gunung prau

Titi? Naik gunung? Haha! Kayanya ga mungkin, deh!

Setiap orang yang mengenal saya dengan baik pasti bereaksi seperti itu waktu tahu saya mau pergi naik gunung. Mereka tahu, saya tidak bersahabat dengan tanjakan. Jalan kaki belasan kilometer tidak jadi masalah untuk saya, asal jangan ada tanjakannya.

Tanjakan brings the worst out of me. Otot paha panas, otot betis menegang, paru-paru yang sepertinya selalu kekurangan banyak oksigen tak perduli kamu sudah menghirup udara dalam-dalam dari hidung sekaligus dari mulut, jantung yang memompa darah 3x lebih kencang dari biasanya. Buat saya semua itu akan berujung pada makin tipisnya kesabaran menghadapi diri sendiri.

Karena sadar akan kemampuan diri sendiri yang kurang jago dalam menghadapi tanjakan, saya berkali-kali mengubur keinginan untuk nyobain naik gunung. Rasa penasaran saya untuk tahu rasanya naik gunung saya kubur dalam-dalam di bawah kalimat “Saya ga pengen nyusahin diri sendiri, dan lebih ga pengen lagi nyusahin orang lain.”

Kok Bisa Mutusin Akhirnya Pengen Naik Gunung?

Sampai akhirnya suatu hari almarhumah Vindhya pulang dari survey trip ke Gunung Prau dan membantah keraguan saya untuk naik gunung dengan kalimat “Gw aja bisa!”, tentu dengan cengiran dan kibasan tangannya yang khas itu. Sama dengan saya, Vindhya juga tidak terlalu suka trekking. Jadi saya percaya, kalau Vindya bisa, saya juga pasti bisa.




Gunung Prau Ibu Penyu

9 ekor tukik Ibu Penyu dan Atika tour leadernya Ibu Penyu

Sekitar dua minggu sebelum @IbuPenyu berangkat untuk trip naik gunung perdana ke Gunung Prau, saya nekat nanya ke Atika, salah satu tour leader @IbuPenyu, apakah masih ada tempat kosong untuk trip itu. Nekat, karena saya sama sekali belum ada persiapan fisik apapun, dan seminggu sebelum pergi saya pun sudah ada agenda famtrip ke Bengkulu.

Saya memilih ikut trip Gunung Prau karena selain gunung ini -katanya- tingkat kesulitan medannya termasuk mudah, saya juga suka sekali dengan Dieng. Berkali-kali pergi ke Dieng saya nggak pernah bosan. Alasan lainnya, karena sebagian besar rombongan trip ini saya sudah kenal sebelumnya.

Waktunya Pendakian

Gunung Prau Ibu PenyuPos Pendaftaran Gunung Prau - Dwarawati

Ci Yunnita dan Ahau di Pos Dwarawati

Hari itu kami sampai di Pos Pendaftaran Pendakian Gunung Prau Dwarawati sekitar pukul tiga sore. Mas Ocid, salah satu guide kami dalam pendakian ini mengurus perijinan yang diperlukan. Setelah memastikan semua keperluan lengkap terbawa, kami memulai pendakian. Jalur pertama yang kami lewati adalah dua buah pematang ladang dengan aliran parit di tengah-tengahnya. Kami saling melempar senyum dengan beberapa petani yang sedang beristirahat dari mencabut rumput di ladang kentang.

“Mau naik ini, Mbak?” tanya salah seorang petani sambil mengacungkan jempol tangannya ke arah puncak gunung Prau.

Inggih, Pak…” saya menjawab dan mengangguk minta pamit.

Tak lama jalur pendakian mulai berubah; pematang ladang berganti jalan tanah setapak, ladang kentang di kanan kiri berganti dengan hutan lebat. Pendakian benar-benar sudah dimulai. Kata Mas Ocid, dari Pos Pendaftaran menuju Pos 1, rata-rata pendaki membutuhkan waktu sekitar 45 menit hingga 1 jam jalan kaki. Setiap kali Mas Ocid memberikan perkiraan waktu tempuh, saya selalu mengambil angka yang terlama, mencoba memberikan toleransi termudah untuk diri saya sendiri. Meski hampir 80% jalur pendakian menuju Pos 1 adalah tanjakan, saya masih bisa mengatasi. Mungkin karena kondisi fisik yang masih belum terlalu lelah. Benar saja, kami sampai di Pos 1 dalam waktu kurang dari 1 jam.

pendakian gunung prau

Tukik-tukik Ibu Penyu masih bisa cengengesan

Foto: Atika Deviansi

Dari Pos 1 menuju Pos 2 pendakian semakin terasa berat, rute semakin menanjak, di beberapa titik rute berubah zig-zag karena punggung gunung terlalu terjal untuk didaki dalam satu jalur lurus. Beberapa kali saya, Ci Yunnita, Fajar, Norman, Ahau, Gumi dan Atika terkekeh menertawakan kelemahan kami sendiri menghadapi tanjakan terjal. Kami tahu, energi yang kami keluarkan untuk tertawa sebenarnya lebih bermanfaat jika dipakai untuk terus berjalan, tapi apa enaknya mendaki gunung tanpa merasa bahagia sepanjang jalan? Empat puluh lima menit kemudian kami tiba di Pos 2. Kami beristirahat agak lama di sana, mencoba mengembalikan tenaga dengan beberapa batang cokelat yang kami edarkan berkeliling.

pos 2 gn prau

Istirahat di Pos 2 Gunung Prau

Foto: Normansyah Mugni

Selepas Pos 2 menuju Pos 3, di beberapa titik saya mulai kelelahan luar biasa dan mulai cranky. Apalagi setengah jalan menuju Pos 3, gelap mulai turun dan udara bertambah dingin. Hampir setiap seratus meter sekali saya tanpa malu-malu meminta waktu untuk beristirahat selama dua menit untuk mengatur napas. Untungnya, teman-teman sependakian ini sungguhlah begitu pengertian sama perempuan manja tukang marah-marah kaya saya, hehe.

pos 3 gunung prau

Di Pos 3 Gunung Prau – pas nanjak

Saya sangat menantikan bisa sampai Pos 3, karena kata Mas Ocid selepas Pos 3 menuju puncak Gunung Prau jalurnya relatif landai, hanya ada satu tanjakan yang relatif pendek. Dalam hati saya berteriak “ga papa deh jalannya jauh yang penting landaaaayyyy, Mameeennn…”

Then I realized, I was wrong, again.

Mau jalanan landai, tetep aja susah kalau jalannya gelap-gelapan cuma ngandelin head lamp, kadang-kadang jalan setapaknya licin karena udah dilewatin ratusan pasang kaki sebelum kami lewat, kadang juga jalan setapaknya kering tapi cuma selebar 30 cm dengan jurang ada di kanan kiri. Kadang malah jalanannya sedikit menurun tapi penuh rumput yang licin kena embun. Kepleset sedikit? ya minimal jatuh terduduk, lah. Jadi kami musti ekstra hati-hati berjalan.

naik gunung malam hari

Gaes, mati lampu nih, gaes?

Akhirnya pukul 19.00 lewat sedikit kami sampai di puncak Gunung Prau. Saya, Ci Yunn dan Gumi berpelukan terharu. Di antara anggota rombongan pendakian yang bersepuluh jumlahnya, kami bertiga sepertinya adalah anggota paling ‘lemah’ secara fisik dan baru pertama kali naik gunung, jadi pengalaman ini pastinya sangat berkesan bagi kami.

Selepas puncak kami masih harus berjalan kurang lebih selama setengah jam untuk mencapai tempat kami berkemah. Di sana sudah menunggu rombongan porter dan tiga orang teman kami yang sudah sampai terlebih dahulu. Total waktu yang kami butuhkan untuk sampai di kemah dari basecamp (pos pendaftaran) adalah 4 jam 25 menit. Not bad at all, rite?

Bedanya Camping di Laut dan di Gunung

Ini juga pengalaman pertama kali untuk saya berkemah di gunung. Kalau kemah di pantai saya lebih sering tidur di luar tenda, sementara berkemah di gunung itu totally a very different story. Lima menit saja kami berada di luar tenda, kami sudah menggigil kedinginan. Apalagi malam itu angin bertiup sangat kencang di puncak Gunung Prau. Selesai makan malam kami masuk tenda dan berusaha tidur untuk mengalahkan rasa dingin. Sehari sebelum berangkat ke Dieng saya membaca di sebuah situs berita bahwa Dieng telah memasuki musim suhu ekstrim yang membekukan embun atau lebih dikenal dengan istilah embun upas. Maka tak heran jika malam itu suhu di Gunung Prau terasa begitu dingin. Saya, Fajar dan Norman yang menempati satu tenda tak bisa tidur nyenyak karena dingin yang begitu menggigit kulit. Pukul sebelas malam, saya sempat minta ganti sleeping bag karena sleeping bag yang saya pakai entah kenapa bisa basah kuyup di sisi yang dekat dengan pintu tenda.

camping ground gunung prau

Ini bukan camping ground yang kami tempati

Saya baru bisa tertidur lewat pukul 02.00 setelah mungkin tak kuat lagi menahan lelah dan terbangun pukul 05.00 pagi ketika mendengar suara para porter yang mulai mempersiapkan menu sarapan. Satu persatu teman-teman dari tenda sebelah mulai keluar, namun mereka berseru kecewa saat mendapati kabut tebal menyelimuti barisan bukit di depan camping ground kami. Saya yang sudah bangun pun mengurungkan niat untuk menyusul keluar tenda.

Namun tak lama keberuntungan berpihak pada kami. Beberapa saat sebelum pukul 06.00, kabut perlahan menyingkir dan dalam sekian menit kemudian kami disuguhi pemandangan matahari bulat merah yang muncul dari balik bukit.

sunrise di gunung prau

Dikasih pemandangan kaya gini di depan tenda sama Tuhan

Foto: Atika Deviansi

Demi melihat pemandangan itu, semua lelah berjalan kaki selama lebih dari empat jam kemarin sore rasanya terbayarkan.

Selain barisan bukit, di sisi kanan kami terkadang puncak gunung Merbabu dan Merapi muncul menggoda di balik kabut yang berkejar-kejaran. Di sisi yang lebih kanan lagi, jika kami berjalan kurang lebih sepuluh menit ke arah camping ground yang penuh terisi tenda pendaki Gunung Prau, kami bisa melihat puncak Gunung Sindoro, Sumbing dan Slamet.

Saatnya Turun Gunung

Pukul sembilan pagi selesai sarapan dan mengemasi barang bawaan, kami meninggalkan camping ground untuk kembali ke basecamp. Cuaca pagi itu sangat cerah namun angin masih bertiup kencang. Kali ini saya berjalan dengan Rizki, Gatot dan Bekti yang di pendakian kemarin berjalan lebih dulu. Di sepanjang lembah camping ground sampai puncak beberapa kali berhenti untuk berfoto bersama bunga lonte sore alias bunga daisy yang menjadi ikon Gunung Prau.

bunga lonte sore

Padang savanna penuh bunga Lonte Sore yang menggoda

Foto: Rizki Amalia

Di puncak Gunung Prau kami sempat berhenti agak lama untuk mengambil foto dan tentunya menikmati pemandangan yang semalam ga kelihatan sama sekali karena gelap gulita. Ada sedikit rasa bangga pada diri sendiri di dalam dada, karena akhirnya saya bisa mengalahkan keraguan pada diri sendiri dan akhirnya bisa berdiri di puncak Gunung Prau. Memang, gunung Prau bukan gunung tertinggi atau gunung dengan tingkat kesulitan yang aduhai untuk didaki, but still it was an achievement for me.

Saya, di puncak Gunung Prau

Saya, di puncak Gunung Prau

Foto: Gatot

Sebelum meninggalkan camping ground, Mas Ocid bilang bahwa perjalanan turun biasanya akan menghabiskan waktu antara 2 hingga 4 jam. Saya yang berjalan dengan kelompok yang notabene adalah pendaki dengan pace yang lebih cepat dari kemampuan saya, terpaksa mengucapkan selamat tinggal pada Bekti, Rizki dan Gatot. Mereka jalan duluan ketika kami sampai di pos 3, meninggalkan saya hanya bersama Mas Wahyu.

Memang perjalanan turun gunung tidak semenghabiskan tenaga seperti saat naik gunung, cuma menghabiskan kesabaran aja. Di beberapa titik turunan, saya sampai duduk dulu di tanah untuk mikir ini bagian mana yang musti saya injak biar ga kepleset atau jatuh dan amit-amit keseleo.

Saya, di puncak Gunung Prau

Di pos 3 pas jalan turun, beberapa jam sebelumnya (pas nanjak) sampai di titik rasanya cape banget!

Foto: Gatot

Alhamdulillah, Puji Tuhan ada Mas Wahyu, porter paling sabar se-Dieng yang setiap kali saya nanya “Ini jalan yang mana yang musti saya pilih, Mas?” Jawabannya selalu “Yang mana aja sama aja, Mbak” dengan nada paling sabar. Yang ketika saya udah melet-melet kehabisan napas dan setiap seratus meter bilang “Bentar, Mas! Napas dulu semenit” ga komplen apa-apa dan setia nungguin saya. Dan ketika saya bilang saya pengen cuci muka pas lewat pematang ladang penuh dengan pipa paralon saluran irigasi, Mas Wahyu langsung nyopotin satu sambungan paralon dengan air paling jernih dan paling segar yang langsung saya kokop (baca: minum tanpa pakai gelas, dan tanpa mengambil napas). Sakit perut? apa itu sakit perut?

Jika suatu hari kalian mau naik Gunung Prau dan butuh porter, please find Mas Wahyu. You’re very welcome!

Saya, di puncak Gunung Prau

Puncak gunung itu bikin ketagihan ya?

Foto: Gatot

Akhirnya dalam 2 jam 15 menit saya sampai dengan selamat turun dari Gunung Prau. Kemarin pas ngerasain jempol kaki panas, betis kaku, dengkul lemes, saya sempet bilang ga akan lagi naik gunung. Udah cukup sekali aja. Tapi pas udah sampai rumah dan lihat foto-foto selama di sana, kok tiba-tiba saya udah lihat-lihat open trip naik gunung di Instagram ya?

Apakah ini yang orang jawa sebut dengan ‘kapok lombok’?

Share: