Mbok jamu dan senyum sumehnya

Keraton Solo dan Senyum Sumeh* Mbok Jamu

Menit pertama saya menginjakkan kaki di Keraton Solo, saya langsung jatuh cinta dengan atmosfer di tempat itu.

Adem ayem, membuncahkan rasa tentram di hati. Saat Pak Mul, pengemudi becak yang kami sewa seharian itu untuk keliling Solo, menurunkan kami di pintu masuk Keraton Solo untuk membeli tiket masuk, saya dibuat berdecak kagum dengan bangunan yang di dominasi warna putih dan biru muda itu.

Ya, ini pertama kalinya saya masuk ke Keraton Solo, setelah lebih dari 30 tahun bangga mengaku berdarah Jawa.

Menelusuri Lorong Menuju Keraton Solo
Menelusuri Lorong Menuju Keraton Solo

Dari tempat pembelian tiket, kami masih harus kembali naik becak Pak Mul untuk mencapai pintu masuk Keraton Solo. Turun dari becak, ada satu hal yang kembali membuat saya dan Bulan memekik kegirangan; Mbok Jamu.

Bergegas kami menghampiri Mbok Jamu yang bersimpuh di halaman keraton, bersama penjual souvenir dan mainan anak-anak yang sedang menata dagangannya.

“Mbah, nyuwun beras kencuripun kalih, nggih…” pinta saya sambil berjongkok di depan tenggok*-nya.

[Mbah, minta jamu beras kencurnya 2 gelas, ya…]

“Nggih, sekedhap nggih, Nduk…” jawabnya sambil menyingkirkan dua buah pecahan botol jamu dari pangkuannya.

[Ya, sebentar ya, Nak…]

Rupanya salah satu botol jamunya retak ketika diturunkan dari gendongan, dan ketika akan dikeluarkan dari bakul gendongannya botol kaca tersebut malah pecah jadi dua. Sebotol jamu kunir asem membasahi kain Mbok Jamu. Tanpa mengelap jamu yang membasahi tapih*, Mbok Jamu cekatan menuangkan jamu dalam dua gelas kecil dan mengulurkan kepada kami, tetap dengan senyum yang menentramkan hati.

Mbok jamu dan senyum sumehnya
Mbok jamu dan senyum sumehnya

“Sik, aku tak mulih ganti tapih sik yo.. Nitip sedhelo…” pamit Mbok Jamu pada Mbak Penjual Mainan disampingnya.

[Sebentar, aku pulang dulu ganti kain, ya… Titip (dagangan) sebentar…]

Dengan gerakan cekatan badan yang tidak lagi muda itu berjalan cepat meninggalkan halaman keraton, meninggalkan saya dan Bulan dalam kekaguman. Sedikit cipratan air lumpur bisa saja ditinggalkan oleh motor yang mendahului kita saat berjalanan menuju kantor, tapi bisakah kita tidak membiarkan noda di celana atau rok menghancurkan sisa hari kita?

 

Keraton Solo atau Kasunanan Surakarta?

Keduanya benar. Istilah “Keraton Solo” sering digunakan untuk menyebut bangunan dimana pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta berada. Sebenarnya di Solo sendiri terdapat dua keraton; Kasunanan Surakarta dan Keraton Mangkunegaran.

Gerbang di Keraton Solo
Gerbang di Keraton Solo

Sejarah panjang Keraton Solo dimulai sejak sengketa di dalam Kesultanan Mataram, hingga akhirnya Perjanjian Giyanti tahun 1975 memisahkan Kesultanan Mataram menjadi 2; Kesultanan Ngayogyakarta dengan Pangeran Mangkubumi sebagai rajanya dan Kasunanan Surakarta dengan Sunan Pakubuwono III sebagai pemimpin.

masa pemerintahan PB X
Tanda seperti ini untuk menandai bangunan yang didirikan pada masa pemerintahan PB X

Jatuh bangun kejayaan Kasunanan Surakarta silih berganti terjadi dari awal mula didirikan. Perjanjian Salatiga, Perang Pakepung, pemberontakan pada VOC dan dukungan pada Pangeran Diponegoro, puncak kejayaan sastra pada masa pujangga Ranggawarsita, hingga ketika Kasunanan Surakarta mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Pakubuwana X tahun 1893 – 1939 Masehi.

Banyak bangunan penting di kota Solo didirikan ketika Pakubuwana X memerintah, misalnya; Pasar Hardjanegara (Pasar Gede), Stasiun Jebres, Stadion Sriwedari, Jembatan Jurug, dan Menara Masjid Agung Solo.

Ketika berkunjung ke Museum Ullen Sentalu di kesempatan terpisah, ada sebuah kisah yang dituturkan oleh guide saya; konon Pakubuwana X sengaja menggemukkan badannya agar semua tanda jasa bisa muat dipasang di bajunya. Entah benar entah hanyalah becandaan saja cerita itu.

 

Panggung Sangga Buwana yang Membedakan

Banyak kemiripan antara bangunan Keraton Solo dan Keraton Jogja, namun ada satu bangunan di Keraton Solo yang tidak dimiliki oleh Keraton Jogja; Panggung Sangga Buwana.

Bagian Bawah Panggung Sangga Buwana
Bagian Bawah Panggung Sangga Buwana

Sebuah menara empat tingkat setinggi kurang lebih 30 meter, dengan 8 buah sisi yang menyimbolkan 8 arah mata angin. Menara yang didirikan tahun 1782 Masehi ini pernah terbakar pada 19 November 1954 dan dibangun kembali pada tahun 1959.

Panggung Sangga Buwana
Panggung Sangga Buwana

Pada awalnya berfungsi sebagai tempat bersemedi raja yang sedang berkuasa, juga sebagai menara pengawas keadaan sekitar keraton pada masa perang. Hingga saat ini menara ini masih sering digunakan sebagai tempat memohon keselamatan oleh keluarga keraton.

 

Bangunan Nan Menawan Itu…

Saya bisa membayangkan betapa megahnya Keraton Solo pada masa kejayaannya; tembok tinggi berwarna putih yang mengelilingi bangunan keraton dari mulai Gapura Gladhag, hingga ke dalam komplek bangunan inti keraton. Belum lagi Bangsal Sri Manganti yang menyimpan begitu banyak benda pusaka dan bersejerah Keraton Solo.

Bangunan Keraton Solo yang dipergunakan untuk jamuan kenegaraan
Bangunan Keraton Solo yang dipergunakan untuk jamuan kenegaraan

Berdiri di halaman keraton, tanpa alas kaki, merasakan butiran pasir yang konon dibawa dari pantai selatan pulau Jawa dengan estafet oleh rakyat Surakarta pada masa itu, mendengarkan abdi dalem keraton yang bertugas sebagai petugas pemandu menceritakan sejarah panjang keraton ini membuat saya makin terpukau dengan Keraton Solo.

Ada Apa di Balik Pintu Keraton Solo Ini
Ada Apa di Balik Pintu Keraton Solo Ini
Travelmate Duo Ginuk
Salam Manis dari #DuoGinuk di Keraton Solo

***

*Terjemahan Kata:

Sumeh: ramah, murah senyum

Tapih: kain jarik

Tenggok: bakul tempat membawa barang dagangan, biasanya lebih kokoh dari bakul tempat nasi

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
14 Responses
  1. Iya ya, Si mbok jamu woles banget, gak kayak kita (Pada umumnya) yang gampang kesel kalo ketumpahan/kecipratan. Apa jamu memang gampang bersihinnya ya?

    1. Parahita Satiti

      Iya, kan.. aku kalo pagi hujan trus kecipratan air sama motor/mobil bisa memble tuh seharian..

      Jamu, apalagi yang pake kunyit, udah pasti susah dibersihin, Vir. Tapi kayanya Mbah Jamu-nya santey aja gitu.. 🙂

    1. Parahita Satiti

      Kalau aku orang Jawa yang ga bisa selooww 😀

      Aku hampir semua jamu (beras kencur, kunir asem, godokan godhong kates, godokan sirih) doyan semua. Kecuali satu: brotowali. Nyerah kalo itu..

    1. Parahita Satiti

      Nah lo.. kata Pak Guide-nya waktu itu dari Pantai Selatan. Mungkin gw musti balik lagi ke sana untuk mastiin mana yang bener, hihi..
      Iya, di sana enak banget buat jalan sambil nyeker…

    1. Parahita Satiti

      Solo di pagi hari? Ah, itu syahdu banget yaaa…

      Ja..ja..jadi, kamu cuma kangen sama Kamar Halim, keraton dan Bulan? Ga kangen sama tulisanku yang udah seminggu absen? Hiks, atutediiihh…

  2. ajengria

    Kangen Solo. Kangen Naik Becak Keliling Keraton. Kangen Timlo.
    Pokoknya tempat ini bikin kangen.
    Kotanya adem, makanan murah, orang-orangnya woles.
    Seneng banget kalau sampai sana pagi buta. Ngeliat Mbak – mbak naik sepeda pancal berangkat ke pasar. Trus mampir sebentar minum kopi arang?

    Kemarin nyobain jajan ke GALABO gak mbak?

    1. Parahita Satiti

      Jatuh cinta banget lah dengan kota Solo… Ini kota cita-cita banget untuk pensiun, kedua setelah Malang.

      Sayangnya kemarin ga sempet ke Galabo, udah kekenyangan duluan di tempat lain, hehe.. Next time pasti disempetin mampir.

Leave a Reply