Liburan Akhir Pekan di Pulau Pahawang

Rasanya sudah lama sekali saya ga berenang-renang di laut, mungkin sudah hampir setahun. Oops, sebenarnya bulan Februari kemarin saya sempet main ke Tanjung Lesung dan sempet berenang juga. Tapi cuma berenang aja, sekedar main basah-basahan, ga snorkeling.

So let me correct my first sentence; rasanya sudah lama sekali saya ga snorkeling.

Saya bukan perenang handal, tapi percaya deh sama saya, sekali merasakan asiknya berenang bersama ikan warna-warni di lautan kita akan mudah sekali merindukan aktifitas yang satu itu. Itulah sebabnya saya maklum ketika Bulan kembali menanyakan kapan rencana kami main ke laut.

Biasanya ketika keinginan berenang di air asin sudah tak tertahankan, Kepulauan Seribu selalu jadi jawaban.

Tapi entah kenapa saya rasanya ingin mencoba pilihan lain. Nyobain tempat baru. Argumen saya; setelah belasan kali ke Kepulauan Seribu, rasanya saya mbleneg kalau harus ke sana lewat Muara Angke di musim penghujan seperti ini. Opsi menyeberang lewat Marina tidak memberatkan secara ongkos sih, kan emang pengen nyaman. Tapi kok, dengan biaya yang sama saya bisa ke tempat lain yang saya belum pernah ya?

*teteuupp, ujung-ujungnya itungan*

Pulau Pahawang
Selamat datang di Pulau Pahawang

Lalu saya hasutlah si Incess untuk mengalihkan rencana liburan kami ke Pulau Pahawang. She nodded, long story short, kami join-lah paket liburan ke Pulau Pahawang dari sebuah trip organizer bernama Rani Journey. Kenapa ga jalan sendiri aja? Pertimbangan kami, kalau ikut trip organizer, sewa mobil dan kapal untuk snorkeling akan lebih murah karena dibagi berbanyakan.

Untuk mencapai Pulau Pahawang dari Jakarta, kita perlu menempuh perjalanan yang lumayan panjang dan melelahkan. Kami naik bus dari jurusan Merak dari halte Slipi Jaya. Turun di terminal terpadu Merak, berkumpul dengan teman-teman lainnya di meeting point, lalu kami harus naik ferry, menyeberang ke Bakauheni.

Di sini kita harus pandai memanfaatkan waktu untuk beristirahat. Berbincang dengan teman seperjalanan memang menyenangkan. Namun saya lebih memilih menenggak 2 butir obat anti mabuk. Lumayan, bisa tidur selama 3 jam penyeberangan dari Merak ke Bakauheni.

Siapa bilang perjalanan sudah berakhir? Setibanya di Bakauheni, Kami masih harus naik mobil lagi sekitar 2 hingga 2.5 jam menuju Pelabuhan Ketapang; sebuah pelabuhan kecil di Kecamatan Padangcermin, Kabupaten Pesawaran, tempat kapal-kapal kecil yang akan membawa kami ke Pulau Pahawang bersandar. Gelapnya malam dan sisa pengaruh obat anti-mabuk, membuat saya tak menyadari sedikit pun bahwa dibeberapa titik menuju Pelabuhan Ketapang jalanannya rusak parah.

Pelabuhan Ketapang Lampung
Pelabuhan Ketapang Lampung

Dalam perjalanan dari Pelabuhan Ketapang ke Pulau Pahawang, kami disuguhi pemandangan yang sungguh cantik. Air laut yang biru bening sesekali memercik dari samping kapal ke badan kami. Sisi pulau Sumatra yang berpagar pohon nyiur silih berganti menghiasi pandangan kami dengan pulau-pulau kecil berpasir putih. Lalu ada pulau kecil dengan beberapa villa yang eksklusif. Tak lama berselang berganti dengan pemandangan keramba yang konon berisi ikan-ikan kerapu.

Keramba Kerapu di Pulau Pahawang
Keramba Kerapu di Pulau Pahawang

Sekitar satu jam menyeberang, kami sampai di Pulau Pahawang. Kesan pertama saya akan pulau ini; menyenangkan! Suasananya hanpir mirip dengan Pulau Pari di Kepulauan Seribu. Ditambah lagi ketika saya berhenti di sebuah warung di pinggir pantai untuk membeli kelapa muda, ibu penjaga warung melayani saya dengan dialek khas pesisir Pantura! Ah, ini sih serasa tak sedang di tempat yang jauh dari rumah, hehehe…

Homestay di Pulau Pahawang
Homestay di Pulau Pahawang

Sisa akhir pekan kami habiskan dengan ber-snorkeling di spot-spot terbaik di sekitar Pulau Pahawang. Dari awal berangkat, saya tidak berharap terlalu banyak dengan keindahan bawah laut Pulau Pahawang. Well, hey… expectation does kill, rite? Jadi ketika di sana ‘cuma’ ketemu hard-coral yang tidak terlalu berwarna-warni, ga ketemu clown-fish (yang bahkan kami sudah main ke spot yang namanya Rumah Nemo pun), ya ga pa-pa.

Yawla, bisa nyelupin kepala di air asin aja rasanya udah seneng banget!

Kalau untuk spot-spot kece buat foto-foto cantik, saya akui Pulau Pahawang punya banyak banget! Asal kuat menjelajahi dan tahan dengan panasnya sinar matahari yang membakar. Foto di header postingan ini, diambil di suatu tempat bernama Tanjung Putus, dermaga kecil yang ada di sana cantik banget buat foto-foto.

Pasir timbul di Pulau Pahawang
Pasir timbul di Pulau Pahawang

Pasir timbul (gusung) yang menghubungkan Pulau Pahawang Besar dengan Pulau Pahawang Kecil, tak kalah cantiknya dengan Pantai Ngurtafur di Ambon. Yaaaaah, versi lebih kecilnya laaah, hihi. Jangan lupa mampir juga di Pulau Kelagian Lunik. Banyak spot bagus untuk tempat pemotretan. Mau bikin foto sampai 7 album juga bebas!

Pantai berpasir putih di Pulau Kelagian Lunik
Pantai berpasir putih di Pulau Kelagian Lunik

Liburan akhir pekan ke Pulau Pahawang kaya saya dan Bulan ini, bisa banget kamu jadiin alternatif liburan kamu berikutnya. Biar ga ke Puncak atau ke Kepulauan Seribu melulu, gitu…

Baca juga: Mencicipi bulu babi di Kaliage, Kepulauan Seribu

Pulau Kelagian Lunik
Pulau Kelagian Lunik

Kalau mau pergi berbanyakan sama temen-temen, arrange sendiri perjalanan liburan ke Pulau Pahawang sama sekali ga ribet, kok. Kalau perginya cuma sendiri atau berdua kaya saya, lebih praktis dan murah kalau gabung ikutan trip organizer aja. Ga usah repot-repot sewa ini-itu, patungannya bisa murah, plus dapat teman-teman baru. Siapa tahu, setelahnya bisa jalan-jalan kemana lagi.

Pantai di Pulau Pahawang
Pantai di Pulau Pahawang
About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
20 Responses
    1. Parahita Satiti

      Siaapp, next time aku ajakin yaaa.. Hahaha, soalnya kalo cuma minum 1 butir kalo ga lagi cape banget seringnya ga ngaruh 😀
      Bikin 8 album dengan 8 set baju yaaa!

Leave a Reply