Barisan nisan putih di Ereveld Menteng Pulo

Ereveld Menteng Pulo; Perjumpaan dengan Korban Perang Belanda-Jepang

Saya tidak yakin apakah tempat ini banyak atau sedikit diketahui oleh orang-orang di Jakarta. Yang pasti, ketika pertama kali melihat tempat ini dari balkon apartemen teman saya di kawasan Rasuna Said, saya langsung penasaran itu tempat apakah ini. Teman saya yang kebetulan adalah warga negara Singapura tentu saja hanya menjawab “itu makam” ketika saya bertanya.

Singkat cerita, perkenalan dengan beberapa orang blogger membuka kesempatan untuk bisa mengunjungi tempat yang dikenal dengan nama Ereveld Menteng Pulo atau Taman Makam Kehormatan Belanda. Memang, untuk berkunjung ke pemakaman ini dibutuhkan ijin khusus dari pengelolanya yaitu Yayasan Makam Belanda atau Oorlog Graven Stichting.

Ms Eveline di Gereja Simultan Ereveld Menteng Pulo
Ms Eveline menyambut kunjungan para blogger di Gereja Simultan

Jangan tanya saya bagaimana prosedurnya, ya.. karena saya jujur tidak tahu. Dede Ruslan, teman blogger saya yang mengurus surat perizinannya, dan kami (peserta tour hari itu) tinggal datang saja untuk berkeliling di makam seluas 29.000 m persegi tersebut, ditemani Ms. Eveline dan Pak Barkha.

Yang pasti, pihak pengelola sangat menyambut pengunjung yang ingin datang karena ingin tahu mengenai sejarah tempat ini, namun mereka tidak mengijinkan jika maksud kedatangannya hanya untuk tujuan foto-foto, apalagi untuk tujuan komersial.

Masa sih ada orang yang foto narsis di kuburan? Well, di Indonesia sepertinya semuanya mungkin terjadi, ya? Buktinya, waktu salah satu selebritis terkenal di Indonesia meninggal, banyak kan yang selfie di makam almarhum lalu mengunggah foto tersebut di medsos, bukan? Berfoto di makam mungkin tidak ada aturan yang melarang, namun secara etika sepertinya bukan hal yang benar untuk dilakukan.

Apalagi jika makamnya bukan makam anggota keluarga sendiri.

Apalagi jika makamnya adalah makam korban perang. Harus lebih kita hormati lagi.

Itulah sebabnya ketika berkunjung ke Ereveld Menteng Pulo, sebelum memulai tour Ms. Eveline memberikan aturan-aturan yang harus kami taati saat mengambil foto makam. Antara lain; tidak boleh memotret nisan yang menunjukkan nama, dan tidak boleh selfie di dekat nisan. Kenapa? Karena mungkin saja korban perang yang dimakamkan di Ereveld Menteng Pulo ini masih memiliki keluarga yang masih hidup hingga saat ini. Dan memotret nisan bernama lalu menampilkannya di social media, bisa jadi mengingatkan keluarga akan luka masa-masa peperangan. Apalagi foto selfie.

Tour dimulai dari Gereja Simultan tempat kami berkumpul siang itu. Gereja Simultan adalah sebuah bangunan yang digunakan sebagai tempat berdoa bagi para keluarga korban perang yang dimakamkan di sini, juga berfungsi sebagai semacam aula saat ada kunjungan kenegaraan.

Gereja ini bukanlah gereja yang digunakan sebagai tempat misa atau kebaktian secara rutin. Uniknya di gereja ini terdapat banyak ornamen yang mewakili berbagai agama, misalnya bulan dan bintang, bintang Daud, Yin Yang dan salib.

Barisan abu jenasah di columbarium Ereveld Menteng Pulo
Barisan abu jenasah di columbarium Ereveld Menteng Pulo

Dari Gereja Simultan, kami bergeser ke sebuah beranda dengan banyak guci-guci besi berjajar rapi di rak yang menempel di dinding. Tempat itu bernama Columbarium atau tempat penyimpanan abu jenasah.

Abu jenasah di sini mayoritas berisi abu para tawanan perang Belanda yang meninggal di kamp-kamp penyiksaan Jepang di luar negeri. Ada 728 guci abu jenasah yang ditempatkan di ruangan ini, baik yang bernama maupun yang tanpa nama.

Tour berlanjut menuju taman dengan hamparan rumput yang sangat rapi terawat, dengan jajaran nisan putih di atasnya. Pada saat memasuki kawasan ini saya sempat bertanya-tanya mengapa bentuk nisan di makam ini ujungnya bervariasi.

Ada yang berupa salib polos, ada salib dengan tiga lengkungan bulat di setiap ujung sisinya, ada salib berukuran kecil, ada salib dengan ujung seperti bintang Daud, ada nisan yang hanya lurus (tanpa kayu melintang di tengah) yang berujung bulat, dan yang berujung lengkungan tiga buah. Setiap nisan menandakan agama yang dianut oleh orang yang meninggal; salib polos untuk Kristen/Katolik (laki-laki), salib dengan lengkungan untuk Kristen/Katolik (perempuan), salib kecil untuk anak-anak, salib dengan bintang Daud untuk Yahudi, nisan lurus dengan satu lengkungan di atas untuk Tionghoa, dan nisan lurus dengan tiga lengkungan kecil di atas untuk Muslim.

Barisan makam di Ereveld Menteng Pulo
Barisan makam di Ereveld Menteng Pulo

Selain makam korban perang pada masa peperangan antara Belanda dan Jepang, ada juga makam untuk tentara-tentara KNIL, Prajurit Gurkha, juga ada makam-makam tentara Sekutu yang ‘dititipkan’ di tempat ini.

Konon katanya, Jendral Mallaby dimakamkan di sini. Ketika hal ini saya konfirmasi ke Ms. Eveline, beliau kesulitan mengidentifikasi mana yang merupakan makam Mallaby, karena tidak ada di daftar orang yang dimakamkan di Ereveld Menteng Pulo.

Ms. Eveline lalu mengajak kami menaiki atap Gereja Simultan, dari sana kami bisa melihat hampir seluruh area pemakaman. Pengalaman ini sungguh menyenangkan bagi saya. Akhirnya setelah beberapa tahun penasaran dengan tempat yang pertama kali saya lihat dari balkon apartemen teman, saya bisa mengunjunginya langsung.

Semoga kamu yang membaca cerita ini, jika belum pernah tahu mengenai Ereveld Menteng Pulo bisa tahu sedikit, ada tempat seperti ini di salah satu sudut Jakarta.

28 Days Writing Challenge

Day 4: Sudut Kota yang Tak Banyak Diketahui Orang

Seorang teman menantang saya untuk melakukan 28-Days Writing Challenge di blog ini. Aturannya sederhana; setiap hari dia akan meberikan sebuah tema dan saya harus menulis sebuah tulisan pendek (tidak lebih dari 500 kata) dari tema tersebut.

Baca semua artikel 28-Days Writing Challenge!

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
15 Responses
  1. Kalau dilihat-lihat di nisannya sama sekali gak ada namanya ya kak? Cuma polos begitu aja. Aku pernah lihat pemakaman ini, dari jendela kamar, waktu menginap di Park Lane. Betul khan pemakamannya yang itu?

    Surprise juga, ternyata selain penganut Kristiani dan Katholik ada penganut Islam, Yahudi dan keturungan Tionghoa juga yang dimakamkan di sana ya.

  2. Parahita Satiti

    Hampir semua nisan ada namanya, Bart. Kecuali yang jenasahnya memang tidak dikenal. Itu aku ambil fotonya dari belakang nisan. Sengaja, biar ga kelihatan namanya, respecting the deceased and their families.

    Ya, aku juga kaget ada Muslim, Jewish, Tionghoa yang dimakamkan di situ juga. Sebelum masuk, aku pikir ini makam hanya khusus untuk tentara Belanda yang jadi korban perang. Ternyata bukan, ini untuk korban perang secara umum. Tapi memang ada beberapa section yang khusus tentara KNIL.

    Hotel Park Lane itu di mana ya? Kuningan? Casablanca? Hehee.. ini yang di belakang mall Kokas, Bart.

  3. Hm.. waktu itu gue masuk tanpa surat izin, lho.. Cuma bilang aja ke penjaganya, tapi itu pun disambut dengan gonggongan anjing penjaga mereka :)) Dan..baru tahu bahwa kita gak boleh motret nisan bernama.

    1. Parahita Satiti

      Waaah, bisa ya langsung dateng? Mungkin karena waktu itu temen gw bikin kunjungan untuk rombongan, jadi harus ngurus ijin, Vir.

      Di surat ijin sih disebutin ga boleh motret nisan secara close-up sehingga kelihatan namanya, pada prakteknya kami ga langsung dilarang kalau motret nisan, cuma dipesenin yang di apload di sosmed ga boleh yang ada namanya.

  4. Anita

    Pernah liat kuburan ini dari atas Kokas. Rapi banget sih kuburannya, karena beda banget sama kuburan yang pinggir jalan Casablanca. Lalu aku sempet tanya sama teman-teman, merekapun tidak tahu kuburan siapa itu. Ternyata oh ternyata.. thank you Kak Ti.

  5. Iya, saya juga baru tahu kalau di tempat ini ada dimakamkan prajurit selain yang beragama Kristen. Duh jadi makin menyesal dulu tak bisa ikut kunjungannya. Hayuk atuh kalau mau ke sana lagi saya gabung, haha. Melihat pemakaman perang seperti ini membuat saya makin berpikir kalau perang itu sebenarnya kurang perlu. Kasihan keluarga yang ditinggalkan. Mudah-mudahan tak ada perang lagi ya, Mbak.

    1. Parahita Satiti

      Mallaby di kuburan yang nisannya dari batu pipih gitu bukan sih, Kak? Yang lapangannya ga begitu besar di pojokan? Yang bareng sama prajurit-prajurit Gurkha?

      Aku mau ikut dong kalau Kak Olive ke sini lagi.

Leave a Reply