Pintu Rumah Tiongkok Kecil Heritage

“Pak, nanti saya turun di Masjid Lasem, ya…” saya kembali mengingatkan pak kondektur bus patas jurusan Semarang – Surabaya ketika bus yang saya tumpangi mulai memasuki kecamatan Lasem dan saya pun berpindah du tempat duduk lebih ke depan, mendekati pintu keluar bus.

“Siap, Mbak! Saya jamin ndak bakal kebablasan!” goda pak kondektur bus, mungkin ia bisa melihat sedikit bias kekhawatiran di muka saya. Tak sampai sepuluh menit kemudian bus sampai di sebuah pertigaan dengan sebuah masjid besar berwarna hijau di sisi kanan jalan.

“Monggo, Mbak.. Masjid Lasem” kata pak kondektur sambil membuka pintu depan bus. Saya meloncat turun menyusul pak kondektur.

“Maturnuwun, Pak” saya mengucapkan terimakasih pada pak kondentur bus sambil menggeleng-gelengkan kepala menjawab tawaran pengemudi becak dan ojek yang berkerumun di sekitar bus yang berhenti. Dengan berlari kecil saya menyeberangi jalan pantura yang memisahkan bus dengan Masjid Lasem. Guide saya, Pak Yanto, sudah menunggu di samping masjid itu.

***




Saya berkenalan dengan Pak Yanto lewat kawan saya, Annisa, yang beberapa pekan sebelumnya sudah lebih dulu main ke Lasem. Sudah menginginkan mengunjungi Lasem sejak lama, maka begitu tahu Annisa punya kenalan yang bisa menemani jalan-jalan di Lasem, saya langsung memanfaatkan kesempatan. Nggak apa-apa deh dari Jakarta nggak ada temennya, yang penting kesampaian main ke Lasem.

Kalau ini kayanya pintu paling terkenal di Lasem

Kalau ini kayanya pintu paling terkenal di Lasem

“Waaaah, ini bagus-bagus banget, Pak Yanto!”, saya tak bisa menyembunyikan rasa kagum saat mobil kami masuk ke sebuah gang di Desa Karangturi, Kecamatan Lasem siang itu.

“Saya itu heran, Mbak Titi.. Apa sih yang bagus dari rumah-rumah ini? Hampir semua tamu yang saya bawa masuk ke Karangturi ini pasti nggumun. Termasuk Mbak Annisa juga sama reaksinya kaya Mbak Titi gini.”

Dari yang sebagian dindingnya sudah terkelupas

Dari yang sebagian dindingnya sudah terkelupas

Sampai yang masih terawat penampilannya.

Sampai yang masih terawat penampilannya.

Hari itu sebenarnya Pak Yanto sudah ada janji untuk menemani 2 rombongan pengunjung yang ingin keliling Lasem. Saya, yang baru memastikan jadi mau main ke Lasem 3 hari sebelumnya, sebetulnya bisa saja ‘ditolak’ oleh Pak Yanto. Apalagi saya cuma sendirian. Mungkin -being a very nice and polite Javanese- Pak Yanto nggak tega menolak kunjungan saya. Belakangan saya tahu, istrinya lah (Mbak Ida) yang membuat Pak Yanto menerima saya di rumahnya.

“Jangan ditolak, Pah. Perempuan, sendirian, ke Lasem, itu pasti udah niat banget pengen lihat Lasem. Jangan dikecewain.” kata Mbak Ida. Sungguh saya berterima kasih banyak pada keluarga Pak Yanto dan Mbak Ida yang dengan tangan terbuka mau menerima saya di rumah mereka.

***

Pak Yanto bercerita, ada ratusan rumah di desa Karangturi dengan pintu-pintu gerbang khas rumah pecinan. Sebagian besar rumah-rumah tersebut masih ditempati, sebagian lagi hanya ditempati sebagai omah ulih-ulih; rumah yang ditinggali saat para ahli waris rumah tersebut pulang dari perantauan, dan beberapa rumah sudah berubah fungsi menjadi garasi bus atau truk.

Dari yang berwarna putih gading...

Dari yang berwarna putih gading…

...hingga biru muda sekali...

…hingga biru muda sekali…

Merawat rumah besar membutuhkan biaya yang tidak sedikit; untuk biaya perawatan jika ada bagian yang rusak, untuk membayar orang yang membersihkan setiap hari belum lagi jika ada bagian yang menuntut renovasi besar-besaran. Maka tak heran jika ada beberapa rumah yang mungkin karena ahli warisnya sudah tidak bisa merawat akhirnya hancur dan tanah yang tersisa disewakan sebagai garasi truk dan bus.

...sampai warna cokelat...

…sampai warna cokelat…

...dan warna abu-abu kusam yang vintage abis...

…dan warna abu-abu kusam yang vintage abis…

Sejarah rumah-rumah pecinan di Lasem sudah dimulai jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, bahkan mungkin sebelum Belanda masuk ke Indonesia pun para perantau dari Tiongkok sudah mendarat di Lasem. Konon, orang-orang dari Tiongkok sudah mulai membangun peradaban di Lasem sejak abad ke-14, ditandai dengan pendaratan kapal yang merupakan bagian dari pelayaran Laksamana Cheng Ho di Pulau Jawa. Para perantau dari Tiongkok itu lalu membangun kehidupan di Lasem, beranak pinak, menikah dengan warga lokal hingga terbentuklah kampung-kampung pecinan yang tersebar di beberapa desa di kecamatan Lasem. Namun, jangan dibayangkan kehidupan di pecinan Lasem ini adalah kehidupan eksklusif. Justru di Lasem lah saya bisa melihat sendiri bagaimana akulturasi budaya antara Cina, Arab dan Jawa bisa hidup berdampingan.

…sampai warna yang dulunya pernah biru…

Saya sungguh penasaran dengan cerita-cerita dari setiap pintu yang kami lihat sore itu; pasti ada ribuan kisah yang pernah melintas di antara daun-daun pintu warna-warni itu. Cerita perkawinan, kelahiran, kenakalan anak-anak entah berapa generasi, jatuh bangun usaha seseorang, hingga kembali ke kisah perkawinan, hingga cerita duka meninggalnya orang tua dan rumah-rumah tua yang tak lagi berpenghuni.

...sampai yang masih biru...

…sampai yang masih biru…

Sayangnya, kisah-kisah itu tentu tak bisa kita tahu hanya dengan satu kali kunjungan singkat di Lasem, apalagi hanya dengan melintas di depan gang-gang kawasan ini. Semoga suatu saat saya bisa kembali ke Lasem dan mendengar lebih banyak kisah dibalik lawang-lawang cantik itu.

Share: