Gereja Sion

Gereja Sion, Gereja Para Portugis Hitam

Dengan panduan google maps saya berjalan dari Stasiun Kota menuju Gereja Sion. Pagi itu saya akan bergabung dengan rombongan dari @IWasHereID untuk menyusuri jejak peninggalan bangsa Portugis di Jakarta. Penelusuran tersebut akan dimulai dari Gereja Sion ini.

Seorang pria berperawakan kecil menghampiri kami, ia memperkenalkan diri sebagai Pak Tasum, koster di Gereja Sion. Pak Tasum lalu mengajak kami masuk ke dalam gereja. Ia lalu mulai menerangkan bagaimana gereja ini dibangun.

Gereja Sion pada awalnya hanyalah berupa pondok kecil yang dibangun di luar tembok kota Batavia pada tahun 1693. Meski bernama ‘gereja Portugis’ sesungguhnya gereja ini tidak dibangun oleh bangsa Portugis, melainkan oleh bangsa Belanda. Pondok kecil tersebut akhirnya dibangun menjadi sebuah bangunan gereja permanen oleh Belanda, dan pembangunannya selesai pada tahun 1695.

Untuk ukuran sebuah gereja, bangunan gereja Sion terhitung sederhana. Tak banyak ukiran maupun menara yang menghiasi. Hanya ada sebuah lonceng sederhana di bagian depan yang digunakan untuk memanggil umat. Namun jangan ragukan kekuatan bangunannya. Bangunan ini telah terbukti tahun guncangan gempa yang berkali-kali mengguncang Batavia.

Interior Gereja Sion
Bagian dalam gereja Sion, yang di tengah itu, tempat duduk bagi rakyat kebanyakan pada jaman Belanda

Rahasia kekuatan bangunan gereja Sion mungkin terletak pada pondasinya. Konon, ratusan kubik kayu pohon utuh berukuran besar disusun berdiri sebagai pondasi gereja ini. Lalu disela-sela barisan kayu tersebut diisi dengan pasir yang berfungsi sebagai peredam goncangan.

Belanda membangun Gereja Sion ini diperuntukkan bagi kaum Portugis Hitam, mungkin dari sinilah kesalahkaprahan tentang gereja Portugis ini berasal. Kaum Portugis Hitam adalah orang-orang yang dibawa Belanda ke Batavia dari daerah-daerah jajahan Portugis di Asia yang berhasil dikalahkan Belanda.

Kursi di Gereja Sion
Kursi di sisi kiri dan kanan gereja ini dulunya diperuntukkan bagi para pengacara dan petinggi gereja

Orang-orang itu dibawa Belanda dengan status sebagai budak. Sesampainya di Batavia, Belanda menawarkan kemerdekaan bagi mereka dari status sebagai budak dengan syarat mereka mau berpindah agama dari Katolik (agama resmi bangsa Portugis) menjadi Kristen Protestan. Ketika mereka bersedia, Belanda lalu membuatkan gereja yang pada awalnya bernama De Nieuwe Portugeesche Buitenkerk ini.

Kaum Portugis Hitam ini lah yang nantinya akan menjadi cikal bakal leluhur penghuni Kampung Tugu di Semper, Jakarta Utara.

Baca juga: Menari di Perayaan Mandi-mandi Kampung Tugu

Ubin Gereja Sion
Satu ubin ini beratnya 10 kilogram!

Bagi saya, yang menarik dari bangunan Gereja Sion adalah lantainya. Terbuat dari batu hitam berukuran sekitar 50×50 cm dengan ketebalan sekitar 10 cm. Kata Pak Tarsum, satu buah tegel batu itu beratnya 10 kilogram!

Hampir semua bagian gereja masih asli, termasuk kursi-kursi yang pada jaman dahulu digunakan sebagai tempat duduk Gubernur Jenderal Belanda dan para petinggi gereja lainnya. Juga sebuah orgel kuno yang masih berfungsi hingga sekarang. Sayangnya, orgel putar tersebut hanya dimainkan saat Ibadah Minggu Pertama setiap bulannya.

Tangga naik ke ruang orgel di Gereja Sion
Tangga naik ke ruang orgel
Orgel Kuno di Gereja Sion
Orgel kuno yang hanya dimainkan di minggu pertama setiap bulannya

Karena hari beranjak siang dan gereja akan digunakan untuk ibadah, kami berpamitan dengan Pak Tarsum di halaman Gereja Sion dan melanjutkan perjalanan penelusuran jejak bangsa Portugis di Batavia.

28 Days Writing Challenge

Day 8: Tempat Ibadah

Seorang teman menantang saya untuk melakukan 28-Days Writing Challenge di blog ini. Aturannya sederhana; setiap hari dia akan meberikan sebuah tema dan saya harus menulis sebuah tulisan pendek (tidak lebih dari 500 kata) dari tema tersebut.

Baca semua artikel 28-Days Writing Challenge!

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
5 Responses
  1. Wah, Gereja Sion. Dari dulu saya penasaran deh dengan bagian dalamnya. Ini gereja tertua di Jakarta kan ya, kalau tak salah. Mengagumkan bagaimana ia masih bertahan sampai selama ini. Ternyata kendati gereja ini dibangun, kasarnya, cuma untuk budak, tapi pembangunannya pun total, pakai pondasi yang sangat kuat. Pada gilirannya gereja ini bertahan lebih lama dari gereja pokok untuk orang Belanda sendiri yang ada di dalam tembok kota. Seakan-akan sebuah sindiran, hehe.

    1. Parahita Satiti

      Sempetin masuk ke sana, Gara… biar ga penasaran lagi.

      Yap, ini salah satu gereja tertua yang ada di Batavia. Mungkin karena Belanda ingin “merebut” hati para budak itu, jadinya dibikinin gereja yang bagus banget.

Leave a Reply