Di balkon Pesanggrahan Menumbing

Mobil yang kami tumpangi sudah hampir tiga jam meninggalkan kota Pangkalpinang, memasuki sebuah kota kecil bernama Muntok. Jalanan yang kami lalui berubah dari jalan raya berganti dengan jalan kecil yang membelah sebuah kompleks perumahan. Jalanan terus menanjak mengitari sebuah kaki bukit dan tak lama bukan lagi perumahan penduduk yang ada di kanan kiri jalan tetapi hutan belantara yang lebat.

“Gaes, kalian kebayang nggak gimana sepinya daerah ini waktu tahun 1948?”, Kenot teman saya yang duduk di kursi depan mobil memecah lamunan kami.

Dari kursi paling belakang saya menyahut “Kayanya sih tahun segitu bukit ini masih hutan lebat semua. Perumahan yang di bawah tadi pasti belum ada. Jalanannya masih tanah berbatu semua kali ya?”

“Jangankan tahun ’48, Mbak. Lha wong tujuh belas tahun lalu saya ke sini tuh daerah sini masih tempat jin buang anak, kok. Sepi, nggak ada orang, masih dingin banget di sini.” sahut Mas Darsono, temannya teman kami yang hari itu mendapatkan kesialan kehormatan mengantar empat perempuan agak alay jalan-jalan ke Kabupaten Bangka Barat.

Tujuan kami yang pertama adalah sebuah bangunan bernama Pesanggrahan Menumbing. Sebuah rumah tua bersejarah di puncak bukit Menumbing di Kabupaten Bangka Barat yang pada tahun 1948 pernah dijadikan rumah pengasingan bagi Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Agus Salim, Ali Sastroamidjojo, Mohammad Roem, RS Soerjadarma, MR Assa’at dan AG Pringgodigdo.




Selamat Datang di Menumbing

Kalau kamu, Yay or Nay dengan tulisan seperti ini?

Beberapa menit setelah berkendara menembus hutan dengan jalanan yang agak lebar, kami tiba di sebuah kelokan dengan area parkir yang cukup luas. Di depan area tersebut terdapat tulisan “Selamat Datang di Menumbing”. Sepertinya tulisan besar-besar begini lagi nge-trend nya di beberapa destinasi wisata. Rupanya tempat ini adalah pos pengaturan lalu lintas kendaraan yang akan naik ke Pesanggrahan Menumbing. Setiap kendaraan yang akan naik harus berhenti dan lapor terlebih dahulu ke petugas penjaga, karena jalan menuju puncak bukit hanya muat untuk satu buah mobil saja dan banyaknya kelokan membuat hampir mustahil dua buah mobil bisa berpapasan. Setelah petugas yang berada di atas bukit mengatakan tidak ada mobil yang turun, baru kami diijinkan naik. Begitu juga saat akan turun bukit, petugas di atas akan memastikan terlebih dahulu ke pos di bawah.

Pesanggrahan Menumbing

Pesanggrahan Menumbing

Pesanggrahan Menumbing awalnya adalah sebuah rumah peristirahatan yang dibangun pemerintah Hindia Belanda sekitar tahun 1930 sebagai rumah peristirahatan para pegawai perusahaan tambang timah Bank Tinwinning Bedriff yang ada di Muntok. Berdiri di puncak bukit Menumbing sekitar 445 meter di atas permukaan laut, Pesanggrahan Menumbing memiliki pemandangan langsung ke selat Banda.

Memasuki Pesanggrahan Menumbing, kita seakan dibawa ke masa lalu. Setelah melewati ruang tamu yang kini berfungsi sebagai pintu masuk pengunjung, kami masuk ke ruang tengah; ruangan terbesar yang ada di rumah ini. Dulu ruangan ini dipakai sebagai ruang berkumpul para pemimpin bangsa yang diasingkan di sini.

Pesanggrahan Menumbing

Langit-langit di ruang tengah Pesanggrahan Menumbing

Di sebelah kanan ruang tengah terdapat 2 buah ruangan; yang satu adalah ruang kerja Bung Karno dan Bung Hatta, lalu bersambung di belakangnya adalah konon kamar tidur kedua tokoh tersebut.

Ruang Kerja Bung Karno di Pesanggrahan Menumbing

Ruang Kerja Bung Karno di Pesanggrahan Menumbing

Mengapa saya sebut konon, karena dari beberapa situs yang saya baca, disebutkan bahwa di Wisma Menumbing ini Bung Hatta ditempatkan di sebuah sel yang sangat tidak layak. Baru setelah muncul kecaman dari PBB, pemerintah Belanda menempatkan beliau di sebuah kamar. Sementara, Bung Karno tiba di Pesanggrahan Menumbing hampir 2 bulan setelah Bung Hatta dan kawan-kawan ditempatkan di rumah ini. Itupun hanya beberapa hari saja karena Bung Karno meminta dipindahkan ke tempat yang lebih hangat.

Ada sebuah aturan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut; perempuan yang sedang menstruasi dilarang masuk. Entah kenapa. Namun saya kira, hal itu hanyalah gimmick pemasaran agar pengunjung semakin penasaran dengan kamar tersebut. Tahun 1996 Pesanggrahan Menumbing pernah disewakan kepada pihak swata untuk dijadikan penginapan dan tempat hiburan. Masyarakat Indonesia kan paling suka dengan cerita-cerita berbau mistis ditempat wisata, jadi saya pikir itu hanyalah trik pengelola untuk menarik wisatawan datang.

Kamar Bung Karno

Kamar yang konon adalah kamar tidur Bung Karno dan Bung Hatta

Saya malah lebih tertarik berlama-lama melihat-lihat mobil yang dipakai untuk membawa Bung Karno dan rombongan ke Pesanggrahan Menumbing dari Pangkalpinang tahun 1948. Sebuah mobil Ford Deluxe 8 berwarna hitam dengan plat nomor BN 10, yang saat ini tinggal body-nya saja, mesinnya sudah hilang entah kemana.

 

Dari tulisan yang dipasang di dinding wisma, saya membaca jika rombongan petinggi negeri yang diasingkan ke Bangka tidak diberangkatkan dalam satu rombongan. Mereka di bawa dari Jakarta bersamaan, namun yang pertama di bawa ke Menumbing hanyalah Bung Hatta dan AG Pringgodigdo. Baru kemudian rombongan kedua yang terdiri dari M. Assa’at, RS Soerjadarma, Ali Sastroamidjojo dan M. Roem menyusul. Penduduk Pulau Bangka saat itu sudah menunggu-nunggu kedatangan Bung Karno, namun beliau bersama Sutan Sjahrir dan H. Agus Salim diterbangkan kembali menuju Brastagi, lalu diterbangkan kembali menuju Parapat, Sumatera Utara. Baru pada 5 Februari 1949 ketiganya diterbangkan kembali menuju Pangkalpinang untuk dibawa ke Pesanggrahan Menumbing. Hanya Bung Karno dan H. Agus Salim yang diturunkan dari pesawat dan dibawa ke pengasingan, Sutan Sjahrir diterbangkan kembali ke Jakarta karena beliau mau berunding dengan Belanda.

Kami berempat kemudian beranjak naik ke balkon Pesanggrahan Menumbing. Dari balkon ini pemandangan kota Muntok dan selat Banda terlihat jelas. Saat diasingkan ke Ende, diceritakan Bung Karno sering duduk di bawah pohon sukun sambil memandang ke laut Sawu, saya jadi bertanya-tanya apakah saat diasingkan di Menumbing, Bung Karno juga punya spot khusus untuk merenung?

Sayangnya Pak Sutejo, cucu dari Djojosumarto (pembantu Bung Karno saat diasingkan di Pesanggrahan Menumbing) tidak bisa memastikan jawaban atas pertanyaan saya tersebut.

Membicarakan tempat pengasingan para petinggi negeri di pulau Bangka, selain Pesanggrahan Menumbing kita tak bisa melupakan sebuah rumah lain di Muntok; Wisma Ranggam. Sebuah rumah yang terletak di dekat pusat kota Muntok yang juga pernah ditempati Bung Karno dalam pengasingan.

Wisma Ranggam

Salah satu bangunan bersejarah di Kab. Bangka Barat

Beberapa hari setelah Bung Karno tiba di Pesanggrahan Menumbing, Bung Karno meminta ijin pada pemerintah Belanda untuk dipindahkan ke tempat yang lebih hangat di Pulau Bangka, sebab bukit Menumbing dirasa terlalu dingin untuknya. Akhirnya dipilihlah Wisma Ranggam sebagai tempat pengasingan Bung Karno bersama H. Agus Salim.

Kami mengunjungi Wisma Ranggam sore hari setelah pulang dari Pesanggrahan Menumbing dan Mercusuar Tanjung Kalian. Rumah besar berbentuk letter-U bercat cokelat itu tampak kosong ketika kami memarkirkan kendaraan di halamannya. Namun tak lama kemudian seorang ibu setengah baya menghampiri kami dan mengatakan akan memanggilkan si penjaga.

Wisma Ranggam, Muntok

Wisma Ranggam, Muntok

Tak lama seorang pemuda berumur sekitar awal duapuluhan datang dan memperkenalkan diri sebagai Ramzi, penjaga Wisma Ranggam. Ramzi kemudian membawa kami berkeliling wisma dan menunjukkan beberapa kamar yang digunakan sebagai tempat tidur Ir. Soekarno, H. Agus Salim dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sewaktu menginap mengunjungi Ir. Soekarno.

Ramzi, generasi kedua penjaga Wisma Ranggam

Ramzi, generasi kedua penjaga Wisma Ranggam

Tak banyak barang-barang peninggalan Bung Karno sewaktu diasingkan di Wisma Ranggam yang masih tersisa hingga sekarang. Almarhum ayah Ramzi, yang semasa hidupnya adalah pengurus rumah tangga di Wisma Ranggam, berusaha mengisi kekosongan di Wisma Ranggam dengan koleksi foto-foto yang diberi keterangan dengan tulisan tangannya sendiri. Selain itu, Wisma Ranggam yang pernah berubah fungsi sebagai wisma atlet dan pasukan pengibar bendara di Provinsi Bangka Belitung pun mungkin mengakibatkan keotentikan sebuah bangunan bersejarah sedikit terkikis.

Guntingan foto-foto tua yang dikumpulkan ayah Ramzi: Pak Edi R

Guntingan foto-foto tua yang dikumpulkan ayah Ramzi: Pak Edi R

dokumen wisma ranggam

Alangkah sayangnya dokumentasi sejarah harus mengalami nasib seperti ini

Belum lagi bumbu-bumbu cerita horor atau mistis seperti mitos “perempuan sedang menstruasi dilarang masuk kamar Bung Karno” di Pesanggrahan Menumbing, atau di penjaga Wisma Ranggam yang percaya bahwa tongkat komando Bung Karno yang selama ini dicari-cari keberadaannya sesungguhnya tersimpan di bawah lantai sebuah kamar di Wisma Ranggam yang banyak mewarnai situs bersejarah di negeri ini.

Tugu di Wisma Ranggam

Tugu ini diresmikan oleh Bung Hatta pada kunjungannya ke Wisma Ranggam

Rumah Pengasingan Bung Karno di Bangka

Di rumah pengasingan Bung Karno di Muntok, Bangka Barat

Dari napak tilas ke dua tempat pengasingan pejuang kemerdekaan ini saya berharap pemerintah semakin menaruh perhatian pada tempat-tempat bersejarah di Indonesia. Tak hanya dengan memperhatikan kondisi fisik bangunannya saja, tetapi juga meluruskan cerita dan sejarah yang ada. Kan keren kalau adik-adik kita yang masih duduk di bangku sekolah bisa belajar secara interaktif di lokasi kejadian dengan materi sejarah yang benar pula.

Share: