Hutan dan perempuan, sepertinya bukan kombinasi kata yang umum terdengar, ya? Apalagi jika perempuan yang hadir dibayangan Anda adalah perempuan metropolis yang selalu berdandan apik, wangi, menenteng tas tangan keluaran terbaru sebuah butik internesyenel. Tapi jangan buru-buru memandang sebelah mata pada perempuan. Tidak seluruh perempuan yang berdandan cantik sehari-hari di kota tak bisa bertahan hidup di dalam hutan.

Apalagi tiga teman perempuan yang saya ajak ngobrol tentang hutan kali ini; Dianing Sari, Anggarita Rasmiputri dan Satya Winnie Sidabutar. Ketiga perempuan ini adalah orang-orang yang sangat inspiring di mata saya. Mereka muda, punya karya, dan melalui kegiatan mereka sehari-hari saya tahu mereka punya kepedulian pada kelestarian alam.

Dianing Sari adalah teman SMA saya. Bertahun-tahun ia bekerja sebagai wartawati sebuah harian terkemuka di ibukota, karena jenuh dan tidak lagi merasa tertantang dengan pekerjaannya, ia memilih berpindah haluan. Setahun ia bekerja di sebuah yayasan yang bergerak di kelestarian lingkungan hidup, ia kemudian memilih berpindah pekerjaan lagi ke sebuah NGO internasional yang bergerak di bidang yang sama. Kini ia ditempatkan di Berau dan Samarinda, Kalimantan Timur.

Anggarita Rasmiputri, perempuan agak cengengesan yang saya kenal lewat sahabat saya, Bulan, ini ternyata selain hobi naik gunung juga berprofesi sebagai pembalap “time rally”. Waktu pertama kali dikenalkan, saya sempat ga percaya, lho! Masa perempuan kurus jangkung begini pembalap? Ups, sifat jelek saya ini jangan ditiru ya, judging a girl by her look. Makin saya kenal Ang, makin saya kagum sama perempuan ini. Apalagi jika melihat deretan gelar balap “time rally” dan jumlah gunung di Indonesia yang sudah ia daki, tapi seperti padi yang makin berisi makin merunduk, Ang biasanya hanya cengengesan kalau saya tanya detil tentang prestasinya.

Satya Winnie Sidabutar, siapa yang tak kenal travel blogger kenamaan yang satu ini. Perempuan yang baru saja pulang “berlayar” dari Surabaya ke Raja Ampat lanjut ke Ambon dan kembali ke Surabaya ini, sungguh serba bisa. Berenang di lautan, terbang dengan paralayang, naik gunung, dan tetep terlihat cantik di setiap fotonya. Yang terakhir ini sungguh saya iri, hihi. Di blog-nya ia kerap berbagi tulisan-tulisan yang menunjukkan kecintaannya terhadap lingkungan.




Saya sungguh berterima kasih pada ketiga teman ini karena di tengah kesibukan mereka sehari-hari, mereka mau menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tentang hutan. Mari simak obrolan saya dengan mereka.

Aktivitas kalian sehari-hari banyak berhubungan dengan hutan dan gunung, pasti sering dong keluar masuk hutan? Sejauh ini, hutan di daerah manakah yang paling berkesan untuk mu? Kenapa?

Dianing Sari: Sebenarn​ya untuk masuk ke hutan, aku jarang. Yang benar-benar ya baru kemarin itu ke Hutan Lindung Wehea yang dikelola Lembaga Adat Wehea. Hutan ini jadi paling berkesan, karena masyarakat itu berusaha mengelola hutan yang memang sekarang lagi digulirkan sama Pak Jokowi dengan program Perhutanan Sosial. Masyarakat ini punya pasukan penjaga hutan sendiri Petkuq Mehuey yang isinya anak-anak muda. Mereka masih mau jaga hutan, dengan gaji seadanya dan​ jauh dari keluarga (Hutan itu ditempuh dua hingga dua setengah jam kendaraan dari desa yang medannya ya gitu deh). Masyarakat ini tak hanya menjaga hutan tapi memberdayakan secara ekonomi, jadi mereka merasakan manfaat hutan ditengah gempuran sawit dan perusahaan kayu (kanan kiri hutan lindung). Nah ini yang masih jadi PR.​

hutan wehea

Dianing Sari di tengah hutan Wehea, Kalimantan Timur, bersama mahasiswa yang tengah internship di NGO tempat ia bekerja.

Anggarita: ​​Hutan di pegunungan Latimojong. For so many reasons. Untuk menuju pegunungan Latimojong harus sewa jeep dulu karena rute jalan dari desa Baraka menuju desa Karangan (desa terakhir/tertinggi disana) hancur dan bisa memakan waktu lebih dari 4 jam. Pepohonan di hutan pegunungan Latimojong diselimuti lumut, jadi rasanya seperti melewati hutan lumut, rasanya berbeda sekali dengan hutan-hutan yang lain.. Daaan banyak sumber air, aku rasa itu adalah sumber air tersegar yg pernah aku minum!

Satya Winnie: 

Kalau buatku, hutan yang paling berkesan itu di Gunung Masurai Jambi yang ada di kaki Gunung Kerinci. Waktu itu ekspedisi ke sana bersama teman-teman pecinta alam di kampus dan perjalanan penjelajahan di dalam hutannya 12 hari. Jadi selama 12 hari itu nggak mandi. Hahahaha. Gunung ini belum dikenal oleh banyak orang dan jadinya masih sangat tertutup jalurnya. Di dalam gunung ini, selain hutannya, ada dua danau juga yang jadi daya tarik yaitu danau kumbang dan danau mabuk. Pun ada hutan lumut yang bikin aku bahagia peluk-peluk pohon berselimut lumut yang empuk. Di dalam hutan Masurai ini juga masih banyak hariumau sumatera yabg terbukti dengan banyaknya jejak mereka di hutan. Duh jadi kepengen balik ke sana hahahaa.
Satya Winnie

Satya Winnie di salah satu hutan yang pernah ia datangi

Pernah lihat pohon atau tanaman yang begitu unik di suatu hutan? Pohon atau tanaman apa?

Dianing Sari: Kalau masuk hutan itu, semua​ unik. di Kalimantan banyak anggrek hutan yang kece-kece, bahkan jamur aja kelihatan cantik kalau di hutan. Jadi susah sih kalau mau bilang tanaman apa yg unik di hutan. Pohon-pohon besar yang diameternya sampai 4 meter aja keren.​

kantong semar

Kantong semar, dari SD udah belajar tentang tanaman ini tapi baru lihat aslinya pas umur 30 tahun di hutan TN Tanjung Puting

 

hutan latimojong

Ang di bawah pohon yang mirip gerbang di hutan pegunungan Latimojong

Anggarita: ​Aku ga begitu tahu nama pohon, sih. Pas main di pulau Panjang, Jepara, di tengah pulau aku lihat ada hutan kecil yang di dalamnya banyak bunga bangkainya. Kalau di gunung… hmmm selalu banyak edelweiss. Pohon yang menarik aku lihat di Latimojong adalah sebuah pohon besar yang bagian tengahnya terbuka jadi seperti gerbang buat kita lalui. Dan di gunung Rinjani via desa Sajang, saya melewati hutan yang ada pohon yang berjuntai, sayangnya aku ga tau nama pohonnya apa.

Satya Winnie: 

Tanaman yang unik di hutan hmmmm anggrek hutan, kantong semar, ragam jamur-jamur hutan, pohon besar yang kalau dipeluk nggak cukup sama satu orang tapi nggak tahu itu jenis pohon apa. Rasanya ingin jadi biologist biar hapal semua nama-nama pohon.

Survival tips apa yang menurut kamu paling penting untuk dikuasai saat berada di hutan?

Dianing Sari: Yang penting itu stamina, harus kuat jalan. Jas hujan dan dry bag, pakaian TNF (yang cepat kering), sama kaos kaki bola, biar anti pacet.

Anggarita:If you get lost, just find a way to go to the top. Jangan malah turun karena kalau turun scoop pencariannya akan semakin luas. Jika kamu naik ke puncak, semakin kecil area pencarian yang harus disisir teman atau tim pencari.

Satya Winnie:

Survival tips di hutan yang paling penting buatku adalah cara menampung air dari batang-batang pohon atau tanaman karena air paling penting untuk menjaga kita tetap hidup. Terus belajar tumbuhan apa saja yang bisa disulap jadi makanan sederhana seperti begonia atau pakis biar gak kelapara . Plus kita harus belajar untuk membuat bivak dari daun dan ranting jikalau kita tersesat di hutan dan tidak punya tenda untuk berlindung.

Melihat keadaan hutan Indonesia akhir-akhir ini, apa sih yang paling mengkhawatirkan menurut kamu? Illegal logging, kebakaran hutan, pembantaian hewan, atau lainnya?

Dianing Sari: Manus​ianya, khususnya pemberi izin. Di tangan mereka itu izin-izin pembukaan hutan jadi merajalela. Musuh utama sekarang sih sawit, karena kalau hutan sudah dibuka untuk sawit, kemungkinan dia kembali ke kondisi normal hanya di bawah 1 persen. Tanahnya sudah berubah, haranya habis, air habis, jadi untuk balikin ke hutan semula itu butuh waktu luamaaaaaaaa.

Anggarita: ​Yang aku khawatirkan itu kebakaran hutan. Karena kebakaran hutan itu sebabnya terkadang tidak hanya karena faktor manusia, bisa jadi cuaca yang mana di luar kendali kita.

Satya Winnie:

Semuanya mengkhawatirkan dan terkait. Pembalakan liar atau pembakaran hutan yang bertujuan untuk membuka ladang membuat hutan kita makin habis, hewan di dalam hutan terdesak dan kehilangan tempat tinggal serta makanan, lalu mereka masuk ke kampung untuk mencari makanan, namun berakhir pada pembantaian 🙁 Dasarnya memang manusia lah yang serakah. Pemerintah lah yang memegang andil paling besar dalam kasus kerusakan hutan. Namun, dengan dalil untuk perkembangan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat, kerusakan hutan pun dihalalkan. Sudah banyak lembaga dan petisi-petisi yang beredar untuk melindungi kelestarian hutan, tapi tak ada tindakan yang signifikan dari pemerintah untuk turut melindungi. Yang bisa kita lakukan dari diri sendiri untuk menjaga hutan ya mengurangi pemakaian kertas dan tissue, mendaur ulang kertas. Tindakan kecil yang berdampak besar jika semua manusia di bumi melakukannya.

Siapa sih sosok yang kamu anggap berkontribusi besar pada kelestarian hutan Indonesia?

Dianing Sari: Wah, kalau untuk hutan di seluruh Indonesia, susah. Di setiap daerah sudah mulai muncul local heros dan itu agak menggembirakan. Hanya saja, masalah peningkatan kapasitas itu penting, bagaimana masyarakat yang tinggal di sekitar hutan itu bisa merasakan manfaat ekonomi dengan menjaga hutan, itu yang belum terlihat. Hutan dan masyarakat lokal itu bisa jadi simbiosis mutualisme asal mereka berdaya secara pengetahuan, ekonomi dan kesadaran.

Anggarita: ​Aku nggak banyak mengenal sosok-sosok hebat di dunia perhutanan ya, tapi menurut aku sosok yang berkontribusi besar adalah para penduduk desa di sekitar gunung dan hutan itu sendiri. Aku kenal beberapa guide di gunung-gunung di Indonesia yang sangat memikirkan kelestarian hutannya. Turun tangan membuat jalur, menanam pohon, membersihkan sampah, banyak hal yang mereka lakukan. Mereka ini tidak semata mencari mata pencaharian, tapi memang melakukan banyak upaya untuk kelestarian hutan yang mereka jaga. Ya karena mereka tinggal dekat dengan hutan itu dan mereka sungguh-sungguh sayang.

pegunungan latimojong

Hutan dan gunung ini yang jaga ya orang-orang yang tinggal dekat mereka

Satya Winnie:

Yang saya anggap berkontribusi besar pada kelestaran hutan Indonesia adalah Farwiza Farhan, gadis Aceh yang masih muda namun sedang meraih gelar PhD dan menjadi Forest Conservationist di Aceh, khususnya di Taman Nasional Leuser. Saya terkagum dengan apa yang mereka lakukan untuk terus melindungi kelestarian hutan Sumatera yang semakin habis karena dialihfungsikan menjadi ladang sawit. Gajah sumatera, harimau sumatera dan seluruh makhluk hidup yang ada di dalam hutan butuh perlindungan kita. Kak Farwiza juga aktif ikut dalam kongres-kongres lingkungan internasional untuk terus menyuarakan perjuangannya melindungi hutan di Indonesia yang menjadi salah satu paru-paru dunia terbesar.

*****

Saya sendiri belum banyak keluar masuk hutan di Indonesia, sejauh ini baru pinggiran hutan TN Gunung Gede Pangrango, hutan – ladang suku Baduy di Banten, dan hutan di TN Tanjung Puting saja yang pernah saya datangi. Mendengarkan cerita-cerita tentang hutan dari tiga teman perempuan saya ini, tentu saja bikin makin pengen menjelajah hutan-hutan Indonesia lainnya.

Satu hal yang saya sungguh terharu mendengar jawaban dari pertanyaan ‘tokoh yang paling berjasa menjaga hutan’, Sari dan Ang kompak menjawab bahwa sesungguhnya para penjaga hutan itu adalah orang-orang sekitar yang memang menggantungkan hidup dari hutan. Jika masyarakat sekitar hutan diberi pengetahuan dan pemberdayaan yang lebih mendalam tentang hutan, pasti mereka akan lebih kuat lagi menjaga hutan. Ini mengingatkan saya pada suku Baduy di Banten, yang dengan berpegang teguh pada petuah leluhur, mereka menjaga kelestarian hutan dan alam.

hutan baduy

Hutan di kawasan pemukiman suku Baduy di Banten, masih bertahan karena dijaga suku Baduy.

Dan bisa jadi, perusak hutan yang sesungguhnya adalah orang-orang kota (yang masih mengonsumsi dengan ‘rakus’ produk-produk berbahan sawit) dan terutama pemimpin-pemimpin negeri yang masih memberikan ijin pembukaan lahan sawit. Apalagi ijin bagi perusahaan yang membuka lahan perkebunan dengan cara membakar lahan.

Apapun posisi kita perempuan- laki-laki, rakyat-pemimpin, orang kota-orang desa, sesungguhnya bisa berkontribusi menjaga kelestarian hutan, Pertanyaannya tinggal mau atau tidak, itu saja.

Tulisan ini ditulis dalam rangka posting bareng Travel Blogger Indonesia untuk memperingati Hari Hutan Sedunia yang jatuh setiap tanggal 21 Maret. Untuk membaca tulisan lain tentang hutan, silakan kunjungi link berikut:

  1. Hutan Jati, Sengsara Berbuah Cinta – Mas Edy
  2. Hutanku Dulu, Hutanku Kini – Rey Maulana
  3. Suatu Pagi di Hutan Desa Benowo Purworejo – Albert Ghana
  4. Why I Love Forrest and You Should, too! – Tracy Chong
  5. Hutan Wakaf – Liza Fathia
  6. Keluh Kesah Pepohonan – Olive Bendon
  7. Pledoi Si Penebang Hutan – Yofangga
  8. International Day of Forests: Stories About The Forests – Firsta
  9. Hutan itu Berharga. Hutan itu Indonesia – Titiw
  10. Bumi Semakin Kerontang, Hutan Sering Ditebang – Adlien 

Share: