Juki Affandi
Pertemuan Tak Disengaja

Saya lagi melamun sambil ngeliatin gedung-gedung yang berkejaran sambil berusaha menyeimbangkan pijakan kaki di atas bus trans jogja yang ngebut di sepanjang Jl Laksda Adi Sucipto , membawa saya dari Bandara Adi Sucipto menuju pusat kota Jogjakarta. Tak lama setelah melewati Ambarrukmo Plasa saya melihat sebuah pintu gerbang besi bergambar kaki dan tangan berwarna kuning dengan sebuah tulisan di atasnya “Museum Affandi”.

“Lhoooo, jadi Museum Affandi itu di sini letaknya? Kemana saja sih saya sampai nggak pernah tau? Ya ampun, saya pengen ke situ… tapi aduh ini bus udah nglewatin satu shelter, pasti susah lagi nyebrangnya. Ya udah, kembali ke rencana semula deh. Sarapan dulu, naruh ransel di penginapan trus balik lagi ke sana”, batin saya sibuk sendiri dengan banyak rencana.

Museum Affandi

Pintu masuk Museum Affandi

Jadilah akhirnya sekitar 2 jam kemudian, saya kembali lagi ke Museum Affandi. Dengan menggunakan jasa ojek online dari daerah Prawirotaman menuju ke Museum Affandi cuma butuh waktu sekitar 15 menit saja, dengan ongkos sekitar IDR 10.000. Praktis dan murah banget!

Affandi, Lukisan, dan Daun Pisang

Untuk masuk ke Museum Affandi kita perlu membayar IDR 25.000/orang dewasa, plus IDR 20.000 jika ingin memotret dengan kamera saku / DSLR / mirorless atau IDR 10.000 jika menggunakan kamera hand phone. Karena saya datang pas hari kerja, pengunjung museum tidak terlalu ramai. Hanya ada dua orang anak perempuan usia pelajar SMA yang membeli tiket sebelum saya dan sepasang turis dari Perancis di belakang saya.




Mobil Affandi

Ya, yang telanjang di belakang mobil itu adalah lukisan diri Affandi, holding his first grandchild.

Siapa yang tak kenal Affandi? Maestro pelukis ekspresionisme kelahiran tahun 1906 yang karya lukisannya diakui sebagai lukisan kelas dunia. Salah satu lukisan beliau yang saya ingat pernah menjadi salah satu materi pelajaran Seni Rupa saat di sekolah dasar adalah “Ayam Tarung”. Waktu saya pikir, mana sih yang berbentuk ayam (jago) bertarung di lukisan ini? Wong isi lukisannya ‘cuma’ coret-coretan cat warna kuning emas dan merah di sisi kiri kanvas dan hitam merah di sisi kanan kanan kanvas.

Ya, tentu dibutuhkan lebih dari pemikiran anak SD untuk bisa mengerti lukisan beraliran ekspresionisme, sepertinya.

Menempati lahan seluas 3.500 m2 di tepian Sungai Gajahwong dari luar Museum Affandi terlihat begitu asri dengan banyaknya pohon kipas (pisang-pisangan). Terdapat empat buah galeri di sana, selain itu terdapat satu bangunan yang berfungsi sebagai kantor dan tempat penjualan tiket masuk, sebuah rumah yang bagian bawahnya berfungsi sebagai kafe dan bagian atas adalah tempat tinggal keluarga Affandi, dan sebuah rumah gerobak yang kini berfungsi sebagai musholla bagi pengunjung museum.

Rumah Delman di Museum Affandi

Rumah Delman yang kini berfungsi sebagai musholla

Yang unik, hampir semua atap bangunan berbentuk pelepah daun pisang. Ada kisah tersendiri mengenai pemilihan daun pisang sebagai inspirasi bentuk atap bangunan di museum ini. Sewaktu kecil, Affandi dan keenam anak R. Koesoemah lainnya terkena wabah penyakit cacar. Untuk mengurangi panas tubuh ketujuh anaknya, R. Koesoemah membaringkan putra-putrinya di atas daun pisang. Sayangnya empat orang saudara Affandi tidak dapat bertahan terhadap serangan wabah penyakit cacar tersebut dan meninggal dunia.

Masa Awal Melukis

Galeri pertama terletak di sebelah kiri gerbang masuk. Di dalam galeri ini terdapat sekitar 50-an lukisan Affandi, kebanyakan adalah lukisan dari masa-masa awal Affandi mulai melukis, hingga lukisan pada masa penjajahan Jepang.

Affandi - Mother in the Room

Ibu Affandi marah ketika diberi tahu Affandi akan mengambil beasiswa melukis di India.

Di galeri ini saya excited akhirnya bisa lihat lukisan asli “Ayam Tarung” yang dulu jaman SD pernah saya lihat gambarnya di buku pelajaran seni rupa itu. Dalam ukuran yang jauuuuh lebih besar, dan tentu saja karena asli lukisan asli (bukan hasil print di buku) ya jauuuuh lebih bagus. Detil-detil garis yang nunjukin pertarungan antara ayam jago berwarna hitam-emas-merah dan jago kuning-merah bisa terlihat. Ayam jago yang kalah, njekengkang kakinya terangkat ke udara. Bisa mengerti suatu hal yang jadi misteri selama lebih dua dekade lamanya itu menyenangkan, ya!

Ada beberapa lukisan lain di galeri ini yang menarik bagi saya, yaitu; The Mother and Her Daughter yang menggambarkan adegan istri Affandi (Maryati) tengah memeluk putri mereka Kartika. Yang unik diceritakan di keterangan lukisan itu, bahwa sejauh ini belum ada pelukis Indonesia yang menguasai teknik lukisan-dalam-lukisan sebaik Affandi. Jadi, di dalam lukisan The Mother and Her Daughter ada lukisan kecil Self Portrait Affandi dalam ukuran mini. Beberapa kali saya sampai mondar-mandir bandingin kemiripan kedua lukisan dalam versi asli dan versi mini-nya. Emang beneran mirip!

Affandi - The Mother and Her Daughter

Kalian bisa menemukan “lukisan di dalam lukisan” di lukisan ini kah?

Lukisan lain yang menarik lukisan telanjang seorang wanita yang tengah tiduran membelakangi si pelukis. Model lukisan tersebut diceritakan mau dilukis telanjang dengan syarat wajahnya tidak terlihat di dalam lukisan. Siapakah model lukisan tersebut? Cari tahu sendiri ya dengan melihatnya langsung di Museum Affandi!

Affandi - Lukisan Telanjang

Ada yang bisa nebak siapa model untuk lukisan ini?

Saat beranjak ke galeri kedua mata saya menangkap ada dua buah makam di sebuah taman kecil di antara galeri pertama dan kedua. Rupanya kedua makam tersebut adalah makam Affandi dan istri pertamanya, Maryati.Sebelum meninggal dunia tahun 1990, Affandi berpesan untuk dimakamkan halaman rumahnya, di antara lukisan-lukisan buah karyanya. Satu tahun kemudian, ketika Ibu Maryati meninggal dunia, beliau dimakamkan di samping makam suaminya.

makam Affandi dan Istri

Makam Sang Maestro dan istri

Beasiswa ke India dan Daratan Eropa

Memasuki galeri kedua kita diajak untuk mengikuti perjalanan Affandi ketika menempuh pendidikan di Santiniketan, India dan kemudian tinggal di Eropa. Beberapa lukisan yang dipamerkan di galeri ini dibuat saat Affandi mendapat beasiswa kuliah di India, namun pada akhirnya karena sudah dianggap terlalu pintar melukis Affandi justru tidak diijinkan kuliah dan diminta mengajar. Affandi menolak, dan akhirnya menghabiskan uang beasiswanya untuk melukis dan membuat pameran lukisan keliling India. Di India pulalah Affandi belajar melukis tanpa menggunakan kuas, cat minyak langsung ia oleskan begitu saja dengan jemari tangan di kanvas.

Koleksi Lukisan Affandi

Sebagian lukisan Affandi yang dipamerkan di Galeri 1 – Museum Affandi

Ada juga bebarapa sketsa yang dibuat Affandi selama perjalanan ke India dan juga sewaktu tinggal di Perancis dan Belanda. Sketsa-sketsa itu dibuat di atas kertas dengan menggunakan pena.

Sketsa Affandi

Salah satu sketsa buatan Affandi ketika tinggal di Eropa

Penggunaan pena untuk sketsa ini konon ada hubungannya dengan sulitnya mendapatkan kanvas dan cat minyak ataupun cat air saat Affandi berada di atas kapal menuju India dan masa-masa awal beliau tinggal di Eropa. Saat dorongan untuk menggambar begitu tinggi, Affandi menyalurkannya dengan membuat sketsa dengan pena di atas kertas.

Keluarga yang Melukis

Beranjak ke galeri ketiga, saya cukup terkejut melihat dari pintu masuk “Kok lukisan yang dipamerkan pemilihan warnanya begitu berbeda dengan dua galeri sebelumnya”, batin saya. Rupanya lukisan-lukisan di galeri ini adalah buah karya Kartika, Roekmini, dan Juki, putra-putri Affandi yang menuruni bakat sang ayah, pandai juga melukis.

Lukisan putri Affandi

Lukisan putri Affandi; Kartika

Di sebelah kanan pintu masuk galeri ketiga ini, ada satu dinding khusus yang didedikasikan untuk memamerkan lukisan, sketsa dan lukisan dengan benang buah karya Maryati. Juga sebuah kutipan kata-kata Affandi tentang kemampuan melukis istri tercintanya itu. Affandi menyebutkan bahwa sesungguhnya ia iri dengan kebisaan melukis Maryati dengan style kekanak-kanakan itu. Tidak semua orang yang tumbuh dewasa masih bisa melukis seperti anak-anak.

Lukisan Maryati - Istri Affandi

Ternyata istri Affandi,Maryati, juga jago melukis.

Di bagian ini saya setuju. Anak kecil mana yang tidak suka menggambar atau main coret-coretan? Tapi ketika kita beranjak dewasa, berapa banyak yang masih bertahan suka menggambar? Sebagian besar pasti sudah ‘mengubur’ kemampuan menggambarkan, dan banyak dari yang menyerah itu pasti pernah karena dikomentari “gambar mu jelek” atau “cara kamu menggambar salah” dari orang lain.

Jadi menjadi dewasa dan masih bisa melukis dengan style anak-anak itu bagus, lho!

Galeri keempat atau galeri terakhir di Museum Affandi adalah studio lukis yang kini digunakan oleh Didit, cucu Affandi. Di galeri yang terletak paling bawah dan paling dekat dengan sungai Gajahwong ini Didit biasanya menghabiskan waktunya untuk melukis. Sayangnya saat saya kesana galeri sedang kosong.

Cucu Affandi

Galeri 4 di Museum Affandi berisi lukisan karya Didit, cucuAffandi

Selesai berkeliling empat galeri di Museum Affandi saya merasa puas banget bisa lihat begitu banyak lukisan salah satu maestro lukis Indonesia yang sebelumnya hanya pernah saya lihat foto lukisannya di buku pelajaran saja. Kapan-kapan kalian main ke Jogja, sempetin untuk main ke Museum Affandi, ya!

Share: