Why You Started A Travel Blog

Double The Happiness

Kakak saya lah yang memperkenalkan dunia blogging sekitar 11 tahun yang lalu. Waktu itu saya baru mau lulus kuliah. Kakak saya adalah tipe orang yang jika sedang menyukai sesuatu akan tidak berhenti bicara mengenai hal itu, hingga orang yang yang diajak bicara mencapai titik bosan.

Dia bisa tuh dari sore sampai malam hari bercerita tentang serunya blogging; berbagi cerita dengan orang dari seluruh dunia, ketemu kenalan baru yang sama-sama suka nulis, sampai kemungkinan mendapatkan penghasilan dari blogging.

Sementara saya, being the unique second-born child, jarang sekali mau mengikuti kata-kata orang lain jika saya memang tidak ingin melakukannya. Sampai berbusa-busa Mbak Nunik cerita tentang blogging dan meminta saya bikin blog khusus traveling, saya tetap bergeming.

“Sayang tau, Nduth! Kamu jalan kemana-mana tapi cuma disimpen ceritanya. Dari pada cuma nulis curhatan ga jelas mendingan tenaganya buat nulis catatan perjalanan. Bakal banyak yang baca itu!”

Tidak tahu harus bercerita dari mana, itulah sebenarnya yang menahan saya untuk mulai menulis. Hingga 9 tahun berlalu dari 2011 ketika akhirnya saya memutuskan untuk mencoba blog saya sendiri. Bermula dari sebuah sub-domain di blog kakak, saya bercerita tentang kisah jalan-jalan yang saya alami.

Why You Started A Travel Blog
Bukan, kami bukan Dipsy, La La dan Po!

Foto di atas diambil di jalan menuju air terjun Jumog di Kab. Karanganyar. Saya, Bulan dan Anggarita terlalu bahagia bisa pakai jas hujan warna-warni.

Ada cerita unik mengenai jas hujan seharga lima ribu rupiah itu. Saat berjalan kaki keluar dari air terjun, hujan deras tiba-tiba datang. Kami langsung lari berteduh ke sebuah bilik kayu yang rupanya sebuah warung penjual minuman yang tutup. Di depan warung tempat kami berteduh, seorang ibu sedang sibuk memasukkan dagangannya ke dalam warungnya, ia hendak menutup warung juga sepertinya.

Beberapa kali ibu itu nampak melempar pandangan ke kami bertiga. Kami dengan ramah melempar senyum setiap kali ibu itu melihat ke arah kami. Begitu terus hingga adegan lempar-melempar senyum dan pandangan itu berulang beberapa kali.

Terakhir ketika si ibu memasang gembok ke pintu warungnya, saya beranikan diri bertanya,

“Ibu, di sini nggak ada ojek payung, ya?”

“Oh, ndak ada, Mbak….,” “…tapi saya jual jas hujan kalau Mbak mau.”

Kami bertiga tertawa terbahak-bahak menertawakan kekonyolan kami yang cuma main lempar-lemparan senyum, sementara solusi dari masalah yang kami hadapi sebenarnya ada di depan mata. Si Ibu membuka kembali warungnya dan membiarka kami ribut memilih jas hujan yang kami inginkan.

Alam semesta sepertinya belum selesai mengajak kami bercanda. Selesai memakai jas hujan dan bersiap melanjutkan perjalanan, tiba-tiba hujan deras berhenti. Kami yang sudah menunggu hujan berhenti lebih dari setengah jam hingga akhirnya punya jas hujan, tak rela melepaskan jas hujan itu begitu saja.

So, we dance ’em along the way!

Traveling membuat saya bahagia, dan menceritakan kebahagiaan itu lewat travel blog melipatgandakan efeknya.

28 Days Writing Challenge

Day 1: Why You Started A Travel Blog

Seorang teman menantang saya untuk melakukan 28-Days Writing Challenge di blog ini. Aturannya sederhana; setiap hari dia akan meberikan sebuah tema dan saya harus menulis sebuah tulisan pendek (tidak lebih dari 500 kata) dari tema tersebut.

Baca semua artikel 28-Days Writing Challenge!

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
5 Responses
    1. Parahita Satiti

      Tapi gw masih ‘ga terima’ kenapa si ibu musti nunggu lama banget untuk bilang dia jual jas hujan coba?

      Hahahahaha..

  1. Pas banget itu pemilihan warna jas hujannya Mbak, haha. Eh tapi lebih seru kalau pakai mantel dan hujan-hujanan memang juga pasti ada saja pengalaman serunya. Biasanya kan orang kalau hujan malas berkunjung dan jalan-jalan. Tapi jalan pas hujan pasti punya cerita. Semoga sukses dengan tantangannya! Pasti bisa jadi penulis yang lebih baik setelah tantangan ini berakhir, amin.

Leave a Reply