unrevealed batavia

Ketika melihat sebuah postingan di akun instagram @semasadikotatua akan sebuah acara tur jalan kaki di Kota Tua Jakarta, tanpa ragu saya segera mengirim email pendaftaran. Biayanya sekitar IDR 100.000, cukup terjangkau untuk ukuran kantong saya (yang ga tebal-tebal amat itu), dan rasanya sih akan sepadan dengan pengalaman yang akan saya dapatkan.

kota tua

Kira-kira jaman penjajahan dulu, siapa ya yang suka lihat pemandangan dari balik jendela ini?

Kota Tua Jakarta sebenarnya bukan tempat baru bagi saya. Entah sudah berapa kali saya main ke sana. Bahkan ada masanya, dalam tiga kali akhir pekan berturut-turut saya mengunjungi tempat yang pada masa kejayaan Batavia dulu berfungsi sebagai pusat kota itu. Sekali, mengantarkan sepupu dari luar kota yang belum pernah ke Kota Tua. Dua kali, saya diajak menyusuri jejak bangsa Portugis di Batavia. Dan di akhir pekan ketiga, saya ke Kota Tua dalam rangka belajar liputan dalam Linkers Academy Batch 1.

Tapi berapa kali pun saya ke Kota Tua, rasanya pesona tempat itu tak pernah berkurang. Selalu ada cerita terpendam yang baru saya dengar tentang tempat ini.

fatahilah square

Lapangan yang dulu jadi tempat pemancungan tahanan, kini jadi tempat wisata.

Pagi itu kami berkumpul di Fatahilah Square, sebutan baru untuk menyebut ruang terbuka di depan Museum Fatahilah. Iya, halaman museum yang sering dipakai main sepeda warna-warni yang mana kalau hari beranjak siang sedikit saja, panasnya bukan main itu. Hans, salah satu pemandu tur dari @JKTgoodguide akan menjadi pemandu kelompok kami pada pagi hari itu.

Hans memulai tur dengan menjelaskan sedikit sejarah mengenai Museum Fatahilah. Sudah banyak yang tahu kalau gedung yang dibangun tahun 1707 ini dulunya berfungsi sebagai balai kota atau kantor gubernur jenderal Batavia. Yang menarik bagi saya adalah cerita mengenai halaman gedung ini yang pernah menjadi tempat eksekusi bagi para tahanan di masa penjajahan Belanda. Entah sudah berapa banyak tahanan pemerintah Hindia Belanda yang menemui ajalnya di ujung pisau pancung di halaman kantor gubernur ini.

lambang amsterdamshe lloyd

Lambang perusahaan pelayaran pertama di Hindia Belanda

Walking tour kami lanjutkan ke Jl. Kali Besar Timur, ke sebuah gedung yang dulunya bernama Van Vleuten & Cox dan dimiliki oleh sebuah perusahaan perkapalan bernama Rotterdamsche Lloyd. Perusahaan ini adalah perusahaan perkalapan pertama di Batavia yang menyelenggarakan pelayaran dengan jadwal rutin dari Batavia ke Belanda. Dari yang awalnya hanya melayani pelayaran, hingga akhirnya juga melayani pengiriman cargo. Bisnis mereka kemudian juga ikut berkembang ke sektor perdagangan dan perbankan.

bagian dalam kantor amsterdamsche lloyd

Bagian dalam kantor amsterdamsche lloyd

Gedung ini dibangun tahun 1859, namun baru ditempati sebagai kantor Amsterdamche Llyod pada tahun 1938. Seratus lima puluh delapan tahun sudah gedung ini berdiri, namun sebagian besar bangunannya masih kokoh. Saya sungguh kagum dengan kemampuan bangsa Belanda membuat bangunan yang sepertinya built to last forever.

Sisa bangunan G Kollff & Co

Sisa bangunan G Kollff & Co

Puas mengambil foto di gedung Amsterdamsche Lloyd, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah gedung yang dulunya bernama G Kollff & Co. Sebuah gedung yang merupakan toko kelontong pertama di Batavia, dibangun tahun 1865. Letaknya ada dipojokan Jalan Lada dan Jl Kali Besar Timur. Sayangnya kondisi saat ini sebagian gedungnya sudah rusak, tinggal menyisakan satu bangunan yang digunakan sebagai kafe.

Gedung Tjipta Niaga

Gedung Tjipta Niaga

Tujuan kami berikutnya adalah sebuah gedung yang saat ini bernama Gedung Tjipta Niaga. Dulunya gedung ini dikenal dengan nama Rotterdam Internatio, masih ada hubungan dengan perusahaan Rotterdam Lloyd yang ada di gedung Vleuten & Cox.

Saya melihat gedung Tjipta Niaga ini salah satu gedung tua di Kota Tua yang restorasinya cukup berhasil. Konon, bebrapa tahun lalu gedung ini pernah menjadi sarang prostitusi dan ‘rumah’ bagi para tunawisma. Saat ini, meskipun perbaikan di sana-sini masih terus dilakukan, namun keadaannya  cukup menggembirakan; gedung terjaga bersih, tidak lembab dan terang.

tangga tjipta niaga

Tangga ikonik di gedung Tjipta Niaga

Begitu kita masuk ke gedung Tjipta Niaga, kita langsung disambut dengan tangga berlantai hitam yang sangat ikonik. Di samping tangga, terdapat dua buah pintu. Pintu sebelah kiri, yang kini ruangannya dipakai sebagai ruang pameran foto (pada saat saya berkunjung pameran yang sedang berlangsung adalah “From Across the Ocean” ) dulunya dipakai sebagai kantor sebuah bank Belanda. Sementara pintu yang ada di sebelah kanan adalah kantor sebuah bank dari Cina.

Kami naik ke lantai dua gedung Tjipta Niaga. Sebagian kecil dari lantai ini dijadikan museum kecil tentang sejarah perusahaan Amsterdamsche Lloyd, sementara lantai dua di sisi barat, kalau hari Minggu pagi sering digunakan sebagai tempat berlatih yoga.

lantai 2 tjipta niaga

Di sini kalau minggu pagi sering jadi tempat yoga.

Menarik ya, jika bangunan-bangunan tua begini setelah direstorasi bisa jadi tempat-tempat aktivitas kreatif?

Selesai dari gedung Tjipta Niaga kami melanjutkan berjalan kaki ke gedung Kerta Niaga yang berada di samping kafe Kedai Seni Djakarte. Gedung yang saat ini masih dalam tahap restorasi ini keadaanya cukup parah; dibeberapa bagian tembok dan tangga di dalam bangunan sudah roboh. Namun siapa sangka, di jaman kejayaannya dulu, gedung ini pernah menjadi kantor perusahaan perdagangan terbesar di Batavia. Baik dari skala bisnisnya juga dari gedungnya. Bangunan gedung Kerta Niaga terbentang dari samping Museum Fatahilah, hingga ke jalan Kali Besar Timur, di sisi yang menghadap jalan Kali Besar Timur, bahkan ada ruangan yang mirip hanggar pesawat.

sudut kerta niaga

Salah satu sudut di gedung Kerta Niaga

Merestorasi bangunan sebesar ini, dan juga seluruh Kota Tua Jakarta, tentu bukanlah perkara yang mudah. Selain dibutuhkan dana yang tidak sedikit, banyak ilmu dan ide harus dicurahkan agar bangunan yang sudah berhasil di restorasi bisa bermanfaat kembali. Sekarang ini, meskipun belum semua gedung di kota tua berhasil direstorasi, saya cukup senang bisa mengunjungi gedung-gedung tua ini. Semoga saja proses restorasi Kota Tua semakin cepat selesai dan makin banyak aktivitas seru bisa dilakukan di sana.

hanggar di kerta niaga

Sebagian bangunan sudah ditumbuhi pohon seperti ini

tangga tjipta niaga

Sunday pop-up market di gedung OLVEH

Kami mengakhiri walking tour siang itu di Gedung OLVEH, gedung yang pada jaman penjajahan Belanda difungsikan sebagai kantor asuransi. Sekarang gedung ini disewa oleh sebagai kantor suatu majalah dan kedai teh. Saat week end, kadang ada pop market di gedung ini. Salah satu bukti banyak kejutan seru menanti di Kota Tua Jakarta.

Share: