Candi Plaosan

Ketika Batu Seru Bercerita

Kadang-kadang saya berpikir, “enak ya jadi perempuan di jaman dahulu kala seperti Loro Jonggrang, mau dinikahi tapi ga suka sama calon suami tinggal minta syarat yang ga masuk akal; minta dibuatkan candi. Coba perempuan jaman sekarang, pas mau lamaran dan kebetulan habis beli rumah seharga 21 milyar rupiah langsung digosipin dikasih mahar segitu. Padahal itu hasil kerja kerasnya sendiri.”

Ok, saya kebanyakan baca akun Instagram pergosipan lambe-lambe.

Tapi bener lho, kalau baca legenda-legenda tentang didirikannya candi-candi di pulau Jawa terutama, saya pikir orang di jaman itu tuh romantis sekali. Baik kepada perempuan yang dia cintai, kepada pasangannya, maupun ke dewa-dewi yang mereka sembah.

Kemegahan Candi Plaosan
Bagian belakangnya saja segini megahnya!

Misalnya, legenda candi Loro Jonggrang. Bandung Bondowoso konon katanya rela bekerja semalam suntuk untuk memenuhi permintaan Loro Jonggrang yang minta dibuatkan 1000 buah candi dalam 1 malam.

Tapi itu ‘kan cuma legenda, cerita rakyat turun temurun yang belum tentu benar. Penelitian terhadap Candi Prambanan atau Candi Loro Jonggrang menyebutkan bahwa candi ini dibangun pada abad ke-9 masehi sebagai candi persembahan kepada tiga dewa dalam agama Hindu; Brahma, Wishnu dan Siwa. Pembangunan Candi Prambanan dimulai oleh Rakai Pikatan dan disempurnakan oleh penerusnya Raja Balitung Maha Sambu.

Nah, kalau kisah pembangunan satu candi lain di dekat Candi Prambanan ini menurut saya romantis banget; Candi Plaosan. Candi Plaosan terletak kurang lebih 2 kilometer di sebelah utara Candi Prambanan. Candi Plaosan dibangun oleh Puteri Pramodhawardani, seorang keturunan Wangsa Syailendra, dibantu oleh suaminya yang bernama Rakai Pikatan.

Candi Plaosan Jawa Tengah

Lho, Wangsa Syailendra kan beragama Buddha? Lho, Rakai Pikatan ‘kan keturunan Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu?

Lho, kok mereka menikah padahal beda agama?

Lho, kok sekarang ga bisa nikah beda agama di Indonesia?

Liburan ke Candi Plaosan
Tapi, jadi Puteri jaman dulu, boleh pakai jeans dan cengengesan kaya gini ga, sih?

Keren ya jaman dulu itu. Beda agama bisa hidup rukun berdampingan. Beda agama bisa nikah. Sang Suami bangun candi untuk menyembah dewa yang ia percaya, terus Sang Istri juga pengen bangun candi juga.

Karena suaminya sayang banget sama Sang Istri, dibantuin lah bikin candi juga. Sang Istri karena sudah merasa dibantu bikin candi, meskipun yang ia bangun adalah candi Buddha, sebagai bukti cinta kepada Sang Suami, ia mendesain candi dengan tampilan mirip candi Hindu.

Coba jaman sekarang, baru pakai baju yang beda dikit aja udah dituduh “kamu tapir ya?!?!”

Makanya, waktu dikasih tema “if you could travel through time and spaces, where and when would you go?” saya berpikir, saya ingin merasakan hidup di jaman Candi Prambanan dan Candi Plaosan dibangun. Entah versi legenda atau versi penelitian sejarah, keduanya rasanya jauh lebih manis dibanding jaman (kehidupan beragama) di Indonesia sekarang ini.

28 Days Writing Challenge

Day 11: If you could travel through time and spaces, where and when would you go?

Seorang teman menantang saya untuk melakukan 28-Days Writing Challenge di blog ini. Aturannya sederhana; setiap hari dia akan meberikan sebuah tema dan saya harus menulis sebuah tulisan pendek (tidak lebih dari 500 kata) dari tema tersebut.

Baca semua artikel 28-Days Writing Challenge!

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
4 Responses
  1. Menurut saya toleransi itu adalah sifat asli bangsa Indonesia. Bisa kok kita hidup berdampingan dengan saling menghormati. Teladan kayak begitulah yang mestinya digalakkan kembali.
    Doh, Plaosan. Di saat kapan pun, candi ini akan selalu indah dan lengkap. Saya baru sekali ke sana, setelah baca ini makin kuat keinginan untuk kembali lagi dan melihat patung-patung di dalam ruang-ruang candi. Apalagi jika reruntuhan di depan sana bisa disusun, wah bakal jadi spektakuler banget.

    1. Parahita Satiti

      Kalau lagi jalan-jalan di pelosok Indonesia, sepertinya toleransi dan sikap saling menghormati itu masih terjaga banget, Gar. Tapi, kalau hidup sehari-hari di Jakarta, aku sih ragu toleransi itu masih ada. Ngeri kalau lihat orang dengan gampang main hujat karena beda agama.

      Aku yang asli Klaten aja baru sekali ke Plaosan, hihihi…

Leave a Reply