Dalam perjalanan pulang dari Pantai Penyusuk, Yanti dan Retti mengajak kami mampir terlebih dahulu ke Batu Dinding. Sebagai tamu yang pasrah baik, kami manut saja mau dibawa kemana. Tidak lama setelah meninggalkan Belinyu, mobil yang kami tumpangi mulai memasuki jalanan kampung yang sempit. Tak ada petunjuk arah yang menunjukkan keberadaan tempat tujuan kami.

Sebuah jalan kecil yang kami ikuti justru membawa kami ke sebuah jalan buntu dengan pintu gerbang PT Timah yang terkunci rapat. Retti memutar balik mobil kembali ke arah jalan tempat kami datang. Kurang lebih lima ratus meter dari tempat kami berputar tadi ada sebuah papan penunjuk arah berukuruan kecil yang bertuliskan “BATU DINDING” tertutup rimbun dedaunan.

Pantai batu Dinding

Villa tempat tinggal Pak Toha

Kami pun berbelok mengikuti petunjuk arah itu. Jalan yang kami lalui semakin mengecil hingga akhirnya berkelok tajam dan menanjak. Tak jauh dari kelokan itu kami bertemu dengan sebuah halaman rumah berpagar batu bata merah. Rupanya ini lah tempat tujuan kami. Jika bukan Retti yang membawa kami kemari, rasanya mustahil kami akan menemukan tempat ini.

Batu Dinding adalah sebuah pantai di daerah Sungailiat, Kabupaten Bangka. Letaknya bersisian dengan salah satu pelabuhan milik PT Timah. Akses masuk ke pantai ini paling mudah lewat halaman pribadi milik Bapak Mohammad Toha, seperti yang kami lalui tadi.

batu dinding bangka

Batu besar itulah yang disebut batu dinding.

Ada cerita tersendiri mengenai bapak berusia 74 tahun yang mendiami villa ini sejak tahun 2003. Ia tidak bercerita sejak kapan ia memiliki lahan ini, namun mulai sekitar 14 tahun yang lalu ia dan keluarga mulai menanam pohon bakau di sekitar kawasan pantai Batu Dinding. Semua penanaman dan perawatan pohon bakau itu ia lakukan dengan biaya pribadi, termasuk juga merawat kebun di atas pantai Batu Dinding ini.

batu dinding bangka

Cantik banget ya tempatnya untuk nunggu sunset?

Seiring makin ramainya orang yang berkunjung ke pantai Batu Dinding, akhirnya ia membuka halaman villa-nya sebagai ‘tempat parkir’ pengunjung. Taman yang ia buat pun ia perbolehkan menjadi tempat duduk atau piknik bagi para pengunjung. Waktu kami datang, ada dua rombongan keluarga besar yang sedang menggelar bekal pikniknya dan makan siang bersama.

senja di pantai batu dinding

Duduk santai di atas batu raksasa sambil menunggu senja.

Pak Toha sangat memperhatikan kebersihan dan kerapihan tamannya. Tempat sampah ia letakkan di hampir setiap bagian taman. Tanaman dan rumput selalu ia pangkas rapi. Saya melihat di beberapa bagian rumput ia bentuk menjadi bentuk-bentuk tertentu; hati, lingkaran besar dan kecil, juga bintang.

Dan untuk semua itu, ia tidak mengenakan biaya masuk yang tetap untuk pengunjung. Ia hanya menempatkan sebuah wadah plastik di dekat penjaga halaman parkir, tempat orang bisa memasukkan dana sumbangan suka rela untuk menjaga kebersihan rumahnya. Pak Toha hanya berpesan kepada penjaga halamanya agar setiap pengunjung yang datang meminta ijin terlebih dahulu kepadanya sebelum masuk ke halaman rumahnya.

Such a noble act of him.

taman di pantai batu dinding

Area taman di Pantai Batu Dinding yang selalu dijaga kebersihannya oleh Pak Toha

Karena dirawat dengan baik, halaman villa milik Pak Toha ini selain nyaman untuk piknik, juga bagus untuk foto-foto. Untuk bisa melihat si ‘batu dinding’ yang tingginya hampir 20 meter, pengunjung perlu berjalan kaki menuruni halaman sejauh kurang lebih 150 meter dengan kemiringan yang cukup landai. Tapi berhubung sore itu perut saya sedang kram, saya memutuskan untuk tetap tinggal di atas. Teman saya, Santi, turun sampai bawah dan berselfie dengan si batu dinding.

senja di batu dinding

Pengen nunggu sampai sunset, tapi… tapi… perjalanan pulang masih jauh. Hiks.

Kami menghabiskan waktu hingga hampir senja di tempat ini. Mengambil entah berapa banyak pose selfie. Menertawakan entah berapa banyak kebodohan. Kalau tidak ingat perjalanan kembali ke kota Pangkalpinang masih membutuhkan waktu kurang lebih dua jam lamanya, ingin rasanya kami menghabiskan waktu hingga matahari benar-benar tenggelam.

Ketika tiba saatnya berpamitan dengan Pak Toha, beliau bertanya apakah kami sudah bertemu dengan si batu dinding. Kami malu-malu mengakui bahwa hanya Santi yang turun sampai pantai di bawah. Yang lain? Menyerah manja pada tanjakan yang harus dilalui untuk kembali ke parkiran.

Share: