Gunung Merbabu via Selo

Cerita Pendakian Gunung Merbabu, Dari Basecamp sampai Sabana 1

“Yang dari bawah stop dulu! Ada evakuasi! Ada evakuasi!” sebuah teriakan berkumandang di tanjakan antara pos 1 ke pos 2 Gunung Merbabu.

Apalagi ini, batin saya. Belum hilang rasa lelah setelah dihajar long track dari pos base camp ke pos 1, dilanjutkan dengan ‘shock therapy’ tanjakan macan tak lama setelah kami meninggalkan pos pertama, kini kami harus menghadapi tanjakan terjal lagi bersamaan dengan proses evakuasi.

Terus terang, saya ini cemen banget kalau harus lihat hal-hal beginian; korban kecelakaan, proses evakuasi, darah, orang sakit. Rasanya, mental saya langsung drop di titik terendah kalau harus berhadapan dengan kejadian kaya gitu.

Saya berdiri diam mepet ke dinding tebing. Di depan saya berdiri sepasang anak muda pendaki.

“Mana hand phone? Mana hand phone“, bisik si pendaki laki-laki kepada pendaki perempuan yang saya asumsikan adalah pacarnya. Si perempuan lalu membuka tas kecil di depan dada, lalu mengulurkan hand phone kepada pasangannya. Sekilas saya ingin bertanya kenapa proses evakuasi ini penting untuk mereka abadikan pada pasangan itu, namun lidah saya terlalu kelu untuk berkata sesuatu.

Langkah kaki para pengevakuasi berderu setengah berlari menuruni tanjakan berdebu. Beberapa botol air mineral ukuran besar terjatuh dari ransel-ransel pembawa tandu, menyisakan kepulan debu yang makin menggelitik hidung kami. Sekilas saya melirik sosok yang berada di atas tandu, ia berbalut pakaian dari ujung kaki hingga ujung kepala. Mukanya pun tertutup kain buff. Hanya menyisakan sebaris lubang di bagian mata. Ia diam tak bergerak.

“Semoga dia baik-baik saja” batin saya, sambil mencoba untuk mengusir pikiran-pikiran buruk di dalam kepala dan mengembalikan nyali dalam diri, minimal selevel dengan saat saya memulai perjalanan mendaki gunung Merbabu ini.

Sunrise dari Sabana 1 Gunung Merbabu
Sunrise dari Sabana 1 Gunung Merbabu

Saya memutuskan untuk mendaki gunung Merbabu ini bukan tanpa pertimbangan dan persiapan. Dari mulai blog walking membaca pengalaman para pendaki sebelumnya, nanya-nanya ke teman yang sudah mendaki gunung ini, hingga tentu saja persiapan fisik. Tapi mental? Menurut saya, nggak peduli sebagaimana pun siap-nya kita, tetap akan mengalami hal-hal yang bikin down di lapangan. Nah, buat saya salah satunya adalah harus lihat orang dievakuasi ini.

“One mistake, and I could end up just like him/her”

***

Dari Pos 1 Hingga Pos 4 Gunung Merbabu

Taman Nasional Gunung Merbabu adalah salah satu gunung yang berada di wilayah propinsi Jawa Tengah. Gunung setinggi 3.142 meter ini bisa diakses melalui kabupaten Boyolali di bagian selatan dan kota Salatiga di bagian utara. Saya dan rombongan memilih naik lewat jalur Selo di Boyolali, yang kata orang selain merupakan jalur termudah, juga terkenal memiliki pemandangan yang sangat indah.

Rombongan kami terdiri dari saya, Indra (adik sepupu saya), Santi (teman SMA saya), Wira, dan Mas Burhan, guide dari rombongan ini. Berlima kami mengawali pendakian dari Selo pada pukul 10.00 pagi. Dari pos pintu masuk ke Pos 1 (Dok Malang), menurut saya jalur pendakian gunung Merbabu masih cukup bersahabat; kami melewati pinggiran hutan melipir di punggungan gunung. Tidak banyak tanjakan yang menghabiskan nafas, dan jalur masih lumayan teduh karena banyak pepohonan. Beberapa kali kami berjumpa dengan burung jalak jawa, beberapa berwarna hitam dan kami melihat satu yang berwarna ungu tua mengkilap. Cantik banget! Dari target 1 jam 30 menit, kami tiba di pos pertama dalam waktu 1 jam saja.

Selepas pos pertama ini, perjuangan pendakian sesungguhnya baru dimulai. Buat saya, saking beratnya medan pendakian gunung Merbabu ini, saya sampai nggak ada niatan untuk ngeluarin kamera dari tas, apalagi untuk berpose sepanjang jalur pendakian. Boro-boro mau foto, mau napas aja sulit, Ges!

tanjakan gunung merbabu
Di depan ada tanjakan lagi? Aku setroooongg!

Picture: Wira Nurmansyah

Tak jauh dari pos satu, kami disambut dengan tanjakan yang terkenal dengan nama tanjakan macan. Entah kenapa disebut dengan nama itu. Mungkin di jaman dahulu kala, banyak macan berkeliaran di tanjakan ini. Mungkin juga dinamai tanjakan macan karena penampakannya bikin kaget kaya kalau kita ketemu macan, hehe.

Di sini jalur pendakian mulai panas dan berdebu. Sebenarnya nggak heran sih kalau gunung Merbabu ini berdebu banget, dari namanya yang merupakan gabungan antara kata “meru” (gunung) dan “awu” yang berarti abu, ya nggak heran kalau sepanjang jalur pendakian kami harus bersahabat dengan kepulan abu tanah yang beterbangan. Terutama saat kami berpapasan dengan pendaki yang turun gunung dengan setengah berlari.

Kami hanya butuh waktu sekitar 1.5 jam untuk sampai di Pos 2. Di pos ini kami menghabiskan istirahat agak panjang untuk makan siang. Sebungkus nasi putih dengan lauk telur ceplok dan sayur tahu pedas yang kami bawa dari basecamp menjadi menu kami siang itu. Makan siang yag sederhana terasa lebih nikmat karena kami sesekali bersendau gurau mengomentari tingkah polah pendaki lainnya.

Emang kalau udah bawaan julid mah lagi cape juga masih komen aja, hehe!

Merbabu via jalur Gancik
Gunung Merapi gagah banget, ya!

Picture: Wira Nurmansyah

Menuju Pos 3 (Batu Tulis) adalah satu jam lagi perjalanan, tetap dengan jalur yang berdebu dan panas. Beberapa kami harus bergantian lewat dengan pendaki yang hendak turun karena jalur pendakian hanya muat untuk seorang pendaki saja. Titik-titik seperti ini tentu saja saya manfaatkan untuk sedikit mengatur napas. Sok-sokan ngasih jalan gitu, padahal mah ngos-ngosan. Dari pos 3, gagahnya gunung Merapi mulai bisa kita lihat. Sumpah! Pemandangannya cakep banget! Apalagi di pos Batu Tulis ini adalah pertemuan antara jalur Selo dan Gancik. Ada bukit kecil di atas pos 3 yang menuju jalur pendakian Gancik, dari sini kita bisa melihat gunung Merapi dengan lebih jelas lagi.

Pendakian Gunung Merbabu, Safety Matters!

Nah, dari pos 3 inilah kita harus mempersiapkan fisik dan mental untuk menuju pos 4, karena kita akan melalui tanjakan yang terkenal dengan nama tanjakan setan; sebuah tanjakan yang lurus memotong naik punggungan gunung Merbabu, dengan jalur tanah berdebu, hanya ada tali pegangan yang sangat minimalis, sementara kemiringan jalurnya mungkin hampir 70o.  Makanya, disarankan kita beristirahat agak lama di pos 3 sebelum melanjutkan perjalanan ke pos 4 atau Sabana 1.

Dibutuhkan waktu sekitar 1.5 jam hingga 2 jam untuk mendaki tanjakan setan ini, dan tentu saja kesabaran dan kehati-hatian yang sangat luar biasa. Saya kepikiran, kenapa pengelola Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) tidak membuat sarana keamanan bagi pendaki di titik ini. Ada sih beberapa besi yang ditanam di jalur ini, tapi tidak dilengkapi tali yang mumpuni untuk pegangan para pendaki. Boro-boro ada rantai besi kaya yang ada di jalur pendakian gunung Gede-Pangrango, atau paling nggak tali webbing yang sesuai standar pendakian lah… Ini yang dipasang cuma tali dari bahan kapas yang kaya sering dipakai pas zaman kita pramuka dulu itu, lho! Lha itu kan kalau yang pegangan lebih dari lima orang ya udah pasti melar dan malah nggak aman.

tanjakan setan gunung merbabu via selo
Di Pos 3 Gunung Merbabu, bagian yang berdebu di belakang kami itu sebagian dari Tanjakan Setan

Picture: Wira Nurmansyah

Padahal ya, seandainya pengelola TNGMb mau mengeluarkan sedikit dana untuk bikin tali pengaman permanen, selain bisa meminimalisir jumlah kecelakaan di gunung Merbabu, juga bisa mengurangi kerusakan jalur di sana. Bayangin aja, itu tanah di sepanjang tanjakan setan entah ada berapa garis yang rusak karena saking banyaknya pendaki yang mencari jalur naik turun yang aman. Beberapa sudah rusak parah karena banyak yang turun sambil ngesot.

Masa sih sekelas TNGMb nggak punya anggaran untuk bikin tiang dan tali pengaman di jalur yang berbahaya? Kalau pun nggak dikasih dana, hitungan kasar saya dari pemasukan retribusi yang dibayarkan para pendaki mampulah untuk membiayai bikin fasilitas keamanan di sana.

Untungnya, guide yang saya hire untuk menemani pendakian ini adalah certified mountain guide. Dia bawa tali webbing sendiri untuk memastikan kami semua aman mendaki.

Sabana 1 Gunung Merbabu yang Memesona

Waktu baru menunjukkan pukul tiga sore lewat sedikit, kami juga sebetulnya masih sanggup melanjutkan perjalanan hingga ke pos 5 alias Sabana 2. Namun mempertimbangkan di Sabana 1 pemandangan matahari tenggelam dan terbitnya lebih tidak terhalang bukit dibanding di Sabana 2, kami memutuskan berkemah di Sabana 1.

camp di sabana 1 gunung merbabu
Sore di depan tenda kami di Sabana 1 Gunung Merbabu

Picture: Wira Nurmansyah

I was so happy being at that place! Kami memilih tempat yang paling pojok belakang di Sabana 1 itu, agak lebih belakang di banding kemah-kemah para pendaki lainya. Dari depan tenda kami bisa langsung menyaksikan matahari senja mulai turun di sela-sela gunung Sindoro dan Sumbing. Di sisi sebelah kiri, gunung Merapi dengan gagah menampilkan lereng utaranya. Sementara dari belakang tenda, tampak gunung Lawu hanya terlihat puncaknya sedikit saja. Saya bisa membayangkan, esok pagi pemandangan matahari terbit yang disajikan Tuhan Maha Pencipta pasti sangat luar biasa!

“Dari sini ke puncak masih harus jalan 2 jam lagi. Besok mau mulai jalan muncak jam berapa?” tanya Mas Burhan sambil mengeluarkan bahan makanan untuk makan malam kami.

Best friends since 1998
Best friends since 1998

“Ah, kita lihat saja besok, Mas! Kalau nggak males ya kita muncak. Kalau capek ya kita sampai di sini saja. Main masak-masakan sambil foto-foto, hahaha…”

Kami dikasih pemandangan kombinasi antara perdu-perdu bunga edelweis, puncak-puncak gunung di kejauhan, dan matahari senja yang mulai turun perlahan aja rasanya udah puas banget. Besok pagi mau muncak atau nggak, ya diputusin besok saja. Untuk sekarang, mari nikmati pemandangan yang ada!

*bersambung*

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
13 Responses
  1. Mbak Titi, maaf, koreksi sedikit. Berdasarkan informasi dari petugas TNG Merbabu, untuk Pos 3 Batu Tulis merupakan pertemuan jalur Selo dan Gancik. Karena jalur Wekas (Magelang) baru bertemu jalur dari Selo ya di puncak Kenteng Songo..

    Pas saya turun lintas Suwanting-Selo lepas lebaran lalu, jalur tanah masih cukup padat. Eh pas naik lagi 12-13 Agustus udah tebel banget debunya kayak bedak 😂

    Dari pengalaman dulu, kayaknya bulan-bulan kayak April-Juni dan Agustus termasuk yang terbaik buat Merbabu dan beberapa gunung lain. Cuaca relatif bersahabat, meskipun tetap tak bisa diprediksi. Apalago Agustus, kering dan dingin banget, tapi pemandangannya dijamin aduhai 😍

    Dan saya orang yang paling setuju, kalau lihat sunrise/sunset cukup dari Sabana 1 atau 2, udah kece banget pemandangannya. Males juga muncak dingin2 gelap2 😂

    Jangan kapok sama tanjakan ke Sabana 1 ya 😂

    1. Rifky! Makasiih ya koreksinyaaa.. haha, mungkin aku skip pas dengerin guide ku ngasih tau, wkwkwk.

      Nanti ku revisi yaaa..

      Iyaaa, kemarin dinginnya minta ampun. Mana anginnya kenceng banget.

      Udaaaaah, aku kapok sama itu tanjakan setan. Apalagi kalo lihat video rekaman pas naik di situ. Aku sampai mikir “what was i thinking? Nekat amaaaatt berani lewat situ…”

  2. Wooow! Indah banget mbak foto2nya! Aku bacanya kok ikutan ngos2an haha. Pasti itu butuh persiapan fisik ya dan bener kata mbak kalau mental walau sudah sesiap mungkin harus tetap waspada dengan apa yang terjadi di lapangan ya. Salut sama mbak!

    1. Haha, makasiiiih, Aggy!

      Aku nyesel persiapan fisik ku malah kendor seminggu sebelum naik Merbabu, karena lagi banyak kerjaan di kantor. Kalau mental mah ya aku emang gitu, cemen kalo lihat orang kecelakaan. Hehehehe…

  3. Hihihihii aku juga baru balik dari Merbabu beberapa bulan lalu via Suwanting. Next, Kak Titi harus cobain jalur ini ya… Dan yang pasti, aku diajak naik gunung yaaaaaaa hahaha…

    1. Hai, Jenny 🙂 kemarin kami ambil paket berempat habisnya sekitar idr 2.200.000 (sudah include tenda, alat masak, makan berat 5x, snacks & minuman sachet), tinggal bawa baju dan sleeping bag sendiri.

      Kalau tertarik, silakan colek guide-nya di Instagram: burhan_alazhari

Leave a Reply