Search
Search

Liburan 3 Hari di Hat Yai; Kota Kecil Versi Murahnya Bangkok

Wat Hat Yai Nai

Dari sekian banyak kota di Asia Tenggara yang ingin saya datangi, Hat Yai tak pernah masuk dalam daftar saya sebelumnya. Dengar nama kota ini pun kayanya juga belum pernah, deh. Sampai akhirnya pas saya banyak ngabisin waktu nontonin video tentang Ipoh di youtube, sebuah video tentang berkereta dari Bangkok ke Kuala Lumpur menarik perhatian saya. Saya lanjut browsing tentang kota ini dan akhirnya memutuskan mengubah rencana liburan yang awalnya hanya ingin ke Ipoh menjadi keretaan dari Kuala Lumpur ke Bangkok, dengan termasuk di dalamnya liburan 3 hari di Hat Yai.

Hat Yai terletak di Provinsi Songkhla, di Thailand bagian selatan. Ia berbatasan darat dengan kota Padang Besar di Malaysia. Maka dari itu selain bisa diakses dengan pesawat melalui bandar udara internasional Hat Yai, dia juga bisa diakses dengan kereta api, bus dan van dari Malaysia. Saya memilih naik kereta api saja dari Ipoh ke Padang Besar, lalu lanjut ke Hat Yai. Dan setelah menghabiskan lebih dari setengah hari di stasiun sekaligus kantor perbatasan Malaysia-Thailand, akhirnya saya tiba juga di Hat Yai; sebuah kota kecil yang banyak orang bilang sebagai versi murahnya Bangkok.

Lost in Translation

Dari stasiun kereta api Hat Yai memutuskan berjalan kaki saja menuju Silla House Hostel, penginapan yang telah saya pesan sebelumnya. Jarak stasiun ke Silla House nggak lebih dari 1.5 kilometer, buat saya sih jarak segitu nggak jauh, ya. Paling kalau jalan kaki nggak sampai dua puluh menit. Well, dengan ransel seberat 7 kilogram di punggung, paling lama tiga puluh menit lah perkiraan saya.

Silla House Hat Yai
Kamar saya di Silla House Hat Yai

Ada beberapa faktor yang luput dari perhitungan saya saat memperkirakan hal tersebut; saya tidak punya akses internet untuk membuka google maps kalau bingung arah, dan bahwa orang Hat Yai sedikit sekali yang bisa berbahasa Inggris saat ditanya arah. Hanya berbekal beberapa screenshot alamat dan peta, serta versi offline dari google maps yang sudah saya simpan sebelumnya, dan beberapa kali bertanya pada orang yang perkiraan saya bisa berbahasa Inggris (ternyata nggak bisa juga), akhirnya saya sampai di hostel dalam waktu 45 menit saja. Hahahaha….

Begitu saya masuk kamar hostel dan naruh ransel, saya langsung bertekad; “That’s it. Saya akan beli simcard Thailand! Kagak bakal saya survive melanjutkan seminggu perjalanan sendirian dari sini ke Bangkok tanpa google maps dan google translate.”

Pasar, Belanja, dan Makan

Setelah istirahat sebentar dan bersih-bersih badan di hostel, saya memutuskan jalan kaki (lagi!) untuk menikmati salah satu sudut kota Hat Yai di malam hari. Saya pergi ke Asean Night Market, sebuah pasar malam yang buka setiap hari Selasa hingga Minggu, pukul 16.00 hingga 22.00.

Penjual Mango Sticky Rice
Penjual Mango Sticky Rice

Nggak salah memang kalau banyak yang bilang Hat Yai ini versi murahnya Bangkok. Beberapa blog yang saya baca malah ada yang bilang Hat Yai adalah Bangkok versi zaman dahulu kala, sebelum banyak mall-mall besar dibangun dan hotel mewah berdiri. Karena saya nggak tahu Bangkok zaman dahulu kala, ya saya cuma bisa komen “oooooo… gitu” pas baca, hehehe.

Di Asean Night Market, selain banyak banget penjual makanan khas Thailand ada juga penjual pakaian, kerajinan tangan, dan ciki-cikian khas Thailand itu, lho. Asli rame banget! Dan ya, harganya relatif jauh lebih murah dibandingkan di Bangkok, ya. Malam itu saya sempat nyobain jajan mango sticky rice seharga 50B yang masyaallah mangganya manis banget dan ketannya super legit! Saking manisnya si mangga saya sampai curiga kalau mangganya udah direndem larutan gula terlebih dahulu, tapi kayanya nggak mungkin sih, secara si mangga kan dikupas langsung di hadapan saya. Saya juga nyobain udang goreng ginuk-ginuk (gendut –red) seporsi isi 8 harganya 100B, namun karena si ibu penjual mungkin merasa kasihan saya jalan-jalan sendirian, saya dikasih harga 80B saja.

Udang di Asean Night Market
Udang di Asean Night Market

Oh iya, di Hat Yai ini banyak warga Muslim-nya, jadi mostly yang jualan makanan juga Muslim dan banyak yang memasang logo halal. Mungkin juga karena Hat Yai ini kota tujuan wisata yang cukup terkenal bagi warga Malaysia, ya.

Toko Oleh-oleh Hat Yai
Toko Oleh-oleh Hat Yai

Siang hari berikutnya saya pergi ke Kim Yong Market, ini pasar tradisional tempat warlok (warga lokal) Hat Yai pada belanja, ya. Asli, tempatnya gede banget! Mengingatkan saya akan Pasar Baru di Bandung; yang dari kain bergulung-gulung, buah-buahan, sayur mayur, daging segala rupa, sampai ikan asin aneka jenis semua ada. Jangan lupa deretan tempat pijat dengan aneka warna lampu hias di bagian depannya, perempuan dan laki-laki berdandan necis yang menawarkan jasa pijat, plus musik ajep-ajep nyaring memekakkan telinga.

Di Kim Yong Market saya cuma lihat-lihat aja, nggak beli apapun. Setelah puas window shopping, saya pergi makan siang di Salma Halal Restaurant bareng dua orang kenalan dari Singapur yang ketemu sehari sebelumnya di kereta menuju Hat Yai. Salma Halal Restaurant ini konon salah satu restoran halal terbaik yang ada di Hat Yai. Kami nyobain cumi yang dimasak semacam acar asam manis gitu, sour beef alias dendeng sapi yang dimasak dengan asam, dan dua jenis tom yam. Setelah nyobain, jujur buat saya sih lebih enak masakan Thailand yang di Bangkok, ya. Yang versi Hat Yai ini sedikit terlalu asam dan asin buat lidah saya.

Salma Halal Restaurant
Masakan cumi dan dendeng di Salma Halal Restaurant

Malam kedua di Hat Yai saya memutuskan untuk jalan-jalan di salah satu mall yang ada di sana; Central Hat Yai Department Store. Mall-nya sih nggak terlalu gede, tapi yang bikin seru di depan mall ini kalau malam ada semacam street food market, dan yang lebih seru lagi harga makanan di pasar malam ini lebih murah lagi dibanding Asean Night Market yang saya pergi kemarin. Makin kalap lah saya nyobain aneka street food di sini.

Hat Yai Central Mall
Hat Yai Central Mall

Nggak enaknya kalau pergi sendirian tuh buat saya bukan pas pengen foto nggak ada yang motoin, tapi pas pengen jajan, porsinya besar dan nggak ada temen buat berbagi makanan. Saya tipe orang yang nggak suka buang-buang makanan, bukan karena pelit, tapi buat saya makanan itu hasil kerja keras banyak orang (mulai dari petani, pedagang sampai koki yang masak), nggak boleh dibuang-buang gitu aja meskipun kita sudah membayarnya. Biasanya kalau lagi jalan-jalan gini saya akalin dengan bawa beberapa tempat makan kecil, just in case saya nggak habis pas jajan sesuatu, bisa saya bungkus untuk dimakan lagi di hostel.

Kalian gitu juga, sih? Atau ya udah nggak habis ya tinggalin aja, rempong amat! Hehehe…

Wat Hat Yai Nai alias Reclining Buddha Temple

Salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi di Hat Yai adalah Wat Hat Yai Nai atau yang lebih dikenal dengan nama Reclining Buddha Temple. Buddha berbaring yang ada di kuil ini termasuk salah satu patung Buddha tidur terbesar di dunia. Patung yang diberi nama Phra Puttha Hattha Mongkhon ini memiliki panjang 35 meter, lebar 10 meter dan tinggi 15 meter. Kuil ini dibangun tahun 1970. Meskipun tidak semegah kuil serupa di Wat Pho, Bangkok namun kuil ini tetap menarik banyak pengunjung saat akhir pekan. Untungnya saya ke sana pas hari kerja, jadi hampir ga ada pengunjung lainnya.

Patung Buddha Tidur di Hat Yai
Reclining Buddha di Wat Hat Yai Nai

 

Pohon di Wat Hat Yai Nai
Salah satu pohon di sudut Wat Hat Yai Nai Temple

Sebenarnya masih ada beberapa destinasi wisata di Hat Yai yang menarik untuk dikunjungi seperti Samila beach, Hat Yai Municipal Park, Khlong Hae Floating Market, Phra Maha cedi Tribop Trimongkol, dan lain-lain. Sayangnya beberapa tempat wisata tersebut terletak agak dipinggiran kota Hat Yai, butuh sekitar 30 menit hingga satu jam berkendara. Agak PR buat saya yang hanya keliling Hat Yai berjalan kaki atau naik sepeda pinjaman dari hostel. Mungkin lain waktu kalau saya ada kesempatan main lagi ke Hat Yai, saya bisa mengunjungi tempat-tempat tadi.

Written by
Parahita Satiti

About me

 

Parahita Satiti; suka jalan-jalan dan bercerita. Makanya dia bikin blog ini. Kalau mau tanya/ngobrol/kerjasama dia bisa dihubungi lewat email: [email protected]

Member of

Travel Blogger Indonesia