Dr Sun Yat Sen Heritage Trail

Dari Sun Yat Sen ke St. George’s Church Bolak-Balik

”Sepertinya kita harus turun di pemberhentian berikutnya, Kakatete…” kata Bulan sambil membuka peta kecil yang tadi kami ambil di resepsionis Tune Hotel. Saya menekan tombol stop yang ad di tiang RapidPenang CAT bus.

Beberapa detik kemudian bus berhenti tepat didepan sebuah bangunan kuning berpagar putih tinggi. ‘Bekas Tapak Sekolah Li Tek’ nama bangunan itu, salah satu bangunan yang tersisa dari serangkaian bangunan yang termasuk dalam Sun Yat Sen Heritage Trail di Penang.

“Terus kita mau kemana?” tanya saya sambil mengambil beberapa foto dari balik pagar besi yang digembok.

“Kamu mau kita nunggu bus berikutnya, atau mau jalan kaki?” Bulan balik bertanya.

“Jalan kaki aja, yuk!” ajak saya. Sekilas saya di peta tadi, tak jauh dari tempat ini ada banyak tempat menarik yang bisa kami singgahi.

Sekitar 5 menit berjalan kaki dari gedung ‘Bekas Tapak Sekolah Li Tek’ kami tiba di sebuah pertigaan, di sebelah kiri ada sebuah masjid besar ber-cat putih dengan sebuah menara yang menjulang tinggi. Saya membuka peta di tangan, kemudian mengalihkan pandangan ke puncak menaranya.

Masjid Kapitan Keling Penang
Masjid Kapitan Keling Penang

“Masjid Kapitan Keling”, saya membaca pelan keterangan yang ada di peta.

“Kamu mau masuk, Kak?”, tanya Bulan lagi. Saya menggeleng. Bulan terkekeh melihat saya hanya menggelengkan kepala saja. Sepertinya kami sama-sama tahu, kami bukan tipe orang yang memiliki ketertarikan dengan masjid.

“Founded in 1801, it is the largest historic mosque in George Town. Designed in Moghul architecture, it features beautiful minarets and domes.” Saya kembali membaca keterangan yang tertulis di peta sembari tetap mengayunkan langkah mengikuti Bulan.

Saat saya memasukkan kembali peta ke ke dalam tas, ternyata kami tengah berada di tepi daerah Little India. Ada sebaris kios-kios yang menjual aneka rangkaian bunga untuk sembahyang. Melihat warna-warni bunga yang tersusun rapi di ember-ember besar dan juga untaian bunga kuning ungu tergantung di depan kios otomatis membuat saya tersenyum.

Penjual bunga di Little India Penang
Penjual bunga di Little India

Siapa yang bisa tahan tidak tersenyum melihat bunga aneka warna seperti ini?

“Itu St. George’s Church-nya, Kakatete!”, Bulan sedikit memekik senang sambil menunjuk bangunan gereja besar bercat putih bersih yang berdiri tepat ditengah-tengah sebidang tanah luas dengan lapangan rumput yang terpangkas rapi.

Kami segera mempercepat langkah mencari pintu masuk ke gereja itu. Setelah menyusuri tembok batu bata berwarna cokelat, kami masuk melewati sebuah pintu kecil di ujung tembok itu.

St. George The Martyr Church adalah gereja Anglikan pertama yang didirikan di Asia Tenggara, gereja ini diresmikan pada tanggal 11 Mei 1819. Dulunya, sebelum dibangun gereja ini, ibadah para penganut Anglikan diadakan di Fort Cornwallis.

Selama Perang Dunia II, tentu saja St. George’s Church ikut mengalami kerusakan yang cukup parah. Baru setelah Perang Dunia usai, pada pertengahan tahun 1948 dilakukan restorasi pada gereja ini. Perbaikan terus dilakukan hingga akhirnya pemerintah Malaysia menetapkan St. George’s Church sebagai salah satu bangunan cagar budaya pada 31 Agustus 2007.

St. George’s Church Penang
St. George’s Church, gereja Anglikan pertama di Asia Tenggara

Baca juga: Gereja Sion, Gereja Para Portugis Hitam

Kami masuk ke dalam gereja. Seorang pengurus gereja terlihat sedang menerangkan isi gereja pada sepasang wisatawan. Saya dan Bulan cukup puas dengan duduk-duduk di bangku gereja sambil memandangi bagian dalam gereja yang sama dengan bagian luarnya; sangat bersih dan terawat.

Tak lama kami keluar dan St. George’s Church dan kembali menelusuri rute awal kami tadi. Tujuan kami kali ini adalah Lebuh Armenian, kami mau ke Hock Teik Cheng Sin Temple dan Khoo Kongsi.

Salah satu sudut Lebuh Armenian di Penang
Salah satu sudut Lebuh Armenian

George Town adalah salah satu kota di dunia yang mendapat predikat Unesco Heritage, maka tidak heran jika sejauh mata memandang kita akan melihat begitu banyak bangunan kuno yang selain cantik juga bersejarah.

Berjalan kaki di George Town ini sangat menyenangkan. Meskipun transportasi umum juga sudah sangat mudah ditemui (dan murah!), saya sangat menikmati berjalan kaki di kota ini. Kalau berjalan kaki senyaman ini, mau bolak-balik tiga kali di jalan yang sama, tak akan lelah rasanya.

Baca juga: Senangnya jalan-jalan di Penang

28 Days Writing Challenge

Day 16: Walking Tour

Seorang teman menantang saya untuk melakukan 28-Days Writing Challenge di blog ini. Aturannya sederhana; setiap hari dia akan meberikan sebuah tema dan saya harus menulis sebuah tulisan pendek (tidak lebih dari 500 kata) dari tema tersebut.

Baca semua artikel 28-Days Writing Challenge!

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.

Leave a Reply