baju triathlon

Hari Sabtu pagi minggu lalu, 22 Juli 2017 saya dan 32 blogger lainnya yang diundang mengikuti #FamtripBengkulu oleh Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu untuk meramaikan #FestivalBumiRafflesia2017, sedang berkumpul di Sport Center Pantai Panjang. Pagi itu kami mau lihat atlet-atlet triathlon menyelesaikan pertandingan. Rasa antusias kami rupanya juga dirasakan oleh masyarakat di kota Bengkulu; mereka berbaris di sepanjang jalan raya di pinggir Pantai Panjang sambil sesekali bersorak memberi semangat kepada para atlet yang melintas.

Antusiasme Masyarakat Bengkulu melihat Triathlon Bengkulu 2017

Antusiasme Masyarakat Bengkulu melihat Triathlon Bengkulu 2017

Bengkulu Triathlon 2017 ini adalah lomba triathlon yang pertama kali digelar di kota Bengkulu, diselenggarakan sebagai salah satu rangkaian kegiatan Festival Bumi Rafflesia 2017. Ada 2 kategori besar dalam Bengkulu Triathlon 2017 ini berdasarkan jarak yang harus diselesaikan, yaitu; kategori Standard Race (1.500 m berenang, 40.000m bersepeda, dan 10.000 m berlari) dan kategori Sprint Race (750 m berenang, 20.000 m bersepeda, dan 5.000 m berlari). Baru kemudian kedua kategori tersebut dibagi lagi menjadi beberapa sub-kategori berdasarkan umur dan perorangan atau grup/estafet.

Yang unik dari Bengkulu Triathlon 2017 adalah posisi start lomba. Lomba triathlon biasanya diawali dengan berenang dari pinggir pantai, sedangkan Bengkulu Thriathlon 2017 start-nya dari buritan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Banda Aceh-593; salah satu kapal perang terbesar di Indonesia berjenis landing platform dock. Mungkin garis start yang tak biasa ini menjadi salah satu daya tarik bagi peserta lomba triathlon untuk mendaftar. Kapan lagi coba bisa start (bahkan beberapa peserta ada yang menginap di KRI Banda Aceh semalam sebelum lomba) dari kapal perang?

KRI Banda Aceh 593

KRI Banda Aceh-593, tempat start Bengkulu Triathlon 2017




Hanya saja karena KRI Banda Aceh adalah kapal perang, maka atlet yang berkewarganegaraan asing tidak bisa menginap di KRI dan start lomba dari buritan kapal. Mereka diangkut menggunakan kapal kecil menuju garis start, baru memulai lomba dari samping KRI Banda Aceh.

Setelah start dari KRI Banda Aceh, peserta berenang hingga mencapai Gedung Mess Pemda Tapak Paderi, disambung dengan bersepeda sejauh 40 km (untuk kategori Standard Race) mengelilingi kota Bengkulu hingga kembali ke titik awal di Gedung Mess Pemda Tapak Paderi. Dari sana peserta melanjutkan lomba dengan berlari hingga finish di Sport Center Pantai Panjang.

Peserta loba triathlon favorit "Raisa"

Peserta loba triathlon favorit “Raisa”

Credit Photo: Raisaivegotago.com

Nungguin peserta di garis finish itu seru banget ternyata. Sering kali kami yang cuma duduk-duduk ngadem di bawah pohon gemes sendiri lihat atlet-atlet itu lari.

“Ayoooo.. cepetaaannn.. dikit lagiiiiiii!!!!”

Ibu yang ini kalem sekali menyelesaikan lombanya. She's on the top three of female category!

Ibu yang ini kalem sekali menyelesaikan lombanya. She’s on the top three of female category!

Padahal seandainya kami disuruh ngelakuin apa yang sudah para atlet itu lewati sejak matahari terbit tadi, bisa jadi kami sudah kelelep di laut sejak seratus meter pertama berenang di laut. Sayangnya, karena harus beralih lokasi ke rangkaian acara famtrip lainnya, kami tak bisa melihat semua juara Bengkulu Triathlon 2017 menyelesaikan lomba.

Tapi jangan sedih berkepanjangan, malam harinya peserta famtrip blogger diundang makan malam bersama para atlet triathlon di KRI Banda Aceh. Ini adalah pengalaman pertama saya (dan semoga bukan yang terakhir) masuk ke kapal perang. Agak norak-norak bergembira gitu sih saya bisa masuk ke salah satu KRI terbesar yang dimiliki negara kita. Panitia famtrip meminta para peserta famtrip untuk berpakaian rapi (celana kain/bukan jeans untuk peserta pria dan rok/dress untuk peserta perempuan). Yang namanya pakai dress, ya pasangannya pakai sepatu berhak, dong. Apalagi mau pakai sepatu sport, yang dibawa masih penuh lumpur alasnya karena dipakai keluar masuk hutan lihat bunga bangkai dan bunga rafflesia arnoldii.

Bengkulu Triathlon 2018

Ini sebelum tahu kalo mau masuk KRI Banda Aceh harus naik tangga yang nggak heels-friendly!

Dan ternyata, saudara-saudara… tangga masuk KRI itu serem aja, Ya Allah. Tangga besi bolong-bolong (di depan anak tangga yang diinjak, ga ada besi penutupnya gitu maksud saya. Jadi kalau kakinya kepleset kedepan, ya wassalam. Minimal kaki yang di depan nyelos ngegantung aja)  dan pegangannya goyang-goyang macam anak tetangga kampung sebelah kalau disetelin lagu dangdut.

Tangga goyang-goyang kena angin sepoi-sepoi, pakai heels 7 cm, naiknya antri, dan gak ada mas-mas TNI yang pegangin. Syediii.

musik dol

Penampilan pemusik tradisional dol dari Polda Bengkulu

Acara makan malam dibuka dengan penampilan musik tradisional dol dan tari-tarian oleh para polisi wanita Polda Bengkulu yang sukses membuat tamu undangan berdecak kagum. Lalu disusul dengan beberapa sambutan dan penyerahan medali bagi para juara lomba triathlon. Waktu penyerahan hadiah itu, saya melihat ada salah satu teman kuliah, Aidy Halimanjaya, yang ternyata menyabet juara IV kategori standard distance (putri). Jadi deh kami reuni-an sebentar, sayangnya kok ya nggak saya nggak keingetan ngajakin foto bareng!

Pas duduk makan malem, saya duduk sebelahan dengan dua orang perempuan yang ternyata juga peserta lomba triathlon, salah satunya bernama Mbak Vitri. Karena penasaran dengan olahraga yang bagi saya baru-ngebayangin-apa-yang-harus-dilewati-aja-udah-mau-mati ini, jadilah saya iseng sok-sok nanya ini itu ke Mbak Vitri. Dari kapan dia mulai berlatih triathlon, cabang olahraga apa yang tersulit, gimana tips-nya bisa berenang di laut untuk jarak yang jauh, berapa kali pernah ikut lomba, sampai pertanyaan yang agak pribadi macam tinggal di mana, udah nikah belum (ups!).

pemenang bengkul truathlon 2017

Mbak Vitri, salah satu pemenang Bengkulu Triathlon 2017

Lalu, saya kaget pas Mbak Vitri dipanggil ke podium sebagai juara 2 kategori sprint race untuk usia 41 tahun ke atas. Sekembalinya Mbak Vitri dari menerima medali, dengan shameless-nya saya nanya “Emang Mbak Vitri usianya berapa?” Booook, she looks even younger than me! Yaaah, kalaupun lebih tua dari saya palingan ya ga lebih tua 3 tahun dari saya. Pas Mbak Vitri nyebutin umurnya, saya langsung ngomong ke diri sendiri; “Mamam, tuh! Males olahraga sih… Tuh lihat Mbak Vitri, 15 tahun lebih tua dari kamu badannya masih singset, mukanya glowing!”

*ngemil sadel sepeda di pojokan KRI*

Balik lagi ke Bengkulu Triathlon 2017, sebagai lomba triathlon yang pertama kali di Bengkulu dan yang pertama kali mengambil start dari KRI, saya berharap semoga lomba ini dijadikan agenda rutin tahunan oleh pemerintah Propinsi Bengkulu dan pihak-pihak penyelenggara lainya. Melihat antusiasme peserta lomba dan masyarakat Bengkulu kemarin, semoga saja di tahun depan acara ini bisa makin mensukseskan program Visit Bengkulu 2020.

Jadi, sampai jumpa di Bengkulu Triathlon 2018, nih?

Share: