bapak ranger ini baru aja jalan kaki dari kampung pemukiman warga di Pulau Komodo sampai ke kantor ranger, yang menghabiskan waktu 2 jam – katanya, wong kami juga ga nyobain – Nah, karena itulah kayanya rute long-track kami dipendekin. Agak sebel sih, kan jadi ga lihat view laut dari atas bukit.

Trekking Map di Pulau Komodo
Trekking Map di Pulau Komodo

Trekking di Pulau Komodo menurut saya jauuuuuh lebih gampang daripada di Pulau Rinca. Pertama, karena jalur trekkingnya sudah ‘dibuka’, jadi tinggal ngikutin jalan setapak yang sudah disediakan. Kedua, kondisi alam Pulau Komodo juga relatif lebih datar dibanding Pulau Rinca yang berbukit. Ketiga, kami beruntung bisa mulai trekking pagi-pagi banget.  Matahari masih ramah, dan udara masih segar. Owww, di Pulau Komodo juga lebih banyak pepohonan tinggi, ga kaya Pulau Rinca yang gersang, tandus, mirip savana.

And we were lucky!

Di Pulau Komodo, kami ketemu lumayan banyak komodo di alam liar. Baru nyampe aja, udah ketemu yang gede banget di bawah gazebo pinggir pantai. Baru jalan trekking kira-kira 700 meter, ketemu lagi 2 ekor lagi main di kubangan kecil.

Lanjut trekking kira-kira 30 menit, pas posisi kami di bawah bukit, saya nengok ke atas dan ada komodo sedang berjemur di atas batu. Spontan saya berbisik ke ranger di depan saya “Pak, di atas sana ada!” Bapak ranger mempercepat langkah ke atas bukit, dan kami mengikuti. Ternyata di atas bukit selain komodo yang sedang berjemur di atas batu (yang akhirnya lari menjauh) ada lagi seekor komodo lebih besar yang sedang asyik berjemur. Dan komodo besar itu diam saja walau kami sibuk foto-foto di sekitarnya.

Foto dengan Komodo di Pulau Rinca
Sisil, Iin, dan Dhanu bersama maskot #TheKomodos

Saya sendiri ga berani terlalu dekat dengan komodo-komodo itu. I was on my period on that time, dan komodo sangat sensitif dengan bau darah. Terlalu dekat dengan mereka, salah-salah saya dikira mangsanya. Buat cewe-cewe yang mau ke Pulau Komodo dan kebetulan sedang menstruasi, sebaiknya jujur bilang terus terang sama ranger, jangan malu. Kalau ga diizinkan, jangan maksa tetep ikut trekking. Takutnya gara-gara kengeyelan satu orang, seluruh anggota tim jadi terancam bahaya. Kalo dibolehin ikut (kaya saya), stay close to your ranger(s)!

Lagi-lagi harga sewa kapal menunjukkan kastanya. Selesai trekking di Pulau Komodo, snack yang terhidang di kapal kami hanyalah pisang goreng, sementara di kapal si Max, jus segar dan sandwich. But we’re happy, Max sendiri, kami bersepuluh rebutan pisang goreng sambil cela-celaan.

Tujuan selanjutnya; Manta Point!

Ini sebenarnya adalah spot diving, sementara ga ada satupun diantara kami yang penyelam, dan trip ini memang bukan diving trip. Trus ngapain kesini? Well, kembali pada fatwa bahwa kami adalah segerombolan anak sok muda yang pengen tahu segalanya.

Again, we were lucky! Cuma snorkeling bisa ketemu manta, yeeaaaah!!! Arus kencang bukan halangan untuk ngejar-ngejar manta. Saking hebohnya ngejar, Sisil malah sampai salah (berenang ke arah) kapal.

Baca juga: Pulau Sabolo, setitik keindahan di Laut Flores

Capek ngejar-ngejar manta, kami pindah ke snorkeling spot berikutnya; Pulau Sebayur. Di spot ini saya ga turun nyemplung, soalnya perut yang selama 2 hari baik-baik aja dibawa trekking, mendadak berulah, kram. Ya sudah, saya foto-foto narsis aja di atas kapal. Jadi saya ga tahu deh gimana underwater-nya Pulau Sebayur. People said traveling is revealing your limit, I guess having  cramps on my period was mine.

Sekitar jam 3 sore, Rainbow berlayar lagi menuju Labuhan Bajo, perjalanan sekitar 2 jam. Sepanjang jalan laut teman-teman banyak yang tidur kelelahan. Saya yang segar bugar karena sudah istirahat sebelumnya, ngobrol dengan salah satu ABK.

Parah1ta live on board di Labuan Bajo
Saya di atas Rainbow!

Kembali saya harus setuju dengan quote dari Aldous Huxley,

travel is to discover that everyone is wrong about other countries”.

Ga usah soal negara lain deh, soal pemikiran sendiri aja ternyata salah, kok! Saya dan teman-teman yang awalnya ga mau nyobain Live On Board, ternyata sekarang malah kepengen lagi!

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.

Leave a Reply