gereja ayam magelang

Setahun lalu saat diundang di acara Famtrip Jateng 2016 salah satu agenda di dalam itinerary adalah menyaksikan matahari terbit dari bukit Punthuk Setumbu. Waktu itu (akhir builan Agustus 2016) jadwal tayang film “Ada Apa dengan Cinta 2” belum terlalu lama berlalu, jadi euforia lihat sunrise dari bukit itu dan juga mengunjungi Gereja Ayam yang masih berada dalam satu kawasan masih sangat terasa.

Kayanya semua orang pengen ngerasain romantisme a la Mbak Cinta dan Mas Rangga, deh!

Homestay Kebon Ndalem

Homestay Kebon Ndalem

Dari homestay kami yang terletak di Kebon Ndalem Homestay, perjalanan meuju kaki bukit Punthuk Setumbu tidaklah terlalu jauh. Hanya butuh sekitar 10 menit naik mobil. Sayangnya kami sedikit terlambat pagi itu. Agak kelelahan akibat jadwal famtrip yang begitu padat di hari sebelumnya membuat kami sedikit malas untuk bangun subuh-subuh.

One Sunrise Leads to Another

Pendakian ke Punthuk Setumbu bisa dikatakanlah relatif mudah, dengan keadaan fisik yang prima dibutuhkan tak lebih dari 20 menit berjalan kaki. Kalau banyak istirahat seperti saya, yaaah palingan 30 menit lah. Idealnya, kita harus sudah mulai mendaki bukit sekitar pukul 04.45, sehingga ketika matahari mulai muncul di balik ufuk, kita sudah berada di atas punthuk atau bukit. Sementara, kami baru memulai pendakian pukul 05.15, saat matahari sudah bersinar lumayan terang.




Pas sampai atas bukit, hampir setiap titik  di pinggir puncak bukit sudah terisi oleh wisatawan. Mereka seakan tak ingin melewatkan satu detik pun moment matahari beranjak naik, dengan pemandangan perbukitan yang penuh dengan pepohonan dan siluet stupa-stupa Candi Borobudur yang berdiri gagah di tengah-tengah.

Matahari terbit di Punthuk Setumbu

Matahari terbit di Punthuk Setumbu

Beberapa wisatawan yang datang bersama keluarga berusaha mengabadikan momen itu dengan ber-wefie. Wisatawan yang datang berpasangan tak mau kalah dengan mencari cari bisa berfoto mesra berdua. Yang datang bersama para sahabat tak habis-habisnya berpose sambil sesekali bersendau-gurau; saling menertawakan satu sama lain. Saya? Cukup memperhatikan tingkah laku itu sambil menyesap segelas susu hangat di warung sederhana yang ada di ujung jalan menanjak tadi.

Setelah menghabiskan segelas susu dan beberapa potong gorengan, saya memutuskan ikut mengambil gambar juga; berusaha menyelip di antara para pengunjung Punthuk Setumbu lainnya. Meskipun foto yang saya ambil tidaklah spektakuler, namun melihat matahari merah beranjak naik di balik Candi Borobudur itu memanglah sebuah pengalaman yang menakjubkan.

Saat itulah saya bertekad, suatu saat saya harus melihat matahari terbit dari dalam kompleks Candi Borobudur.

5 menit jadi Cinta dan Rangga

Puas melihat sunrise di Punthuk Setumbu rombongan kami beranjak menuju Gereja Ayam. Hanya butuh sekitar 20 menit berjalan kaki santai melalui jalan setapak di pinggir bukit untuk menuju bangunan yang sebenarnya dimaksudkan berbentuk burung merpati itu. Dan sebetulnya bangunan ini tidak dibuat untuk menjadi gereja, melainkan rumah doa dan panti rehabilitasi pecandu narkoba. Entah kenapa banyak orang salah mengartikan bentuk burung merpati menjadi bentuk ayam dan rumah doa menjadi gereja.

Lebih mirip merpati atau ayam? Menurut aku sih merpati, ga tau kalau Mas Anang...

Lebih mirip merpati atau ayam? Menurut aku sih merpati, ga tau kalau Mas Anang…

Semenjak tempat ini menjadi salah satu TKP pertemuan kembali antara Cinta dan Rangga di film AADC 2, tentu saja tempat ini makin ngehits. Yang dulu katanya masuknya gratis, setahun lalu dikenai tiket IDR 10.000 per orang. Tapi ya nggak papa, toh uang dari penjualan tiket digunakan untuk biaya perawatan gedung juga. Dibanding dengan foto-foto yang saya lihat di postingan teman saya tentang gedung ini bebarapa tahun silam, sudah banyak perbaikan yang dilakukan di bangunan ini. Mulai dari bangunan dalam yang sudah disapu, beberapa tangga yang diperbaiki demi keamanan pengunjung, juga disediakan beberapa tempat duduk besi untuk menunggu.

Sebagian antrian pengunjung Gereja Ayam

Sebagian antrian pengunjung Gereja Ayam

Tempat yang sebenarnya bernama Rumah Doa Bukit Rhema ini mulai dibangun oleh Bapak Daniel Alamsjah pada awal 1990-an, setelah beliau lunas mencicil tanah seluas 3.000 meter persegi di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Magelang itu. Pak Daniel membangun sedikit demi sedikit gedung yang sedianya akan digunakan sebagai rumah doa dan tempat rehabilitasi pecandu narkoba itu, namun sayangnya pada tahun 2000 beliau terpaksa menghentikan total seluruh pembangunan gedung karena tidak memiliki dana lagi.

Grafiti yang ada di bagian dalam gereja ayam

Grafiti yang ada di bagian dalam gereja ayam

Belasan tahun ditinggal begitu saja, tempat ini tentu saja banyak mengalami kerusakan. Selain karena dimakan usia, juga karena ulah vandalisme para pengunjung. Untungnya setelah semakin booming di kalangan anak muda yang tertarik mengunjungi tempat ini, dan para pejaga gedung menetapkan tiket masuk beberapa perbaikan mulai dilakukan.

Mungkin, selain terinspirasi oleh aksi Mas Rangga mbribik Mbak Cinta di atas bangunan ini, pemandangan dari atas Rumah Doa Bukit Rhema memang menggoda para pengunjung untuk datang kemari. Dari atas mahkota di kepala burung merpati itu, kita bisa melihat keindahan pemandangan di sekeliling perbukitan Menoreh.

puncak gereja ayam magelang

Wefie di puncak gereja ayam magelang

Photo credit: Citra Rahman

Di akhir pekan seperti saat kami berkunjung, saking ramainya pengunjung kami hanya diberi waktu 5 menit untuk menikmati pemandangan di kepala si burung merpati. Cuma sempat untuk beberapa kali wefie dengan teman-teman. Jangan harap untuk bisa molor-molorin waktu, karena seorang penjaga di bawah tangga akan dengan siaga memberi peringatan:

“Ayooo, Mbak Cinta, Mas Rangga… gantian dengan Mbak Cinta dan Mas Rangga yang berikutnya!”

Rute jalan kaki pulang dari Gereja Ayam, seru ya? Desanya bersih banget!

Rute jalan kaki pulang dari Gereja Ayam, seru ya? Desanya bersih banget!

Share: