Search
Search

Kang Yadi dan Si Kecil Ahmad dari Cibeo

Porter menuju Baduy Luar dan Baduy Dalam

Kang Yadi dan putra bungsunya, Ahmad. Saya bertemu keduanya di Ciboleger saat akan main ke kampung Baduy Dalam, November 2014 lalu. Kang Yadi bersama teman satu kampungnya, Kang Naldi, menawarkan diri untuk membawakan tas kami.

Yang membuat saya terkesan dari si kecil Ahmad adalah bagaimana anak sekecil itu tidak pernah merengek atau merajuk pada ayahnya. Dalam diam ia mengikuti setiap langkah orang tuanya. Bersama-sama dengan kami menyusuri jalan setapak menuju Kampung Cibeo.

Waktu saya tanya ke Kang Yadi berapa umur Ahmad, ia menjawab 10 tahun. Namun saya ragu 10 tahun yang dimaksud Kang Yadi adalah 10 tahun dalam kalender masehi. Sebab, ciri-ciri fisik Ahmad belum menunjukkan ia berumur 10 tahun.

Kalau soal tinggi badan, memang orang Baduy secara umum tidak terlalu tinggi. Saya perhatikan gigi dewasa Ahmad yang tumbuh baru satu buah, gigi seri atas sebelah kanan. Jadi saya menyimpulkan mungkin usia Ahmad berkisar antara 6 atau 7 tahun.

Anak kecil lain seumuran Ahmad mungkin akan merengek jika capek berjalan, atau kepengen kalau lihat orang lain makan. Atau nangis ingin beli mainan atau jajanan. Tapi tidak dengan Ahmad.

Dalam perjalanan menuju Kampung Cibeo, saya pernah sekali mencoba menggoda Ahmad. Saya mengeluarkan sebungkus biskuit cokelat, dan membuka bungkusnya dengan penuh gaya di depannya, namun saya pura-pura tidak menawarkan biskuit cokelat itu padanya. Ahmad hanya melihat saya dalam diam. Tak ada satu raut muka ingin minta biskuit pun dalam air mukanya.

“Ahmad mau?” akhirnya saya menawarkan biskuit coklat itu.

Ia mengalihkan pandangan ke ayahnya, dan setelah mendapati tanda ayahnya tidak keberatan, Ahmad mengangguk pelan. Ia mengambil satu keping biskuit cokelat dari bungkus yang sodorkan, dan ketika saya paksa untuk mengambil lebih banyak, ia hanya menggeleng. Mungkin memang begitu cara suku Baduy membesarkan anak-anaknya. Tidak dengan teriakan larangan akan ini itu, tidak dengan ekspektasi anaknya harus bisa ini-itu.

Sang anak pun sebaliknya, tidak biasa untuk merengek atau merajuk. Anak perempuan sedari kecil sudah belajar dari ibunya; mengurus rumah tangga, berkebun dan menenun. Yang laki-laki sedari kecil terbiasa berjalan kaki mengikuti ayahnya kemana-mana.

Baca juga: Pengalaman trekking 8 jam jalan kaki di Baduy

***

Dua minggu lalu waktu saya berkunjung ke Cibeo lagi, saya bertemu Ahmad sepulang saya dari mandi di sungai. Saya menyapanya.

“Ahmad, ya?”

Iya hanya mengangguk dan tersenyum lebar, memamerkan keempat gigi serinya yang kini sudah berganti dengan gigi dewasa.

“Masih ingat saya, nggak?”

Ahmad menggeleng. Tapi saya maklum, dalam dua tahun ini mungkin ia bertemu ratusan orang baru selama ikut ayahnya keluar masuk kampung dan ladang. Dan ia masih terlalu kecil untuk mengingat pertemuan dengan saya.

Written by
Parahita Satiti

About me

 

Parahita Satiti; suka jalan-jalan dan bercerita. Makanya dia bikin blog ini. Kalau mau tanya/ngobrol/kerjasama dia bisa dihubungi lewat email: [email protected]

Member of

Travel Blogger Indonesia