Cerita Mistis saat camping di Kepulauan Seribu

Cerita Mistis Saat Camping di Pulau M

Pergi kemping sama teman-teman yang mayoritas udah kenal dari tahun 2009, kemping di kepulauan yang udah pernah didatengin 14 kali sebelumnya (meski secara spesifik belum pernah ke pulau yang akan dituju untuk kemping ini), dan ini adalah trip kemping saya ke-empat di Kepulauan Seribu.

Mengingat ketiga fakta itu, wajar kalau saya berpikir “Oh, it’s just another camping trip in Seribu Islands. Take it easy!” Packing barang-barang 30 menit sebelum tidur, mandi yang bersih, bangun subuh keesokan harinya, ngumpul dengan teman-teman lain di Muara Angke jam 6, naik kapal ke Pulau Harapan, transit, ganti kapal kecil untuk snorkeling dan menuju pulau kemping, and voila! The adventure begins!

Tapi ternyata, camping trip kali ini sama sekali ga sama dengan 3 trip kemping saya sebelumnya di Kepulauan Seribu. Sebelum saya cerita apanya yang beda, dengan beberapa pertimbangan, saya ga akan nulis nama pulaunya. Cukup dengan inisial aja ya, Pulau M.

Baca juga: Camping di Pulau Semak Daun

Sebelum berangkat, saya sempet googling sedikit tentang Pulau M. Sudah ada beberapa blogger yang nulis tentang pengalaman kemping mereka di sana. Pulaunya kelihatan ok untuk kamping, ada lahan terbuka buat mendirikan tenda, disebutkan ada sumur dan bilik kamar mandi sederhana untuk bilas badan, dan dekat dengan spot snorkeling yang okay juga.

Tak ada satupun yang menyebutkan kejadian spooky di pulau ini. Andai saja saya mau lebih jeli googling, dan membaca dengan teliti situs-situs sejarah Kepulauan Seribu, mungkin saya akan mendapati cerita Pulau M ini dulunya bekas apa.

Menginjakkan kaki di Pulau M sekitar jam 1 siang, rasanya masih biasa aja. Awalnya kami berniat mendirikan tenda di atas lahan kosong pas dipinggir dermaga, tapi dilarang sama Bapak Penjaga pulau.

“Itu jalan buat orang lewat” katanya. Alasan yang sangat masuk akal, dan sebagai tamu ya sebaiknya nurut apa kata tuan rumah. Selesai mendirikan 6 tenda, kami istirahat sebentar trus pergi lagi untuk snorkeling.

Camping Ground di Kepulauan Seribu
Camping Ground, where all the superstitious things took place.

Nah, dari sepulang snorkeling ini, Kak Nyanyu, Bulan, dan saya mulai merasakan hawa spooky dari Pulau ini. Nyanyu dan Bulan ngerasa ada yang terus-terusan ngeliatin pas mereka jalan-jalan lihat sunset di sisi barat pulau. Sementara saya, selesai bilas di sumur, pas sekitar maghrib, ngelihat ada sesosok sesuatu duduk di atas dahan pohon yang saya lewatin.

Saya berusaha tetap tenang dan bilang ke diri sendiri “Kamu salah lihat karena kamu ga pakai kacamata” Saya ga mau bikin panik karena kebetulan saya jalan balik dari sumur bareng anak-anak umur 10 tahun.

Hingga akhirnya sekitar jam 1 malam, saya dibangunin teman disuruh masuk tenda karena gerimis. Hawa serem makin terasa, karena selain gelap gulita, ada suara kucing yang mengeong kenceng banget. Mba Astrid yang di rumahnya punya lebih dari 20 kucing bilang, suara kucing kaya gitu antara lagi horny atau ketakutan. Tapi kalau horny, kok ga ada suara kucing lain yang nyaut? Kalau ketakutan, ketakutan sama apa? Suara kucing yang serem banget itu baru berhenti pas Kak Mickey bikin api unggun yang gede banget di tengah-tengah area kemping. Dan kami baru bisa tidur lagi sekitar jam 3, itupun dengan perasaan ga tenang.

Pagi harinya, Mas Rio cerita kalau dia habis ngobrol sama bapak penjaga pulau. Jeng…jeeeengg.. ternyata baru terkuaklah cerita mistis kalau ternyata Pulau M jaman dulunya adalah pulau tempat persemayaman sementara jenazah orang-orang yang dibunuh di Kepulauan Seribu.

Korban perang jaman Belanda, musuh-musuh politik jaman rezim Suharto, korban perompak. Jenazah yang ditemukan biasanya dibaringkan di tanah kosong pinggir dermaga, itulah sebabnya pak penjaga nggak ngasih ijin kita kemping di situ.

Kak Mickey yang memang indra keenamnya lumayan sangat aktif untuk urusan perhantuan, akhirnya cerita. Semalam itu di atas tenda yang ditempati Bulan dan Uni Deedee, ada mbak kunti lagi nangkring. Di pohon belakangnya, tempat saya sore sebelumnya melihat sesuatu duduk di dahan, itu kata Kak Mickey ada mas genderuwo. Kak Melejid yang awalnya berbagi tenda dengan saya, malam itu dipanggil keluar sama Kak Mickey, dan pindah ke hammock. Pas lagi tiduran di hammock itu dia melihat sesosok perempuan tua memakai kebaya.

Kak Lejid tanya ke Mickey “Mike, do you see what I see?”

Yes, Jid… come on, bantu gw nyari kayu bakar!”

Dari semua cerita itu, ya saya janji, ini kemping terakhir saya di Kepulauan Seribu. Syereeeemmmmm…

About the author

Suka jalan-jalan dan bercerita.
14 Responses
  1. haha..same here…akan lebih teliti lagi deh soal riwayat tempat tujuan, selain bisa tahu sejarah tempat tersebut juga bisa menghindari apa saja yg bisa membahayakan kita. over all semuanya fun ya kak hihihi

    1. parah1ta

      Fun banget Kamikiii….

      Terutama aku masih merindukan masakan pasta mu. Next trip, i will kill for your pasta yaaa… *kedip

  2. Huahahaha……njiiirrr!!!

    Mana aku denger ada suara cowok cewek ngobrol sambil kayak ngesrek ngesrek kayu lagi.. Itu saposeeee??? Kampretoooo..

  3. Bany

    Huwooooowwwwww Alhamdulillah gue nggak ikutan. Hehehe.

    Oh ya what about de pasta yang sudah digadang-gadang jauh jauh hari?
    Jadi nga-pasta jeung nga-wine kmaren teh?

    Keren euy kemping mewah!

    1. parah1ta

      Pasta sayangnya ga jadi dimasak karena satu dan lain hal, Bang… 🙁

      Tapi wine Kamiki JUWARA! Enaaaakkk…

  4. mommyinthekitchen

    Gue juga terakhir!! Seremmmmmmm mau kemping lagi di pulo .. Maybe kalo perak masih mending… Akan datang trip ke pulau seribu cuma homestay for me & the kids!

    1. parah1ta

      Sip, Ka Narny.. lain kali kita kemping, harus cari info dulu. Kalo dari awal udah tahu spooky, kita kan bisa lebih well-prepared. 😉

  5. Astrid

    Jujur waktu dalam perjalanan ke pulau M ini, gw mendadak keinget ama cerita Agatha Christie yg judulnya 10 anak Negro…. Tapi saat itu gw ga sadar knp kepikiran kayak begitu…… Aaaak syerem ah kalo diinget inget lagi….

    Pasta nya semoga dapat diwujudkan di lain waktu.
    I will help you cooking it next time ya Mickey….
    Sayang pas malem itu gue ga enak badan krn mabok asap solar di kapal.
    And loooove that fruity red wine you brought…. Sluuurp!

    1. parah1ta

      And Then There Were None!
      Puji Tuhan nasib kita ga sama kaya ke 10 orang di novel itu ya, Mba Astrid… *tergidik ngeri*

  6. Jangan disensor donk nama Pulau nya, buat bahan informasi pembaca agar gak kesana buat yg takut.
    Tiger island?

    Nice story dan pengalamannya…
    Jadi inget pengalaman klo naek gunung, segala sesuatu hal mistis yg diliat, diceritain pas udah turun aja. Hehe

    1. parah1ta

      Hai Ferry 🙂

      Nama pulaunya disensor bukan karena ga pengen ngasih tau yg mau camping di sana, tapi untuk alasan lain yang saya ga bisa cerita. Dan bukan, bukan Tiger Island. Tiger island is a resort, we cant go camping there…

      Temennya temen saya, kemping 4x di Pulau M ini, ga pernah ngerasain hal yang aneh-aneh. Jadi sy juga ga mau “give the island M a bad name on the internet” 🙂

    1. Parahita Satiti

      Hai Didit, saya memang masih terhitung anak kemarin sore dalam dunia per-camping-an. Tolong dong kamu yang sudah senior kasih saya tips-tips nulis cerita camping yang baik dan benar. Terimakasih ya sebelumnya! 😀

Leave a Reply