Search
Search

Kecewa dengan Pelayanan Solata Travel Saat ke Kepulauan Seribu

Kecewa dengan Solata Travel di Kepulauan Seribu

Sebenernya udah cape nyeritain tentang Solata Travel ini, #rauwisuwis kalo kata hashtag twitter.

Sudah puas saya nulis email panjang lebar ke penanggung jawab travel agent tersebut, tapi jawaban yang dikasih sama sekali tidak terdengar eh terbaca tulus, jadi ya maap-maap aja kalo terpaksa saya posting di sini ya…

Ini email yang saya dan Sisil tulis terkait trip Pulau Pari yang berubah jadi Pulau Tidung dan berakhir tidak menyenangkan itu…

 

Dear Solata Travel,

Kami adalah salah satu peserta trip dari Solata Travel (ST) yang harusnya berangkat ke Pulau Pari tanggal 13-14 April 2013, namun 8 jam sebelum waktu keberangkatan Anda ganti dengan pilihan Pulau Tidung atau Pulau Harapan, dengan alasan pemilik penginapan di Pulau Pari sedang terkena musibah dan tidak ada penginapan pengganti di pulau tersebut.

Kami bisa memahami orang terkena musibah. Namun sebagai event organizer professional, kami berharap ST menawarkan solusi yang lebih baik daripada sekedar ganti tujuan pulau, reschedule tanggal, atau pembatalan.

Misalnya, tetap diadakan tour ke Pulau Pari, namun dipilihkan tempat menginap di pulau lainnya yang terdekat, misalnya Pulau Pramuka. Toh rombongan saya tidak keberatan untuk menambah biaya sewa kapal snorkeling, Rp. 50.000/orang. Rombongan kami berjumlah 7 orang (8 orang jika full team). Dengan uang tambahan sewa kapal, kami tahu itu cukup untuk menyewa kapal keliling snorkeling dan mengantarkan kami ke pulau penginapan.

Atau menawarkan kepada kami opsi camping di Pulau Pari, misalnya. Apapun yang menunjukkan bahwa ST tetap berniat menjalankan trip Pulau Pari dan tidak mengecewakan customer-nya, delapan jam sebelum waktu keberangkatan.

Opsi reschedule yang ditawarkan tidak kami ambil karena kami satu rombongan terdiri dari 8 orang yang bekerja di tempat berbeda-beda. Akan sangat sulit mencari kembali waktu yang pas untuk reschedule jadwal. Dan terus terang, dengan pelayanan ST yang kurang responsif ketika kami menanyakan jadwal, fasilitas tour, dll, rasanya opsi reschedule hanya akan membuang percuma waktu kami saja.

Jadi kami memutuskan untuk mengambil pilihan pengalihan tujuan ke Pulau Tidung.

Ternyata, ketidakprofesionalan ST terus berlanjut;

 

  1. Jadwal Snorkeling
    Setibanya kami di Pulau Tidung, kami langsung menanyakan jadwal snorkeling. Dijawab oleh Sdr. Tegar bahwa snorkeling akan diadakan dimulai pukul 1 siang, setelah lunch. Ternyata hingga hampir jam 2, belum dimulai juga. Hingga akhirnya datang berita acara snorkeling ditunda besok pagi, karena ombak tinggi, dan kapal nelayan yang akan digunakan tidak bisa keluar dari dermaga. Masalahnya, penginapan sebelah ST tetap mengadakan snorkeling bagi tamunya. Setelah saya tanya tour guide mereka, kunci agar tetap bisa snorkeling adalah berkoordinasi dengan nelayan pemilik kapal sejak pagi. Jadi begitu angin datang dari arah selatan, nelayan akan memindahkan kapal ke sisi utara pulau sejak pagi. Hal ini yang nampaknya gagal dilakukan ST karena koordinasi yang buruk dengan pemilik kapal.
  1. Fasilitas alat snorkeling dan keamanan kapal.
    Mask dan snorkel dalam keadaan kuning dan baret. Fins dikatakan all size, padahal fins jelas-jelas ada ukurannya di bagian telapak. Hampir semua fins yang disediakan adalah jenis open heels yang hanya nyaman jika dipakai bersama booties. Beruntung saya membawa sendiri peralatan snorkeling saya, jadi tidak usah mengalami penambahan ke-bete-an masalah alat. Tapi sungguh sial bagi teman-teman saya yang tidak membawa fins karena yakin ST akan menyediakan fins yang sesuai ukuran kaki yang sudah kami daftarkan sebelumnya. Pilihannya hanya 2: snorkeling dengan fins tidak nyaman atau snorkeling lambat tanpa fins.Yang lebih parah soal pengaturan kapal untuk snorkeling, kami disuruh jalan tanpa pemandu ke arah kapal, nahkoda kapal menolak berangkat tanpa pemandu,  dan setelah kami telp dengan nada tinggi, barulah pemandu datang dengan membawa tambahan peserta yang langsung naik kapal tanpa babibu lagi walau kami sudah protes dengan keras karena jumlahnya terlalu banyak. Kapal kecil yang kata nahkodanya maksimal diisi 15 orang, total diisi 21 orang. Saya bersyukur tidak terjadi musibah apapun pagi itu.Ditambah lagi, seharusnya kami mendapat 3 spot, tapi hanya 2 spot. Rugi kami, Pak.

    Ketika kami bertemu dengan 1 kapal lainnya (katanya 2 kapal tambahan, tapi yang muncul 1 kapal), tidak ada inisiatif untuk memindahkan peserta yang telat masuk ke kapal pertama ke kapal kedua. Seharusnya kan sudah ada pembagian kelompok terlebih dahulu untuk snorkeling. Lagi-lagi koordinasi yang  buruk.

  1. Penyediaan makanan.
    Jika anda membuat tour dengan 42 peserta, dan ke 42 peserta tersebut semuanya membayar biaya makan, maka anda wajib menyediakan porsi yang sama untuk semua peserta. Bukan dengan melarang peserta tour untuk mengambil ikan dalam potongan besar. Jika anda yakin ikan yang anda sajikan memang cukup untuk 42 orang, mengapa tidak dipotong saja dari awal jadi 42 porsi, jadi ketika tidak cukup maka itu salah peserta yang serakah.Perhatikan kebersihan peralatan makan dan minum. Seorang teman saya mendapati ada kecoa bersembunyi diantara keranjang rotan yang digunakan sebagai alas makan.Saya (Titi) sendiri menjadi korban kotornya air dispenser. Ketika snorkeling, saya membawa bekal minum yang saya ambil dari dispenser. Pas minum, kok rasanya aneh. Setelah saya perhatikan, ternyata air tersebut penuh dengan endapan kerak bahkan jentik nyamuk. Langsung saya muntah. Dan ternyata ada 1 peserta laki-laki yang mengalami hal yang sama dengan saya sebelum berangkat snorkeling. Sungguh menjijikan. Bahkan hal sederhana seperti kebersihan alat makan saja tidak becus.

    Banyak alasan aneh. “Ikannya sulit dicari sekarang….” Maksudnya? Bukannya kami berangkat dari Angke yang nota bene pelabuhan ikan? Kenapa tidak ada persiapan? Banyak warung di Tidung. Kami dikasi makan apa saja juga terima kok, yang penting ADA MAKANAN. Kasihan beberapa teman kami yang tidak kebagian lauk padahal sudah sama-sama bayar.

    Ditambah lagi, kami juga pergi snorkeling tidak diberi makanan. Makanan baru siap pas ketika baru mau berangkat snorkeling. mana ada waktu? Seharusnya kan minimal teh manis atau setangkup roti saja supaya perut terisi. 

  1. Panitia yang tidak helpful sama sekali
    Berkali-kali kami seperti ditinggal begitu saja oleh panitia, mulai dari ketika kapal berangkat dari Muara Angke, tiba di Tidung, sampai berangkat lagi ke Angke. Seharusnya 1 guide ditugaskan untuk mengurus 1-2 grup (cukup koordinasi dengan pemimpin grup yaitu yg pesan voucher, tidak perlu dengan semua peserta) begitu juga untuk pergi snorkeling. Jadinya kan kami tidak perlu telpon berkali-kali.Beberapa pertanyaan mengenai itinerary juga tidak jelas. Misalnya saja pada hari pertama kita tanya jam berapa snorkeling, jawabannya beda-beda, dari jam 1, 1.30 sampai jam 2. Malah kesannya sok pintar dengan bilang “snorkeling jam berapa saja bisa, kan laut jernih airnya.” Jawaban macam apa itu? Kami bukan baru sekarang ke laut ya Pak, jadi kami tahu semakin sore, semakin rendah visibility.Trip yang kami impikan bisa mengobati rasa kangen pada laut setelah 4 bulan tidak snorkeling, ternyata malah berakhir dengan kekesalan. Thanks to you, Solata Tours. Baru sekarang Pak, terus terang, kami mendapat pengalaman seperti ini. Kami sudah  berkali-kali ke Kep. Seribu dengan EO lain tapi tidak ada masalah signifikan karena basic needs kami terpenuhi, yaitu makan, kapal snorkeling, panitia yang tanggap.

    Mudah-mudahan apa yang kami bagi disini bisa membuat ST membenahi diri. Jika tidak, semoga bisa jadi pertimbangan orang lain saat akan menggunakan jasa ST. Teman kami kebetulan ada yang tadinya mau reschedule (tadinya kami berdelapan) tapi karena situasinya demikian, dia akan minta refund. Tolong difasilitasi.

Regards, 
Silvana dan Titi

 

Dan inilah balasan dari Solata Travel:

Selamat sore.

Mohon maaf atas ketidaknyamanan nya.
Terima kasih atas saran dan perhatian ibu Silvana, untuk keluhannya akan kami follow up dan tegur Tour Guide serta Stake Holder kami terkait.
Email ini masukan yang baik untuk kami,  semoga kedepannya Solata dapat lebih baik lagi.

Terima kasih

Best Regards,
Rizki

THAT’S ALL.

Sama sekali ga ngasih penjelasan kenapa semua hal yang kami keluhkan itu bisa terjadi.

Saya ga mau mutus rejeki orang ya… Tujuan saya posting di sini cuma biar pengalaman kami dibaca orang.

Mudah-mudahan sih emang cuma rombongan kami aja yang siyal dapat pelayanan buruk dari Solata Travel. Semoga mereka bener-bener memperbaiki diri dan ga ngaco lagi.

Written by
Parahita Satiti

About me

 

Parahita Satiti; suka jalan-jalan dan bercerita. Makanya dia bikin blog ini. Kalau mau tanya/ngobrol/kerjasama dia bisa dihubungi lewat email: [email protected]

Member of

Travel Blogger Indonesia