Pantai Penyusuk Belinyu

Rasanya sudah terlalu lama saya tidak main ke pantai. Makanya, begitu kami (saya, Deta, Santi dan Kenot –kami teman SMA) tiba di Pangkal Pinang dan bertemu Wiyanti, teman SMA kami juga, kami langsung memasukkan agenda pergi ke salah satu pantai di Pulau Bangka ini. Main ke pantai penyusuk di Belinyu menjadi pilihan kami keesokan harinya.

Pagi itu kami meninggalkan Pangkal Pinang sekitar pukul sembilan pagi. Yanti dan Retti mewanti-wanti kami untuk tidak terlalu siang berangkat dari hotel karena perjalanan dari Pangkal Pinang ke Belinyu bisa memakan waktu dua jam. Jika terlalu siang, Pantai Penyusuk dan Pulau Puteri yang menjadi tujuan kami bisa terlalu penuh dengan pengunjung.

Pantai Penyusuk

Pantai Penyusuk, Belinyu. Salah satu pantai tujuan wisata di Bangka

Namun dengan kemampuan menyetir Retti yang sangat mumpuni, kami bisa tiba di Belinyu pukul 11.00 siang. Pantai Penyusuk belum terlalu ramai, mobil kami adalah kendaraan ketiga yang parkir pagi itu. Saya dan teman-teman segera berlari menuju pantai.

Pantai Penyusuk ini tidak terlalu luas, bentangan pasirnya tidak sampai sepanjang 500 meter, dengan banyak tumpukan batu-batu besar di kanan dan kanan. Beberapa buah perahu kecil parkir di ujung pantai dengan masing-masing pria berediri di depannya. Rupanya kapal-kapal itu adalah kapal ojek yang menawarkan jasa penyeberangan ke Pulau Puteri. Beberapa pria itu menawarkan jasa penyeberangan kepada kami,

“Ke Pulau Puteri, Bu? Due puluh lime ribu saje…”

kapal dari pantai penyusuk ke pulau puteri

Untuk menyeberang ke Pulau Puteri bisa naik kapal ini.

Saya menggeleng dan melanjutkan mengambil beberapa foto batu-batu besar itu sambil sesekali bergantian berpose dengan teman-teman. Biarlah urusan tawar menawar perahu ini menjadi hak prerogatif Yanti dan Retti sebagai ‘warga lokal’. Inilah enaknya pergi dengan teman yang akamsi alias anak kampung sini, kita tinggal duduk manis dan semuanya beres.

*kiss-kiss Wiyanti dan Retti*

Rupanya harga IDR 25.000 per orang PP itu untuk minimal 15 orang penumpang, atau IDR 375.000 per kapal. Karena rombongan kami hanya berjumlah 6 orang maka kami harus menunggu ada rombongan lain yang mau sharing kapal. Berhubung hari itu adalah hari Minggu, tak lama kemudian ada rombongan lain yang mau naik kapal dengan kami. Gimana kalau ternyata ga ada rombongan lain yang mau berbagi kapal? Ya tinggal tawar menawar aja dengan tukang kapal ojeknya, kalau memang sepi, biasanya mereka mau kok nurunin harga sewanya.

selfie

Apalah arti liburan rame-rame tanpa selfie?

Perjalanan menuju Pulau Puteri hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit. Pemilik kapal menurunkan kami di sebelah dermaga kayu yang sudah rusak. Ia meninggalkan nomor HP pada Wiyanti dan kembali lagi ke Pantai Penyusuk membawa penumpang yang akan kembali ke pantai. Kami bisa menghabiskan waktu di Pulau Puteri selama yang kami mau, dan jika ingin kembali tinggal menghubungi untuk minta dijemput. So convenient for IDR 25.000!

Pulau Puteri bukanlah pulau yang besar, saya perkirakan kita tak perlu waktu lebih dari satu jam untuk mengelilinginya. Ada dua buah pantai berpasir putih di sini. Pantai yang pertama tempat kapal ojek menurunkan kami tadi, dan pantai kedua terletak di bagian belakang pulau. Kami memilih untuk menghabiskan waktu di pantai yang kedua, karena di pantai yang ini ada warung yang menjual kelapa muda, hahaha… Mureh amat alasannya!

Batu besar di pulau puteri

Pantai di bagian depan Pulau Puteri. Pantai dengan batu segede truk begini memang ciri khasnya Bangka-Belitung kali ya?

pantai di Pulau Puteri

Pantai di bagian belakang. Tengah hari di Pulau Puteri, semacam mataharinya ada 11 biji.

Tapi beneran, lho! Di tengah hari bolong itu, matahari di Bangka rasanya ada 11 biji. Panas banget! Setelah mengambil beberapa foto, saya tidak sanggup berlama-lama di bawah sinar matahari. Maka saya putuskan untuk berteduh saja di warung sambil menikmati sebutir kelapa muda campur Spr*te dingin. Sambil sesekali saya pindah ke hammock yang di pasang Kenot untuk membaca buku.

foto di batu-batu di pantai

Belum sah kalau belum foto-foto di batu di tepi pantai, ye kan?

Bagi saya menikmati liburan seperti ini sangat menyenangkan; pantai dengan pasir halus dan air asin, kelapa muda nan segar, buku yang seru untuk dibaca sambil dinina-bobokkan di ayunan, dan teman-teman yang sudah saya kenal sejak hampir 2 dekade yang lalu.

Share: