Search
Search

Cerita tentang Vindhya Ibu Penyu yang Selalu Menebar Tawa

Tanah kusir

Kolam renang Hotel Bidakara—Kamis 18 Mei 2017,

“Titi coba deh fins-nya dilepas, pake mask sama snorkel aja!” pinta Vindhya saat saya akhirnya berani melepaskan pelampung dari genggaman dan berenang wara-wiri malam itu.

“Tapi nanti gue gelagepan, Pink!” jawab saya sambil terus menggerakkan kaki katak di kedua kaki.

“Nggaaaak, lo kan udah bisa… Sini, buka fins-nya!” balasnya sambil meraih tangan saya. Karena saya percaya Ipink (begitu kami biasa memanggil Vindhya) tak akan membiarkan saya tenggelam, saya menurut dan melepaskan kedua fins itu.

“Pelan-pelan, ambil posisi. Kalau bisa kakinya kaki (gaya) bebas, kalau lo lebih nyaman kaki (gaya) dada ya ga papa, senyamannya aja. Tangan (gaya) dada aja. Jangan lupa napas, rileeeekksss…”

Dan perlahan Ipink melepas tangan kanan saya dari genggamannya. Ajaibnya, saya nggak gelagepan seperti kekhawatiran saya sebelumnya. Pelan-pelan saya mengitari salah satu pojokan kolam renang dengan bangga. Akhirnya saya berani lepas pelampung!

“Bisa kaaaaaaannnn….” Ipink dengan senyum lebarnya yang khas itu pun terlihat sama senangnya dengan saya.

Selain Asyrof dan Gilang (swimming coach di kelas #playNswim yang saya ikuti), Ipink adalah salah satu orang yang sangat berjasa membuat saya berani berenang tanpa pelampung sama sekali.

IbuPenyu Togean
IbuPenyu membawa kami ke Kep. Togean

Siapa sangka kelas #playNswim malam itu, dan perjalanan dalam taksi online dari Hotel Bidakara sampai kost saya adalah perjumpaan saya dengan si IbuPenyu yang terakhir kali. Vindhya berpulang karena terkena sengatan arus listrik saat mandi di Hotel Safari, Ende hari Selasa malam, 23 Mei 2017.

***

Saya masih ingat kali pertama perjumpaan saya dengan Vindhya di bus Transjakarta jurusan Ragunan – Dukuh Atas, tahun 2011. Saya duduk di bangku paling ujung depan bus, Vindhya dan temannya duduk di tangga dekat pintu depan bus (kala itu, duduk di bagian itu masih diperbolehkan).

Sepanjang perjalanan Vindhya dan temannya tak henti-henti bercerita. Ia bercerita tentang apa saja, tidak dengan suara keras yang mengganggu orang sekitar, tapi cukup keras untuk saya ikutan mendengar cerita-cerita serunya. Ah, gadis ini menyenangkan sekali, batin saya.

Ternyata, pagi itu kami ikutan acara walking-tour yang sama di daerah Glodok. Sepulang dari acara itu kami pulang bareng dan sering sahut-sahutan di twitter. Kesukaan kami akan traveling dan berburu kuliner yang agak mblusuk-mblusuk akhirnya membuat kami beberapa kali main bareng keliling Jakarta.

IbuPenyu
Mpyit, saya, Vindhya, dan Vidi – sehabis makan bubur sampai sakit perut kekenyangan.

Sekitar tahun 2014, ketika awal-awal saya belajar nge-blog, Vindhya dan beberapa sahabatnya membuat sebuah workshop blogging bernama #travelNblog. Ia jugalah yang mendorong saya untuk ikutan workshop ini.

Jadi, kalau blog ini bisa bertahan sejauh ini dan tulisan saya makin enak dibaca, ada andil Vindhya di sini.

Ipink itu anaknya supel banget, selain itu dia juga kayanya ga pernah cemberut. Belum lagi kalau ngomongin cara Ipink ketawa; tawanya itu khas, renyah, kencang dan selalu mengundang orang-orang yang mendengar untuk ikutan tertawa, atau minimal tersenyum.

***

Seandainya ada wartawan tak berperasaan bertanya apakah saya punya firasat tertentu saat berpisah dengan Ipink sepulang dari kelas #playNswim 18 Mei lalu, jawabannya adalah tidak. Ipink tetap ceria seperti biasa. Dia bahkan tidak cerita kalau dia akan terbang menuju Bali keesokan subuhnya dan lanjut ke Ende untuk explore Larantuka, Lewoleba, Adonara, dll.

Hari Jumat pagi ketika saya buka instagram dan mendapati Ipink sudah posting insta-story sedang transit di Bandara Ngurah Rai, lalu saya komen; “Aaah, gilak looo.. udah sampe Bali lagi! Mau kemana?”

Ipink hanya menjawab “Hahahaha… Karajoooo”—Kerja, maksudnya.

Hari Sabtu-Minggu saya pergi ke Kepulauan Seribu untuk latihan snorkeling di laut. Beberapa kali saya sempat WhatsApp Vindhya untuk pamer progress saya berenang. Mungkin karena keterbatasan sinyal, Vindhya agak lama membalas cerita saya.

Hari Selasa pagi, saya membuat postingan blog tentang pengalaman ikutan kelas #playNswim di blog ini. Postingan blog itu saya auto-share ke laman profile Path saya, di sana Vindhya berkomentar singkat:

“Am soooo happy….!”

Sudah.

Setelah itu tak ada komunikasi lagi. Hingga Rabu malam sahabat Vindhya, Vidi membawa kabar duka di WA grup Togean 2016. Vindhya sudah berpulang.

***

Tadi pagi, kami -sahabat – sahabat Vindhya- mengantarkan Vindhya ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Selamat jalan, Ipink sayang. Sampai bertemu lagi. I love you.

Pemakaman Vindhya di Tanah kusir
Sebagian sahabat Vindhya yang hadir tadi pagi di Tanah Kusir
Written by
Parahita Satiti
Join the discussion

8 comments
  • Titiiiii, aku patah hati 🙁
    Tiap hari bangun tidur pasti bengong, masih bertanya ini beneran atau mimpi ya.
    Masih nyesek nih, Ti

    • *Peluk Ci DebbZ*

      Iya, Ciii.. beberapa hari ini setiap bangun tidur rasanya masih berharap ini cuma mimpi buruk aja.

  • Titi… beruntung ya selang 5 hari sebelum itu… kamu masih bisa ketemu dia. gw sehabis #mainketogean gagal mulu pengen ketemu Vindhyaaa… :((

    terakhir ikut #mainketoraja gw pikir akan sama dia ternyata tidak, trus waktu kita berencana mau #mainketaka gw mention dia berharap dia yang dampingi, dia bersemoga… tapi ternyata ipink pulang duluan…

    • Iyaa, Win.. sediiih, ga nyangka banget pulang bareng malam itu akan jadi pertemuan terakhir sama Ipink.
      Gw baru inget pas kita kumpul di Citos waktu itu, Ipink ga dateng karena lagi jalan keliling Sulawesi yaaa…

      Kita doain Ipink selalu berbahagia di surga yaaa…

About me

 

Parahita Satiti; suka jalan-jalan dan bercerita. Makanya dia bikin blog ini. Kalau mau tanya/ngobrol/kerjasama dia bisa dihubungi lewat email: [email protected]

Member of

Travel Blogger Indonesia