Perempuan yang “Menjalankan” Dunia

Jika saya mengutip sepotong lirik lagu milik Mbak Beyonce yang berbunyi “Who run the world? Girls!”, saya yakin akan banyak teman-teman pria saya yang tidak setuju dengan lagu itu.

“Hey, kami para pria juga tak kalah sedikit berkontribusi bagi kehidupan!” begitu kata mereka.

Iya, iya. Saya tak bermaksud meng-klaim bahwa kami perempuan lebih hebat dari para pria, kok. Saya cuma mau cerita tentang seorang wanita hebat yang saya temui saat famtrip bersama Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah ke sentra-sentra usaha kecil dan menengah di beberapa kota di Jawa Tengah beberapa hari yang lalu.

Perempuan itu bernama Ibu Sri Mulyati, seorang pengusaha pisang aroma dari dusun Sarangan, desa Gesing, kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung. Berawal dari keinginannya membantu perekonomian keluarga, Ibu Sri Mulyati memulai usaha pisang aroma pada bulan Maret 2001. Ia belajar membuat penganan yang awalnya nge-trend di tanah Sunda ini pada seorang tetangga yang berasal dari Jawa Barat.

pisang aroma

Ibu Sri Mulyati, Pengusaha Pisang Aroma dari Kandangan, Kab. Temanggung




Ya, pisang aroma memang agak mirip dengan pisang coklat atau yang lebih dikenal dengan akronim ‘piscok’ di daerah Bandung dan sekitarnya. Bedanya, alih-alih menggunakan cokelat, pisang aroma menggunakan gula pasir sebagai salah satu komponen isian.

Awal-awal berjualan, Bu Sri hanya membuat dalam jumlah sedikit. Ia lalu menjajakan pisang aroma buatannya dengan berjalan kaki dan naik turun angkutan umum. Berkeliling dari satu rumah ke rumah lain, hingga lama kelamaan daerah ‘jajahan’ Ibu Sri berjualan meliputi seluruh kabupaten Temanggung. Beberapa tahun berjualan keliling, Ibu Sri memutuskan untuk meningkatkan usahanya. Dengan modal awal sebesar IDR 300.000 ia membuat pisang aroma dalam jumlah jauh lebih besar dari yang biasa ia buat setiap hari, lalu mulai menitipkan hasil produksinya di toko-toko oleh-oleh yang ada di kabupaten Temanggung.

Suasana di pabrik pembuatan Pisang Aroma KPK Mawar.

Suasana di pabrik pembuatan Pisang Aroma KPK Mawar.

Dengan kegigihan yang luar biasa, enam belas tahun kemudian usaha pisang aroma milik Ibu Sri Mulyati berkembang hingga mampu memperkerjakan 35 orang tenaga kerja, dengan omzet hingga IDR 500.000.000 per bulan. Jika rata-rata harga pisang aroma adalah IDR 14.000/bungkus, maka Ibu Sri Mulyati mampu memproduksi sekitar 35.000 bungkus pisang aroma setiap bulannya! Angka yang sangat fantastis jika dibandingkan dengan hasil produksi saat Ibu Sri memulai usahanya.

Gulungan Pisang Sepanjang Tahun

Bahan baku yang selalu tersedia sepanjang tahun dan tidak pernah mengenal masa paceklik, adalah jawaban Ibu Sri ketika kami tanya alasannya mengapa memilih usaha pisang aroma. Ya, buah tropis yang satu ini memang berbeda dengan beberapa jenis buah tropis lainnya. Namun demikian, tidak semua jenis pisang bisa dipakai sebagai bahan baku pisang aroma. Sejauh ini ada dua jenis pisang yang dipakai oleh Ibu Sri Mulyati yaitu pisang raja nangka dan pisang belitung.

Pisang Raja Nangka dan Pisang Belitung; bahan baku utama pisang aroma.

Pisang Raja Nangka dan Pisang Belitung; bahan baku utama pisang aroma.

Setiap hari tak kurang dari 125 kilogram tepung terigu, ratusan lirang (sisir) pisang, dan 100 kg gula pasir diolah di pabrik pisang aroma ini. Tepung terigu dilarutkan dengan air dan sedikit garam pada sebuah ember besar, lalu pekerja yang membuat crepes mengambil segenggam besar adonan itu dengan satu tangan, lalu mengoles-oleskannya kebarisan periuk tanah liat yang ada di atas kompor. Ngolesinnya nggak pakai alat apapun, langsung pakai tangan. Saya setengah ternganga menyaksikannya!

cara membuat kulit pisang aroma

Ini bukan debus!

Setelah itu setumpuk crepes pembungkus pisang aroma siap diisi oleh pekerja lain dengan potongan pisang dan gula pasir. Dengan cekatan enam orang pekerja memindahkan sebaris irisan pisang, menaburkan gula pasir, mengoleskan ‘lem’ disekeliling crepes, lalu menggulung crepes hingga padat.

 

Penggulung pisang aroma yang asli.

Penggulung pisang aroma yang asli.

Setiap beberapa menit seorang pegawai yang bertugas memotong gulungan pisang aroma akan berkeliling mengambil hasil kerja para penggulung. Ia lalu memotong-motong gulungan tersebut sesuai ukuran yang diinginkan; dibagi dua menjadi sama panang, atau pendek-pendek kurang lebih 2 cm panjangnya. Gulungan itu lalu digoreng dalam kuali besar oleh pekerja laki-laki.

pisang aroma kandangan

Yang unik dari pisang aroma buatan Ibu Sri: ada yang dipotong kecil.

mesin pengering pisang aroma

Biar ga cepat tengik, pisang aroma harus ditiriskan terlebih dulu.

Selesai digoreng dan ditiriskan pisang aroma siap dikemas dengan merek “KPK Mawar”. Dengan kapasitas produksi sekitar 35.000 bungkus pisang aroma, Ibu Sri Mulyati sudah mensuplai pisang aroma hingga ke seluruh wilayah pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Pisang aroma siap dikemas.

Pisang aroma siap dikemas.

Tantangan Si Pisang

Tak ada usaha yang tidak menghadapi kesulitan, demikian juga usaha pisang aroma yang dijalani Ibu Sri. Jika dulu ia harus berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer untuk menjajakan dagangannya, lalu ia bisa “mengalahkan” tantangan itu dengan berani memulai produksi masal dan mencari pasar baru di sentra-sentra oleh-oleh, kini KPK Mawar menghadapi tantangan baru dalam usahanya.

Salah satu masalah yang dihadapi adalah semakin lesunya permintaan pisang aroma dari sentra oleh-oleh di seluruh pulau Jawa (terutama daerah Jawa Tengah) akibat masif-nya pembangunan jalan tol. Pengguna jalan yang dulu melewati jalan raya non tol dan kerap mampir di toko oleh-oleh, kini lebih memilih untuk melaju di jalan bebas hambatan. Oleh-oleh berupa makanan sedikit terlupakan.

Masalah lainnya adalah cara penjualan yang masih menyasar toko-toko offline. Ketika kami menyinggung kemungkinan Ibu Sri untuk berjualan secara online, beliau sudah “takut” duluan. Pernah punya pengalaman hampir tertipu pesanan online, membuatnya kapok menawarkan dagangan di internet.

“Pernah ada yang memesan banyak lewat Facebook, Mbak. Sudah kami siapkan barangnya, hampir saja dikirim tapi kok ndak transfer-transfer… untungnya kami belum jalan ngirim barang.” begitu ujarnya.

pisang aroma ibu sri mulyati

Semoga usaha pisang aroma Ibu Sri makin berkembang sehingga senyum pekerjanya makin manis.  Pic: Ghana & Pungky

Menurut saya hal semacam itu bisa dihindari dengan berjualan di marketplace yang tentunya jauh lebih aman jika dibandingkan membuka toko online di Facebook atau Instagram. Semoga saja tak lama lagi Ibu Sri bisa merambah penjualan online. Melihat bagaimana beliau bisa mengubah usaha modal dengkul jadi usaha milyaran rupiah, saya sih yakin, suatu saat beliau pasti bisa!

(Mampir ke pabrik Pisang Aroma KPK Mawar di Kab. Temanggung ini dalam rangka Familiarization Trip yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan UKM Propinsi Jawa Tengah pada tanggal 17-18 Nov 2017)

Share: