Liukan Api Kehidupan di Museum Ullen Sentalu

Dari kalimat “ulating blencong sejatine tataraning lumaku”, sebuah istilah dalam bahasa Jawa yang berarti “nyala lampu blencong (lampu yang digunakan sebagai penerang layar dalam pertunjukan wayang kulit) sesungguhnya adalah petunjuk dalam menjalani kehidupan, – nama museum ini berasal; Ullen Sentalu. Nama yang sungguh unik, karena saya yang asli orang Jawa saja perlu bertanya untuk tahu apa artinya.

Terletak di daerah Kaliurang, tepatnya di Jl Dusun Boyong Km 25, Kaliurang Barat, Sleman, kita hanya perlu berkendara sekitar 45 menit dari pusat kota Yogyakarta untuk menuju museum ini. Pagi itu saya sampai di sana sekitar pukul 09.30, sempat ragu apakah museum sudah buka atau belum, karena dari penampakan luar bangunan kok masih sepi. Dari sebuah jendela berjeruji yang berfungsi sebagai loket penjualan tiket, segera saya tahu bahwa museum sudah buka, dan akan ada tur yang akan dimulai sebentar lagi. Cepat saya membayar 2 tiket pengunjung lokal dewasa untuk saya dan Kak Nyanyu, seharga IDR 30.000/orang, dan bergabung dengan 6 orang pengunjung lainnya.

Loket Tiket Museum Ullen Sentalu
Loket Tiket Museum Ullen Sentalu

Sebelum memulai tur, Mbak Anis, pemandu kami menjelaskan beberapa peraturan di Museum Ullen Sentalu. Diantaranya; stay close to each other, tidak boleh memegang koleksi, tidak boleh makan, minum dan merokok selama tur kecuali ketika sedang di ruang istirahat, dan yang paling penting: DILARANG MEMOTRET SELURUH KOLEKSI MUSEUM, kecuali di area yang diijinkan. Tur akan berjala sekitar 50 menit, dan kita akan dibawa mengitari museum seluas +/- 1,2 hektar.

Begitu masuk Museum Ullen Sentalu, kita langsung disambut oleh seperengkat gamelan jawa yang konon sudah berusia lebih dari 50 tahun. Selain gamelan, di dalam ruangan yang disebut dengan nama Ruang Seni dan Gamelan ini juga terdapat patung Dewi Sri, yang di Indonesia dikenal sebagai Dewi Padi atau Dewi Kesuburan, sementara dalam mitologi Hindu dikenal sebagai Dewi Laksmi. Juga terdapat beberapa lukisan yang menggambarkan beberapa tarian ciptaan raja-raja Mataram; dari tari Minak Cino – Rengganis, tari Bedhaya nan sakral (lengkap dengan lukisan yang menunjukkan “bayangan” Kanjeng Ratu Kidul), hingga tari Serimpi.

Dari Ruang Seni dan Gamelan, kita dibawa menuju Gua Sela Giri, sebuah lorong panjang yang dibangun dengan material batu dan pasir dari Gunung Merapi. Disepanjang lorong dengan aura “anyep” ini dipamerkan beberapa benda pusaka keraton, baik keraton Solo maupun keraton Jogja. Ada satu lukisan unik yang cukup menarik di sini, sebuah lukisan Ibu Suri (saya lupa Ibu Suri dari keraton mana), yang jika kita perhatikan lekat-lekat tatapan mata dan arah sepatunya sambil terus berjalan, seolah-olah lukisan itu terus memandangi kita.

Selepas dari Gua Sela Giri, kita menuju sekumpulan bangunan berbentuk labirin. Bangunan-banguna ini disebut sebagai Bale Kambang, atau bangunan yang mengambang di atas air. Didalam setiap bangunan ini terdapat bermacam-macam koleksi. Ada bangunan yang khusus menyimpan syair, puisi dan surat-surat yang ditulis oleh Putri Tineke, ada bangunan yang menyimpan koleksi batik keraton Surakarta, keraton Yogyakarta, juga ruangan khusus batik pesisiran. Yang paling unik adalah satu ruangan khusus yang dipersembahkan untuk Gusti Nurul, seorang putri keraton Mangkunegaran yang prestasinya sungguh mengundang decak kagum. Gusti Nurul tercatat pernah menari di hadapan Ratu Belanda di Amsterdam, dengan musik yang disiarkan lewat radio dari Solo ketika beliau berusia 16 tahun. Gusti Nurul menolak pinangan beberapa pejabat (super) tinggi Indonesia pada masa itu, karena tidak setuju menjadi istri kesekian, dan baru menikah di usia 30 tahun, dengan lelaki yang memang ia cintai. Saat ini (Maret 2015), Gusti Nurul tasih yuswa, dan tinggal di Bandung.

[tasih yuswa: istilah Jawa untuk menyebut “masih hidup”, nenek saya dulu sering bilang sangat tidak sopan menggunakan istilah “masih hidup” saat menyebut keadaan seseorang, apalagi yang sudah sepuh]

Ruang Ratu Mas
Ruang Ratu Mas

Selesai berputar-putar dalam bangunan labirin, tur akan diistirahatkan sejenak di Ruang Ratu Mas, untuk menikmati secangkir minuman yang konon bisa membuat kita awet muda, terbuat dari 7 rempah rahasia resep warisan keraton. Rasanya? saya bisa merasakan aroma kunyit asam campur beras kencur dengan aroma secang, sisanya entahlah… Yang pasti rasanya enak!

Melanjutkan tur, kami menuju Sasana Sekar Bawana atau Ruang Bunga Dunia. Sebelumnya kami melewati sebuah lorong terbuka, yang disebut sebagai Lorong Reca Landha alias Lorong Arca Belanda. Entah mengapa disebut seperti itu, padahal yang dipamerkan adalah arca-arca peninggalan jaman Hindu, misalnya arca Ganesha, arca dewa Wisnu, Siwa, Dewi Sri.

Sementara di Sasana Sekar Bawana, ini sepertinya ruangan impian para gadis Jawa yang masih single deh! *diam-diam angkat tangan sendiri* Ruangan ini berisi contoh riasan pengantin putri gaya Solo dan gaya Jogja, lengkap dengan detil-detil apa saja yang membedakan; dari mulai sundhuk mentul (itu lho, hiasan rambut yang goyang-goyang di atas kepala pengantin perempuan jawa), hingga perbedaan cara membuat paes di jidat pengantin putri, sampai jenis kain dodotannya. Kedua gaya baju pengantin ini sama-sama indahnya! Bikin galau gitu mau pakai gaya yang mana nanti… hihi! lha kalo dapat suaminya yang ga mau pake beskap, piye jal?

Selepas Sasana Sekar Bawana, tur di Museum Ullen Sentalu selesai sudah. Kita bebas berfoto di halaman terakhir dari museum, mengunjungi coffee shop yang ada di lantai atas Sasana Sekar Bawana, atau lihat-lihat ke souvenir shop di lantai bawahnya.

Pintu Keluar Museum Ullen Sentalu
Pintu Keluar Museum Ullen Sentalu

Saya pribadi sangat merekomendasikan untuk berkunjung ke Museum Ullen Sentalu, salah satu museum terbaik yang pernah saya kunjungi di Indonesia.

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
6 Responses
  1. Sekali ke museum ullen sentalu kurang 😀 harus beberapa kali baru paham banget sama apa yang ada di dalam museum ini, banyak sejarah dan kebudayaan jawa yang bisa dinikmati perlahan 🙂

    1. Parahita Satiti

      a. Air awet muda dari 7 sumur?

      b. Mandi kembang 7 rupa?

      c. Bercanda ria dengan 7 jejaka?

      Hayoooo, Kak Cumi mau pilih yang mana?

Leave a Reply

%d bloggers like this: