Mural Kotagede

Jatuh Cinta Sekali Lagi dengan Jogjakarta Berkat Kotagede

Saya tiba di Jogjakarta menjelang senja. Pengemudi ojek online yang mengantar saya dari stasiun kereta api Tugu menuju Bhumi Hostel sedikit heran ketika tahu tujuan adalah ke Kotagede.

“Biasanya anak muda milih nginepnya kalau ndak di Malioboro ya di Prawirotaman, Mbak. Mau lihat apa di Kotagede?” tanyanya di tengah kemacetan Malioboro.

Ketika merencanakan liburan tahun baru ke Jogja, Kotagede tidak termasuk dalam daftar tujuan saya. Hanya karena saya tidak mendapatkan hostel yang masih kosong di daerah Malioboro-lah yang akhirnya membawa saya menjelajahi Kotagede.

Ternyata setelah saya sedikit mencari info mengenai Kotagede di Instagram dan postingan blog beberapa teman, saya jatuh cinta dengan tempat itu. Banyak sekali tempat unik yang kata anak jaman sekarang sangatlah  instagramable di Kotagede.

Bekas Pasar Keroncong Kotagede 2016
Salah satu spot bekas Pasar Keroncong Kotagede 2016

“Penginapan murah di sekitar sini sudah penuh semua, Pak. Lagi pula, saya belum pernah ke Kotagede jadi sekalian pengen ngerasain Kotagede kaya apa” saya menjawab sambil sedikit berteriak, mencoba mengalahkan derap kaki dua ekor kuda yang menarik andong di samping motor kami.

Sekitar 30 menit kemudian kami tiba di Bhumi Hostel, penginapan tempat saya akan menghabiskan satu malam di Kotagede. Di depan Bhumi Hostel ada sebuah lapangan sepakbola, dan di pinggir lapangan itu banyak terdapat penjual makanan kaki lima; mulai dari angkringan hingga bakmi jowo. Saya senang karena saya tak perlu pergi jauh untuk mencari makan malam.

Selesai check-in dan membersihkan badan saya keluar penginapan dan berjalan mengelilingi lapangan sepakbola yang belakangan saya tahu bernama Lapangan Karang. Selain ingin meluruskan kaki yang seharian ditekuk dalam perjalanan dari Jakarta ke Jogjakarta, saya pengen milih-milih dulu makanan apa yang akan saya santap malam itu.

Seporsi Bakmi Godhog
Seporsi Bakmi Godhog

Pilihan akhirnya jatuh ke penjual bakmi jowo yang ada tepat di seberang Bhumi Hostel. Saya memesan seporsi bakmi godhog dan segelas air jeruk hangat. Pak Mo, penjual bakmi di warung itu  sambil memasak pesanan saya berbasa-basi menanyakan apakah saya menginap di Bhumi Hostel. Ia lalu bercerita, biasanya yang nginep di sana kebanyakan bule-bule, kadang mereka juga memesan bakmi dan nasi goreng dari warung ini. Yang paling banyak dipesan biasanya bakmi goreng dan nasi goreng.

Sambil menyantap bakmi godhog yang terhidang saya masih mendengarkan cerita Pak Mo, lama-kelamaan cerita Pak Mo berhenti karena pembeli lain berdatangan dan ia sibuk melayani. Bakmi godhog itu, meskipun sangat sederhana ternyata nikmat sekali. Dan yang membuat saya tersenyum makin lebar, saya hanya perlu membayar IDR 13.000 untuk seporsi bakmi godhog dan air jeruk hangat.

Jika urusan perut teratasi, makin mudah untuk jatuh hati ‘kan?

Salah satu rumah menarik di Kotagede
Salah satu rumah menarik di Kotagede

Keesokan hari, target saya adalah berjalan kaki dari penginapan ke Makam Raja-Raja Mataram. Setelah mengecek rute jalan kaki di google maps, ternyata hanya dibutuhkan 15 menit berjalan kaki menuju tempat itu. Berdua dengan Ima, kawan yang baru saya kenal pagi itu di Bhumi Hostel, kami berjalan menelusuri gang-gang perkampungan Kotagede.

Pagi belum lewat pukul sembilan saat kami keluar dari penginapan. Saat melewati perkampungan ada beberapa ibu paruh baya yang sedang menyapu halaman. Beberapa sedang menjemur pakaian. Ibu-ibu yang memiliki anak balita sedang menyuapi makan pagi anak yang ada di gendongannya. Beberapa kami tersenyum pada ibu-ibu yang memandang ramah kepada kami. Kami tahu, mereka pasti merasa kami bukanlah orang daerah sini. Dan tersenyum ramah adalah cara termudah untuk bisa ‘diterima’.

Mural di Kotagede Jogja
“Harerewangan” kata dalam bahasa Jawa yang berarti “Saling Bantu-Membantu”

Ingat ‘kan saya di awal sudah cerita sebelum pergi ke Jogja, saya sudah browsing mengenai Kotagede di Instagram? Saya banyak menemukan foto-foto cantik sudut-sudut Kotagede. Dari mulai rumah kuno, masjid, hingga gang-gang penuh mural/street art. Sayangnya hampir semua foto tidak mencantumkan posisi yang jelas disebelah mana foto tersebut diambil.

Jadi, betapa bahagianya saya dan Ima ketika asal saja mengambil rute jalan kaki dari penginapan ke Makam Raja-Raja Mataram, ternyata kami berhasil menemukan spot-spot yang selama ini hits di Instagram!

Pintu rustic di Kotagede
Pintu yang rustic-nya gemesin ini akhirnya ketemu juga!

Dari mulai sebuah pintu berwarna abu-abu dengan dinding penuh tanaman rambat di sekitarnya, hingga sebuah rumah kuno dengan jendela dan pintu yang rustic, dinding penuh mural dengan wejangan berbahasa Jawa yang penuh nasihat, hingga kampung unik ‘Between Two Gates’ yang sungguh bikin saya pengen tinggal di sana.

Lorong di Kampung Between Two Gates
Lorong di Kampung “Between Two Gates”
pintu rumah di Kampung Between Two Gates
Salah satu pintu rumah di Kampung Between Two Gates

Dengan Kotagede, sekali lagi Jogjakarta memikat hati saya. Jika kamu pernah merasa bosan berkunjung ke Jogjakarta, dengan Malioboro – Kraton – dan Candi Prambanan lagi, cobalah main ke Kotagede. Siapa tahu, seperti saya, kamu akan jatuh cinta.

28 Days Writing Challenge

Day 6: Destination

Seorang teman menantang saya untuk melakukan 28-Days Writing Challenge di blog ini. Aturannya sederhana; setiap hari dia akan meberikan sebuah tema dan saya harus menulis sebuah tulisan pendek (tidak lebih dari 500 kata) dari tema tersebut.

Baca semua artikel 28-Days Writing Challenge!

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
16 Responses
  1. Kotagede my love!
    Jalan-jalan di Kotagede asal aja pasti nemuin banyak dinding, pintu dan jendela yang cakep.. belum lagi lorong-lorongnya juga seru. Kalo di Lapangan Karang, makanan paling favorit gua tongseng ayam tapi adanya cuma siang hari..hehe..
    Btw udah semakin instagramable nih pose2nya, kak! 😀

    1. Parahita Satiti

      Wah, ada tongseng ayam! Coba ketemu waktu itu, pasti tak cobain. Tanda musti balik ke Kotagede lagi ini, sih…

      (modus untuk foto di rumah Pesik, belum sempet ke sana juga)

  2. weh Mba. Di jogja kok ga kabar2 nih?
    aku lagi sering ke Kotagede btw. lagi mengkhatamkan jelajah kota pusaka di sana. Mau ke tempat watu gilang juga. Banyak tempat menarik sih. ga cukup satu hari jalan2 ke kotagede. Lebih menarik lagi kalau datang di hari pasaran Legi, Mba.
    Tiap kali ada yang ke Kotagede, pasti foto di pagar berdaun itu ya. haha. hits banget rasanya

    1. Parahita Satiti

      Hahaha.. ini #latepost kok, Nif. Aku ke Jogja-nya pas libur tahun baru, dadakan (untung masih dapat tiket KA) karena tiba-tiba kok bosen ya di Jakarta doang.

      Iya, Kotagede itu ternyata setiap sudutnya instagramable banget. Aku sampai bingung mau foto yang mana dulu, hihi. Kalau pasaran Legi ada apa? Pasar-pasarnya lebih rame? atau banyak yang ziarah di Makam raja-raja Mataram itu?

      Oke, nanti tak jadwalin kalo pas Legi-nya pas week end, aku mau sempetin balik lagi ke Kotagede. Thanks infonya!

      PS: aku seneng banget ga sengaja ketemu pintu abu-abu itu. Udah nanya orang di penginapan, ga ada yang tau lho letak pintu abu-abu itu. Hahahaha…

      1. Hhaa. Udah ke Makam? masjid gede? masjid perak? watu gilang belum?
        Oh, ini latepost.
        Pasarnya memang lebih rame. Tapi itu juga bagian dari sejarah Mba. Pasar manuk. hehe. Ga bisa terpisah dari jalur heritagenya Kota Gede pasar itu.

        1. Parahita Satiti

          Masjid Gede yang disamping makam raja-raja ya? masjid perak aku lewat depannya doang. Watu Gilang belum, Rumah Pesik juga belum. Fix, ini sih musti jadwalin balik ke Kotagede.

  3. Iin

    Akupun pas tahun 2015 main ke Jogja juga mampir ke Kotagede. Jalan kaki keliling ketemu pasar tradisional, tembok penuh mural, pemukiman ala rumah joglo dgn lorong-lorong yg bikin tenang, ujung-ujungnya jajan di pabrik coklat monggo hahaa

        1. Parahita Satiti

          Hahaha… untung daging sapi, jadi aku bisa nyobain. Tadi aku udah kepikiran kalo daging kambing (kan sate yang terkenal di jogja mostly sate kambing yaaa…) aku udah nyerah duluan, ga doyan. hehehe…

    1. Parahita Satiti

      Ya ampun, aku beneran jadi penasaran sama Sate Karang!

      Yuk nanti pas kamu udah pulang ke Indonesia kita ke Jogja, First!

      *Gandeng Bulan juga*

Leave a Reply