Malam untuk bikin kain batik

Batik, Si Intangible Cultural Heritage of Humanity dari Indonesia

Batik Bukan Punya Indonesia

Negara lain boleh mengakui batik adalah milik mereka, namun selama masih ada orang yang menggoreskan canting berisi malam panas di atas kain di Indonesia, saya rasa batik akan selamanya menjadi warisan kemanusiaan untuk budaya lisan non bendawi (intangible cultural heritage of humanity) milik kita. Ya, yang diakui UNESCO sebagai kekayaan milik Indonesia itu teknik membatiknya, bukan fisik kain batiknya.

Salah juga kalau kita jumawa bilang batik itu asalnya dari Indonesia. Diyakini bahwa batik itu berasal dari Mesir Kuno atau Sumeria. Dari Afrika batik bisa sampai ke Nusantara dibawa oleh kapal-kapal pedagang dari Arab dan Cina yang berdagang dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Tak heran jika kota-kota pelabuhan di Indonesia seperti Pekalongan, Cirebon, Semarang, dan Lasem juga menjadi sentra batik di Indonesia. Batik juga ada di negara-negara yang disinggahi kapal-kapal dagang itu misalnya; India, Cina, Srilanka, Malaysia, Thailand dan Jepang.

Batik cap motif Garutan
Batik cap motif Garutan, batik bisa juga warna soft pink gini!

Setelah masuk ke Nusantara batik berkembang pesat, terutama dari segi motif dan teknik. Motif-motif baru tercipta dari hasil akulturasi budaya di Nusantara. Muncul batik dengan warna-warna sogan khas kerajaan Mataram, batik-batik pesisir yang khas dengan warna cerah, batik Lasem dengan warna abang getih pitik-nya yang tiada dua, batik Madura dengan paduan warna-warna tua yang tegas. Itu baru dari segi warna, belum lagi ribuan motif batik yang ada hingga sekarang ini. Dari motif yang sarat filosofi Jawa, hingga yang bergambar flora dan fauna dari pengaruh budaya Cina (burung hong, naga, bunga teratai, bunga mei hwa), bergambar aktivitas orang (yang ini biasanya batik dengan pengaruh Eropa), hingga batik hokkaido; batik dengan pengaruh budaya Jepang yang kini sudah sangat langka.

Ratusan, bahkan mungkin ribuan tahun batik ada di Indonesia dan hingga kini mungkin hanya di Indonesia saja yang masih memproduksi batik tulis dengan canting dan proses pewarnaan pencelupan, maka tak heran jika UNESCO menetapkan teknik membatik tadi sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan non bendawi milik Indonesia.

Belajar Membatik itu Tidak Mudah

Membatik, utamanya batik tulis, bukanlah pekerjaan untuk semua orang. Kita harus punya kesabaran dan ketelitian extra untuk bisa dengan sangat rapi mengoleskan malam panas di atas kain sesuai gambar pola yang sudah ditetapkan. Jika cara memegang canting kita salah, alih-alih  keluar dengan lancar bisa saja malam yang ada di canting tidak keluar sama sekali atau malah bisa bleberan mengotori kain.

Proses nyanting kain batik
Proses nyanting kain batik

Malam yang salah oles ini tidak bisa dihapus begitu saja seperti saat kita salah gambar dengan pensil. Malam baru bisa dihapus saat proses nglorod (meluruhkan malam dengan air panas dan zat kimia tertentu). Baru setelah itu diulang lagi proses nyanting-nya. Phew!

Makanya, pas saya main ke toko batik milik Ibu Ninik Ichsan di Trusmi, Cirebon dan pengen punya foto lagi pura-puranya nyanting, mbak yang lagi ngerjain batiknya pesan wanti-wanti bilang “pakai canting yang kering aja ya, Mbak”. Tentu saja saya nurut. Nggak kebayang rasanya kalau kain yang sudah setengah bagian di-canting-nya rusak gara-gara saya nggak sengaja netesin malam di tempat yang salah. Huhu, bisa rusak kain batik tulis seharga jutaan rupiah cuma gara-gara demi konten ‘kan!

nyanting batik
Ini pura-pura doang, Gaes!

Nyanting alias mengoleskan lilin di atas kain mengikuti pola gambar tertentu, itu cuma satu bagian kecil dari proses produksi kain batik yang amat panjang. Sebelumnya nyanting ada proses pra-produksi yang tak kalah rumit; tumpukan bahan kain dipukul-pukul terlebih dahulu agar lemas serat kainnya, lalu dicuci untuk menghilangkan bahan kimia dari proses pembuatan kain di pabrik, setelah itu kain digambari pola yang diinginkan, baru kemudian siap di-canting.

Untuk kain batik tulis dengan proses pewarnaan celup, setelah di-canting kain kemudian dicelup untuk warna pertama kali, lalu diangin-anginkan. Setelah itu di-lorod; malam yang menutupi bagian gambar tertentu dilarutkan, dan kain diangin-anginkan kembali hingga kering. Setelah itu ulangi lagi nyanting untuk menutupi bagian yang sudah diwarnai sebelumnya. Lalu ulangi lagi untuk proses pewarnaan selanjutnya.

Kebayang ‘kan kalau di sebuah kain batik tulis terdapat lima warna berapa kali proses nyanting yang harus dilalui?

Sekarang sudah ada batik tulis dengan pewarnaan colet (dioles), bukan dicelup. Dengan teknik ini proses pewarnaan bisa dilakukan untuk beberapa warna sekaligus, dan pencelupan hanya dilakukan untuk pewarnaan ‘background’ kain saja, sehingga proses nyelup dan nglorod bisa diminimalisir sehingga berdampak pada biaya produksi yang lebih efisien.

intangible cultural heritage of humanity
Membuat gambar pola batik

Saya pernah ngobrol dengan tujuh orang pengrajin batik di sebuah workshop batik di Lasem. Salah seorang pengrajin batik itu bercerita, beliau sudah belajar membatik sejak usia 12 tahun. Lima tahun kemudian ia baru diperbolehkan nyanting di rumah produksi batik tersebut, setelah sebelumnya hanya diberi pekerjaan selain nyanting. Tahun lalu, beliau genap bekerja selama 46 tahun di sana. Dalam obrolan itu pun ia bilang “nggak ada orang pegang canting langsung bisa mbatik. Harus telaten belajar dan punya niat yang sangat kuat.”

Batik Cap – Sama Cantik, Lebih Mudah dan Murah

Beberapa kali pergi ke tempat pembuatan batik, saya baru tahu proses pembuatan batik cap setelah ikutan workshop batik di Batik Komar; sebuah sentra pembuatan batik di kota Bandung. Sebelumnya saya sudah pernah lihat sih plat atau cetakan batik cap itu di pasar barang antik Jl Surabaya, Jakarta. Pernah lihat juga pas main di sebuah rumah di Lasem, tapi nggak kebayang gimana cara kerjanya.

cetakan batik cap
Aneka bentuk cetakan batik cap.

Di sebuah meja lebar tumpukan kain lembab dibentangkan, di atas tumpukan kain digelar sebuah karung plastik. Setelah karung plastik tersebut menyerap air dari kain di bawahnya, bahan kain yang akan dibuat batik cap ditata sesuai posisi pola yang ingin di-cap. Lempengan plat pola batik kemudian dicelupkan ke permukaan malam, setelah itu segera ditempelkan ke kain dan sedikit ditekan, namun harus dijaga agar cetakan itu tidak bergeser karena tekanan.

Di situ saya tahu fungsi kain lembab dan karung plastik di bawah kain yang akan dicap tadi; ia menjaga agar kain tidak terbakar oleh panasnya plat batik cap yang ditekan ke kain.

batik cap pekalongan
Begini cara pembuatan batik cap

Jika proses nyanting di dalam pembuatan batik tulis bisa memakan waktu 2 hingga 4 minggu untuk selembar kain berukuran 1.15 m x 2 m, maka proses ngecap malam paling lama hanya memakan waktu 15 menit hingga 30 menit, tergantung kerumitan motif. Selepas proses pengecapan malam, kain kemudian dicelup atau bisa juga dicolet untuk pewarnaan. Untuk memproduksi kain batik cap yang memiliki banyak warna, maka proses pengecapan harus diulang kembali seperti ketika memproduksi batik tulis.

pewarna batik
Proses pewarnaan batik cap

Saya punya teman yang berpendapat bahwa batik cap tidak bisa disebut kain batik karena kain ini tidak melewati proses penyantingan seperti batik tulis.

Menurutnya, kain batik cap hanya bisa disebut kain bermotif batik, sama halnya dengan kain printing buatan pabrik.

Saya nggak setuju, sih. Karena menuru saya, meskipun tidak melewati proses nyanting, batik cap masih menggunakan malam sebagai “penghalang” saat proses pewarnaan. Sesuatu yang tidak ada di proses pembuatan kain printing.

Menjaga Gelar Intangible Cultural Heritage of Humanity

Adalah suatu keniscayaan batik (dan juga semua kekayaan kain Nusantara lainnya) yang kita punya akan punah kalau kita tidak pernah membeli hasil karya para pengrajin kain itu. Kalau nggak ada yang beli, bagaimana para pemilik usaha rumah batik bisa menggaji pegawainya dan mempertahankan usahanya?

batik garutan
Batik garutan motifnya anak muda banget!

Kalau kita cuma mau bayar murah untuk selembar kain indah yang proses pembuatannya bisa memakan waktu bulanan, otomatis para pengusaha batik hanya akan sanggup membayar murah para pengrajin. Lama kelamaan, karena penghasilan sebagai pengrajin batik tidak memadai, nggak akan ada anak muda yang mau jadi pengrajin batik.

Yuk, kita mulai dari diri kita sendiri untuk ikutan menjaga gelar intangible cultural heritageof humanity yang kita miliki lewat batik agar tidak punah!

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.

Leave a Reply