sunrise di candi borobudur

Saat pertama kali melihat matahari terbit dari bukit Puthuk Setumbu setahun lalu, dan setelah membaca tulisan manis nan magis tentang Borobudur yang dibuat oleh teman saya Yuki Anggia di blog-nya, keinginan saya untuk bisa menyaksikan matahari terbit di Candi Borobudur terasa semakin kuat. Keinginan ini pernah saya ungkapkan ke beberapa orang teman dengan maksud ingin mengajak mereka pergi bersama, namun hampir semuanya menjawab hampir seragam; tak punya ketertarikan mengunjungi candi, apalagi harus bangun di pagi buta dan membayar jauh lebih mahal dari harga tiket masuk normal.

Puthuk Setumbu dilihat dari Borobudur

Setahun lalu saya melihat candi Borobudur dari bukit di sana.

Tapi kalau udah pengen banget, kita sendiri yang harus mewujudkannya ‘kan? Hitung-hitung ngasih kado ulang tahun ke diri sendiri tahun ini, juga mencoret satu poin dari 99- hal yang ingin saya lakukan sepanjang hidup.

Karena saya tahu teman saya Firsta bekerjasama dengan beberapa tour organizer di Jogjakarta yang bisa mengatur sunrise-tour di Borobudur, jadi saya minta tolong Firsta untuk mengaturkan trip ini. kalau kamu anaknya seneng yang praktis-praktis kaya saya, bisa juga lho hubungi Firsta untuk tur-tur di seputaran Jogja. Dijamin oke servisnya!

hotel manohara

Gelap-gelapan di taman Hotel Manohara




Tur dimulai dengan penjemputan di hotel pada pukul 03.30 pagi. Dini hari itu saya yang pertama dijemput, jadi harus ikut berkeliling menjemput peserta yang lain. Nggak lama kok kelilingnya, sekitar 15 menit kemudian kami sudah menuju kota Magelang dan sekitar satu jam lebih sedikit saya diturunkan di lobby hotel Manohara. Setelah mendaftarkan diri resepsionis, para peserta tur diberikan selembar tiket masuk, stiker untuk ditempel di dada, dan sebuah senter.

Dari lobby hotel Manohara kita perlu berjalan sekitar 700 meter, melewati jalan beraspal kecil yang membelah sebuah taman yang masih gelap gulita. Di ujung taman, terdapat sebuah pagar besi yang dijaga dua orang petugas. Satu persatu tamu menyerahkan tiket masuk kawasan candi Borobudur dan petugas penjaga menyobek satu sisi tiket yang ia terima.

Jika menginginkan tur berpemandu ada beberapa orang pemandu yang menawarkan jasanya di sekitar lobby. Saya, karena tujuan awal saya hanya ingin melihat matahari terbit dari dalam kompleks candi Borobudur, menolak dengan halus tawaran para pemandu di sana. Beberapa grup wisatawan mancanegara ada yang mengambil paket sunrise-tour berpemandu, dan ternyata para pemandu ini ada spesialis bahasa masing-masing, lho! Yang saya bisa tangkap pagi itu, ada yang khusus bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Jepang, dan bahasa Spanyol. Saya yang selalu menganggap keren (keren = wah, jago banget! pasti susah belajarnya!) orang yang bisa jago bahasa asing, beberapa kali iseng deket-deket guide itu cuma untuk nguping kira-kira mereka ngomong apa. Hehe.

Tangga di candi Borobudur

Kalau di jam kunjungan normal, naik turun tangga ini musti antri.

Selepas pintu pemeriksaan tiket kami langsung mendaki anak-anak tangga candi Borobudur. Beberapa kali saya menggosokkan kedua telapak tangan dan menempalkan di pipi, mencoba mengalahkan udara dingin dini hari di musim kemarau. Terakhir kali saya masuk ke candi Borobudur itu udah lumayan lama. Mungkin sekitar tahun 2007 atau 2008. Dan waktu itu pas libur Lebaran, jadi dibanding pas sunrise-tour keadaannya jauh berbeda, ya! Dulu rame banget, sampai mau naik tangga candi aja musti antri dan terkadang gantian. Sekarang bisa ekspres banget naik tangganya, asal kaki kuat aja manjat tangga non stop.

Stupa di Candi Borobudur

Kalau masih gelap gini, suasana di Candi Borobudur makin terasa syahdu.

“The sun’s rising at 5.51” salah seorang guide memberikan info ke tamu yang ia pandu. Saya otomatis melirik ke arloji di pergelangan tangan. Baru pukul 05.10, masih ada waktu sekitar 40 menitan lagi untuk sampai puncak candi dan mencari posisi yang strategis. Sayangnya, harapan saya untuk mendapatkan tempat yang agak sepi pupus begitu saya sampai di area puncak. Sudah begitu banyak wisatawan yang menempati posisi terbaik. Dengan teknik nyempil-nyempil dan geser pelan-pelan, saya akhirnya bisa dapat tempat yang lumayan ok untuk melihat sunrise.

wisatawan di borobudur

Musti pinter-pinter cari spot melihat sunrise di candi Borobudur

Waktu mulai mendekati pukul 05.50, namun awal putih rata menutupi hampir seluruh ufuk timur. Hanya ada beberapa semburat jingga kemerahan muncul mengintip di balik awan. Jujur, saya agak kecewa sih pagi itu berawan. Cita-cita lihat sunrise di candi Borobudur terasa kurang memukau, gitu.

Tapi ya namanya juga atraksi alam ya? Hanya Tuhan yang mahakuasa yang bisa mengatur jalannya pertunjukan.

Meskipun begitu, masih tetap menyenangkan kok bisa menikmati candi Borobudur sebelum ia dibuka umtuk umum pada pukul 07.00 pagi. Kita bisa bebas menikmati setiap relief candi tanpa harus tertutup oleh pengunjung lain. meskipun sendirian saya bisa foto pakai timer tanpa harus ‘bocor’ terganggu pengunjung yang bersliweran.

Seharusnya, ‘membaca’ relief di candi Borobudur dimulai dari tingkatan paling bawah, berputar searah jarum jan di tiap tingkatannya; Kamadhatu (dunia yang masih penuh nafsu dan materi), Rupadhatu (dunia yang masih terikat oleh materi, rupa dan bentuk namun sudah terbebas oleh hawa nafsu), baru terakhir di puncak Rupadhatu (dunia di mana manusia sudah tak lagi memiliki keinginan duniawi).

Patung Buddha yang baru tertutup sebagian

Patung Buddha yang baru tertutup sebagian

Namun karena tadi begitu datang saya langsung menuju puncak candi Borobudur atau yang disebut dengan pelataran Arupadhatu, saya memulai putaran dari puncak candi yang juga sering disebut dengan Kamulan Bhumisambhara itu. Sambil tak habis-habisnya saya berpikir “bagaimana mungkin pada tahun 800 Masehi, dengan peralatan yang masih sangat terbatas, nenek moyang kita bisa membuat mahakarya semegah ini?”

Puncak Candi Borobudur

Stupa yang paling besar itu, yang tertutup seluruh bagian syupanya, melambangkan Buddha yang sudah mencapai pencerahan penuh.

Setiap keping relief yang bercerita, menyusun tumpukan batu-batu hingga berbentuk mandala, dengan sepuluh teras berbentuk bujur sangkar dan lingkaran, belum lagi konsep jeniusnya yang menjelaskan setiap tingkatan teras yang melambangkan perjalanan spirirual umat manusia. Kita yang mengaku manusia modern, bisa bikin apa?

Kalau kamu tertarik untuk ikut sunrise-tour di Borobudur lewat Hotel Manohara (setahu saya, ini satu-satunya akses masuk kalau kita ingin masuk candi Borobudur sebelum jam operasionalnya), siapkan uang sebesar IDR 325.000 untuk tiket masuk (wisatawan dalam negeri), diluar biaya transportasi menuju dan dari Hotel Manohara. Selain tiket masuk candi Borobudur dan pinjaman senter, kita akan mendapatkan light breakfast di Hotel Manohara, plus suvenir.

 

Share: