Semarang Night Carnival 2017

Canka Lokananta – Marching Band Taruna Akademi Militer membuka gelaran Semarang Night Carnival 2017

Delapan orang taruna pembawa bass drum berlari melintasi karpet merah yang terbentang di area kilometer nol Kota Semarang. Disusul dibelakangnya barisan penabuh snare drum berseragam biru putih, dipimpin oleh mayoret yang berseragam sama. Tak lama menyusul berbaris pemain terompet, kuarto tom-tom, bellyra, symbal, dan baritone horn. Marching band taruna Akademi Militer resmi membuka Semarang Night Carnival 2017 dengan membawakan 3 buah lagu. Tak banyak atraksi yang mereka tunjukkan malam itu, tapi kualitas permainan musik mereka tak perlu diragukan lagi.

Marching Band Akmil

Gemes ya lihat badan bagus-bagus berbaris rapi begini…

SNC 2017

Tiga lagu kayanya kurang banyak yaaaa…

Semarang Night Carnival 2017 mengambil tema ‘Paras Semarang’; melalui karnaval ini masyarakat Semarang ingin semakin mengenalkan wajah-wajah unik kota Semarang kepada para pengunjungnya. Tema ini lalu dibagi menjadi empat kategori defile, yaitu: burung blekok, kembang sepatu, kuliner dan lampion.

Bagi yang bukan orang Jawa mungkin bertanya-tanya, apa sih ‘burung blekok’? Burung blekok itu sejenis burung bangau, biasanya mereka muncul di sawah-sawah atau rawa sekitar sore hari menjelang senja. Warnanya putih bersih, dan yang jadi salah satu ciri khas-nya adalah kaki jenjang ramping yang sering ditekuk sebelah ketika berdiri. Rupanya burung blekok ini masih banyak ditemukan di salah satu bagian kota Semarang, hingga saat ini. Itulah mengapa SNC 2017 mengambil burung blekok sebagai salah satu tema defile-nya.

defile SNC 2017

Barisan ‘burung blekok’ di SNC 2017

Puluhan peserta dengan kostum extravagansa serba putih membuka parade defile SNC 2017. Sayap-sayap putih dengan lebar lebih dari satu meter, malah terkadang jauh lebih besar dari pada jangkauan tangan si pembawa kostum berseliweran di atas karpet merah. Saya mendadak terbayang pertunjukan runway-nya Victoria’s Secret. Hanya saja yang ini kostumnya syariah, haha!

Semarang Night Carnival

Mirip Victoria’s Secret Show ga? Tapi versi syariah.

Defile berikutnya adalah rombongan peserta dengan kostum yang tak kalah seru; kembang sepatu. Kalau dilihat dari wajah-wajah peserta, defile yang ini sepertinya diikuti oleh peserta-peserta yang lebih junior. Saya ‘jatuh hati’ dengan peserta dengan nomor dada 25 di rombongan ini. Ia terlihat begitu menguasai kostum yang ia bawakan, hapal blocking gerakan dan tak pelit menebar senyum kepada penonton dan fotografer. Sepertinya kostum yang berat dan besar tak menjadi beban baginya untuk tampil. Kalau saya jadi juri SNC 2017, she’s definitely a winner!

defile kembang sepatu

Defile Kembang Sepatu – Peserta nomor 25. She’s definitely a winner at my heart!

kostum Semarang Night Carnival

Satu kostum begini beratnya bisa 15 hingga 20 kilogram lhooo…

Di bagian ketiga, defile kuliner mengambil tempat. Menurut survey yang dilakukan Kementrian Pariwisata, kota Semarang menempati posisi ketiga sebagai tempat tujuan wisata kuliner. Sebagai pecinta soto (dimana hampir di setiap jalan di kota Semarang banyak warung soto yang sungguh lezat) saya tentu saja mengamini hasil survey tersebut. Tak hanya soto, banyak jenis kuiner lain yang mengesahkan posisi kota Semarang sebagai surga kuliner, sebut saja aneka olahan bandeng, wingko babat, lumpia, kue ganjel rel dan masih banyak lagi.

Lalu bagaimana makanan-makanan itu diolah menjadi kostum karnaval? Ternyata cakep juga, lho! Coba lihat aja di foto-foto berikut ini:

defile kuliner

Lumpia, Wingko Babat dan Bandeng jadi kostum karnaval.

defile kuliner SNC 2017

Whaaaa… ada bandeng raksasa!

Defile keempat adalah ‘lampion’, sebagai kota dengan akulturasi budaya Cina, Arab dan Jawa yang sangat kuat, tentu saja lampion memegang peranan penting. Diperkenalkan oleh suku bangsa cina ketika datang ke Semarang, lambat laun lampion diadaptasi oleh suku Jawa dan Arab di Semarang. Bahkan masyarakat muslim Semarang pada jaman dahulu kala sempat mengadaptasi lampion ini menjadi alat penerangan ketika pergi bersembahyang di masjid. Mereka menyebutnya sebagai ‘ting-ting’.

Defile lampion di SNC 2017

Defile lampion di SNC 2017

lampion

Lampion, sebuah kearifan lokal kota Semarang yang melambangkan kuatnya rasa toleransi di kota ini.

Melalui keempat defile di SNC 2017, kota Semarang ingin semakin mengenalkan wajah cantik kotanya, kota cantik yang sangat peduli dengan kelestarian lingkungan, tujuan wisata kuliner yang menyenangkan, dan juga toleran terhadap semua makhluk hidup.

Sesuatu yang baru di SNC 2017 adalah spesial tahun ini ada penampilan-penampilan khusus dari  delegasi kota Sawahlunto dan beberapa negara lain seperti; Taiwan, Thailand, Srilanka, dan Korea Selatan. Favorit saya? Tentu saja rombongan negara Taiwan yang menampilkan pertunjukan tarian campur kung fu, seru banget lihatnya. Kalau rombongan yang bikin gemes, ya rombongan Korea Selatan yang sepertinya susah banget disuruh move-on dari panggung.

Penampilan delegasi Taiwan di SNC 2017

Penampilan delegasi Taiwan di SNC 2017

Penampilan delegasi Thailand di SNC 2017

Penampilan delegasi Thailand di SNC 2017

Penampilan delegasi Srilanka di SNC 2017

Penampilan delegasi Srilanka di SNC 2017

Penampilan delegasi Korea Selatan di SNC 2017

Penampilan delegasi Korea Selatan di SNC 2017

Ini kali kedua saya menyaksikan secara langsung acara Semarang Night Carnival (SNC). Tahun lalu saya dibuat terkesima dengan penampilan para peserta SNC yang mengambil tema Fantasi Warak Ngendok dan benar-benar berharap bisa menyaksikan lagi SNC 2017, eh beneran kelakon.

Jadi tahun ini mau berharap bisa nonton SNC 2018, ah! Semoga tahun depan beneran kejadian. *kirim kode asap ke pengurus BP2KS*

Share: