Cerita Bu Tilah

“Bu, niki tape nipun setunggal pinten pring?” (Bu, ini (harga) tape-nya berapa pring sebungkus?) tanya saya pada salah seorang pedagang makanan di Pasar Papringan kemarin pagi, Minggu 19 November 2017.

“Setunggal pring angsal kalih, Mbak” (Satu pring dapat dua bungkus, Mbak) jawabnya. Saya mengambil dua bungkus tape ketan dari atas nampan bambu di meja dagangannya, lalu duduk di bangku kayu yang ada di sebelah meja. Bu Tilah, perempuan berusia kurang lebih 60 tahun itu menjawab ketika saya tanya namanya. Ia sudah ikut berjualan di Pasar Papringan Ngadiprono ini sejak pertama kali gelaran pasar itu dimulai. Wedang tape dan susu kedelai adalah penganan yang selalu beliau jual.

Bu Tilah, pedagang air tape dan susu kedelai di Pasar Papringan.

Bu Tilah, pedagang air tape dan susu kedelai di Pasar Papringan.

“Sedinten angsal pinten pring, Bu?” (Sehari biasanya dapat berapa pring, Bu?)

Nggih mboten tentu, Mbak. Dinten niki angsal kalih atus sangang dasa, ndek pasaran sing sak derenge niku malah angsal tigang atus selangkung pring.” (Ya nggak tentu, Mbak. Hari ini dapat 290 pring, waktu hari pasar yang lalu malah dapat 325 pring)




Pring adalah mata uang yang berlaku di Pasar Papringan. Setiap pengunjung yang ingin berbelanja diharuskan menukar rupiah ke kepingan bambu tertentu yang berlaku sebagai mata uang di Pasar Papringan. Satu keping pring bernilai IDR 2.000. Setiap keping pring yang sudah kita miliki tidak bisa ditukarkan kembali menjadi rupiah, kecuali dipakai berbelanja. Jadi sebagai pengunjung kita harus cerdas memperkirakan berapa banyak keping pring yang kita butuhkan selama berbelanja di Pasar Papringan ini.

Sebagian pring yang didapat Bu Tilah

Sebagian pring yang didapat Bu Tilah

Sambil saya menikmati bungkus demi bungkus tape ketan, kami kembali mengobrol. Bu Tilah bercerita sehari-hari ia dan suaminya berprofesi sebagai petani. Penghasilan sebagai petani tentu hanya bisa ia nikmati saat padi atau palawija yang mereka tanam sudah dipanen. Biasanya sekitar tiga hingga empat bulan sekali. Uang hasil bertani itu harus cukup ia pakai untuk hidup berdua dengan suaminya hingga musim panen berikutnya, termasuk untuk membeli bibit dan pupuk, dan jika ada sisa ia bisa memberi sedikit uang jajan untuk ketiga cucunya.

Maka ketika ia ditawari untuk berjualan di Pasar Papringan, Bu Tilah tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kini setiap dua kali dalam selapan (35 hari penanggalan Jawa) ia punya kesempatan mendapatkan penghasilan tambahan kurang lebih 300 pring atau setara dengan IDR 600.000 sebelum dipotong iuran sewa tempat dan kebersihan pasar sebesar 15%.

Pengunjung di Pasar Papringan

Pengunjung di Pasar Papringan

Bu Tilah merasa hasil dari bertaninya cukup untuk hidup sehari-hari, namun dengan berjualan dua kali dalam 35 hari ia bisa lebih sering memberi uang jajan untuk ketiga cucunya. Juga untuk sebuah yang menurut saya sangat mulia.

“Bathi ne sing dodolan sithik-sithik kula celengi, Mbak. Dingge tumbas wedhus nggo kurban.” (Keuntungan dari berjualan sedikit-sedikit saya tabung, Mbak. Untuk beli kambing kurban.)

Saya menyerahkan dua keping terakhir pring yang ada di kantong dan mengambil empat bungkus tape ketan yang tersisa.

Keranjang Bambu Mbak Safitri

Di Pasar Papringan para pedagang tidak diizinkan mengemas barang dagangan menggunakan plastik. Untuk makanan yang dikonsumsi di tempat pun, tenpat makan yang boleh dipergunakan adalah piring, gelas kaca, sendok besi, daun pisang dan tempat makan yang terbuat dari bahan alami lainnya (misalnya; batok kelapa). Kertas dan tempat plastik sekali pakai adalah dosa besar di Pasar Papringan.

Para pembeli di Pasar Papringan juga diharapkan membawa sendiri tas atau kantong belanjanya, tentu saja diharapkan tas yang dipakai berbelanja adalah yang ramah lingkungan.

Lalu gimana kalau lupa bawa kantong belanjaan sementara kita ingin berbelanja dalam jumlah banyak? Tenang, ada beberapa pedagang penjual tas belanja yang terbuat dari anyaman bambu. Salah satunya adalah Mbak Safitri. Berbekal kemampuan sang suami yang terbiasa membuat anyaman bilik, ia berjualan tas belanja yang juga terbuat dari lembaran tipis serat bambu.

Keranjang Bambu Khas Pasar Papringan

Keranjang Bambu Khas Pasar Papringan

Banyak yang membeli tas yang dijual Mbak Safitri karena memang membutuhkan tempat untuk membawa barang belanjaan, namun tak sedikit pula yang membeli keranjang belanja aneka ukuran itu karena sekedar ingin memiliki kenang-kenangan khas Pasar Papringan. Setiap tas belanja ia jual dengan harga bervariasi, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan si tas. Tenang, harganya tidak ada yang lebih dari 6 keping pring alias kurang dari IDR 12.000.

Hari pasaran kemarin adalah kali kedua Mbak Safitri berjualan di Pasar Papringan. Sambil menggendong putranya yang masih berusia 2 tahun, ia bilang senang sekali bisa berjualan di pasar ini. Penghasilan tambahan tentu saja menjadi motivasi utamanya.

“Selain karena dapat uang, saya juga senang sekali dengan adanya pasar ini, Mbak. Sebulan dua kali kampung saya jadi ramai, ketemu orang dari mana-mana di sini. Nggak usah keluar kampung sudah bisa ketemu orang baru” ujarnya.

Papringan yang Membawa Kebaikan

Papringan adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti tempat tumbuhnya pohon bambu, kebun bambu. Kami orang Jawa sering mengindentikkan ‘papringan‘ dengan suatu tempat yang gelap dan angker. Papringan bukanlah tempat yang umum dijadikan tempat beraktivitas, apalagi dijadikan pasar dan tempat nongkrong. Namun, ditangan Komunitas Mata Air dan Spedagi sebuah kebun bambu seluas 2.500 meter persegi yang awalnya adalah tempat pembuangan sampah justru bisa diubah menjadi sebuah tempat yang tak hanya menarik ribuan wisatawan tapi juga mendatangkan manfaat bagi warga sekitar.

Pedagang sayuran di Pasar Papringan

Pedagang sayuran di Pasar Papringan

Saatnya menikmati aneka penganan tradisional

Saatnya menikmati aneka penganan tradisional

Pasar Papringan terletak di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Pasar ini hanya buka setiap dua kali dalam selapan (35 hari penanggalan Jawa), yakni pada hari Minggu Wage dan Minggu Pon saja. Ada puluhan pedagang yang berjualan di pasar ini, yang kesemuanya adalah warga Dusun Ngadiprono. Barang dagangan yang dijajakan mulai dari aneka kuliner tradisional setempat, hasil pertanian, dan kerajinan tangan. Selain itu ada juga penyedia jasa river tubing di Sungai Progo yang membuka jasanya di pasar ini.

Pengen ngopi? Ada juga di Pasar Papringan

Pengen ngopi? Ada juga di Pasar Papringan

Waktu saya ngobrol dengan Mas Imam, ketua Komunitas Mata Air yang bersama Spedagi mengembangkan pasar Papringan, beliau menyebutkan bahwa mereka bercita-cita membuat desa Ngadimulyo menjadi ramai kembali dengan kegiatan-kegiatan yang positif, sehingga generasi muda yang ada di desa tidak lagi tertarik untuk berurbanisasi ke kota.

Asyik juga nih nongkrong di Pasar Papringan

Asyik juga nih nongkrong di Pasar Papringan

Dengan uniknya konsep yang diusung, saya berharap semoga Pasar Papringan Ngadiprono ini bisa terus berjalan dan semakin maju. Atau malah mengilhami desa-desa lain di Indonesia untuk membuat sentra UKM dan obyek wisata baru yang mengangkat keunikan desa di Indonesia.

 

(Jalan-jalan ke Pasar Papringan Ngadiprono ini dalam rangka Familiarization Trip yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan UKM Propinsi Jawa Tengah pada tanggal 17-18 Nov 2017)

Share: