pekerja batik Nyah Kiok

Pak Yanto, guide saya selama di Lasem, mengajak saya memasuki sebuah rumah dengan pintu gerbang khas bangunan kuno pecinan Lasem berwarna cokelat. Begitu melewati pintu gerbang, suasana tenang begitu kental terasa. Sebuah bangunan besar dengan teras luas berdiri di hadapan kami. Saya memperkirakan bangunan ini dibangun dalam masa yang tak jauh berbeda dengan rumah-rumah lainnya di Gang 4, Desa Karangturi, sekitar awal tahun 1900-an.

Rumah Nyah Kiok

Dari bagian depan rumah tidak nampak aktivitas ,membatik di sini.

Kami lalu melangkah masuk ke belakang bangunan itu melewati sebuah lorong, gandok kalau memakai istilah di kampung mbah saya. Di teras belakang bangunan besar tadi nampak dua kelompok perempuan duduk mengoleskan lilin panas pada selembar kain putih. Empat orang duduk melingkari sebuah tungku kayu yang di atasnya terdapat sebuah periuk berisi cairan lilin. Tiga orang lainnya membuat kelompok yang sama di sebelah kelompok pertama.

“Kulonuwuuunn…” saya menyapa para pekerja batik itu. Dari jarak dekat baru saya sadar usia mereka jauh lebih tua dari rata-rata usia pembatik yang saya temui di workshop batik sebelumnya.

Monggo… monggo, pinarak, Mbak.” mereka dengan ramah mempersilakan kami masuk. Pak Yanto memperkenalkan saya sebagai ‘turis’ yang sedang liburan di Lasem.

“Liburan itu ke luar negeri, Mbak. Mosok liburan di Lasem? Mau lihat apa?” celetuk ibu yang duduk di pojok kanan. Sambil tersenyum menggoda ke arah saya, tangannya terus menggerakkan canting di kain yang ada di hadapannya. Saya nyengir membalas senyumnya, terkagum-kagum dengan kemampuannya mengoleskan lilin tanpa melihat ke arah kain.

“Ibu nggak lihat lagi ke kainnya? Nggak takut salah oles, Bu?”

“Ya lihat! Tapi kalau yang bagian besar-besar begini kan sudah hapal dimana mesti dioles, dimana mesti belok. Namanya juga udah kerjaan puluhan tahun, Mbak.”

“Ibu sudah berapa lama kerja di sini?” saya kembali bertanya sambil duduk di dekat gawangan kain di depan ibu itu.

“Dari tahun 80, Mbak. Njenengan pasti belum lahir ‘kan tahun segitu?”

Sejak tahun 1980, alias sudah 37 tahun. Saya terdiam mendengar angka tahun pengabdian ibu yang belakangan saya tahu bernama Bu Sumi itu. Tahun ini saya memasuki tahun keenam bekerja di kantor yang sekarang. Jangan tanya betapa bosannya saya mengerjakan job-desc yang sama setiap hari.

“Saya belum yang paling lama di sini, Mbak. Mbah Supinah sama Mbah Kun ini yang paling lama.” sambung Bu Sumi sambil menunjuk dua perempuan yang duduk di depannya.

“Kula sampun ndherek Nyah Kiok sekawan dhasa enem tahun, Mbak…” Kata Mbah Supinah sambil berdiri dari dingklik kecil tempat beliau duduk. Ia lalu berdiri dan berjalan menuju sebuah lemari kayu di pojokan teras, dan mengeluarkan beberapa helai kain batik setengah jadi yang baru diwarnai satu kali dan sudah dilapisi lilin untuk pewarnaan yang kedua. Dengan bahasa Jawa ia lalu bercerita tentang motif-motif khas yang hanya dibuat oleh Nyah Kiok.

batik lasem

Mbah Supinah dengan kain batik setengah jadi buatannya.

Sedari dulu hanya ada 5 motif yang dibuat di rumah batik Nyah Kiok, kesemuanya adalah motif khas Lasem. Selain masih berpegang teguh hanya memproduksi lima motif itu, Nyah Kiok juga hanya membuat batik dengan empat warna khas Lasem juga; abang getih pitik (merah darah ayam), biru tua, hijau dan cokelat. Banyak pengrajin batik di Lasem yang sudah berkompromi dengan membuat batik tulis sesuai selera pasar, misalnya warna-warna soft seperti pink, salem, coral, mint green, tapi batik Nyah Kiok tetap bertahan dengan pakem yang mereka pegang.

Saya mengelus kain setengah jadi yang disodorkan Mbah Supinah. Terbayang kerja keras yang harus dilalui para pengrajin ini untuk menyelesaikan selembar kain batik tulis ini. Dari mulai mencuci kain bahan, mengeringkan, memukuli kain agar lembut, menggambar pola, mengoleskan malam dengan canting, mencelup warna, meluruhkan lilin atau malam, mencuci kain kembali dan menjemur, lalu mengulang kembali dari proses mencantingi malam jika kain batik tulis yang dibuat akan diwarnai dengan banyak warna.

pengrajin batik tulis

Mbah Supinah mengoleskan malam/lilin dengan canting

“Untuk buat satu lembar kain ini butuh waktu berapa lama, Mbah?”

“Delapan hingga satu tahun, Mbak. Di sini proses produksi itu lama. Soalnya kan kami beda bikinnya sama tempat-tempat lain. Kalau tempat lain orangnya banyak, kerjanya masing-masing, yang nyanting ya nyanting aja, yang nglorod ya nglorod aja. Kalau di sini kami yang kerjakan semua; jadi kami bisa berbulan-bulang hanya nyantingi. Nanti ada masanya kami hanya nyelup saja. Nanti hanya nglorod saja….”  Bu Sumi menjawab dari pojokan teras, masih dengan cara bicaranya yang kenes.

“Yang nyelup dan nglorod juga ibu-ibu semua?” tanya saya takjub. Sedikit banyak saya tahu betapa beratnya dua proses ini dalam pembuatan kain batik tulis.

“Lho iya! Yang masuk kerja di sini itu harus bisa semuanya karena nggak ada tenaga laki-laki. Lha ning wong wedhok kuwi malah mrantasi ing gawe kok, Mbak. Ora kakehan sambat, gawean rampung!”

proses pembuatan batik tulis

Tempat nglorod (melunturkan) lilin/malam setelah proses pewarnaan

Saya tersenyum mendengar kalimat terakhir yang diucapkan dengan berapi-api oleh Bu Sumi. Saya mencoba memahami, dalam kurun waktu mereka bekerja sebagai pengrajin batik tulis di rumah batik Nyah Kiok ini, mungkin sudah banyak berurusan dengan pengrajin-pengrajin batik yang tidak tahan banting dalam bekerja, baik laki-laki maupun perempuan. Jadi wajar ia sedikit ‘kesal’ dengan pengrajin batik yang seperti itu.

Jika Ibu Sumi yang sudah bekerja menjadi pengrajin batik tulis di rumah Nyah Kiok selama 37 tahun, dengan rata-rata jam kerja 6 jam per hari, 26 hari sebulan, maka Ibu Sumi  sudah mengantongi jam terbang lebih dari 69.000 jam. Melihat angka itu rasanya terlalu remeh bila saya menyebut tujuh perempuan ini sebagai ‘pengrajin batik tulis’, apalagi ditambah bila kita membicarakan kepiawaian mereka. Sebutan ‘maestro’ bukanlah hal yang berlebihan.

Mbah Supinah melipat kembali kain-kain batik setengah jadi yang ada di pangkuan kami. Ia lalu menyimpan kembali buah karya setengah jadi yang entah kapan akan selesai di buat. Ia kembali mengambil posisi di dingklik kecilnya di samping Ibu Sumi. Tangannya yang keriput namun masih terlihat kokoh kembali mencelupkan canting di kuali hitam berisi cairan malam. Ia mengangkat canting setinggi mulutnya, lalu meniup pelan ujung canting itu, menggoreskan garis-garis yang telah setia ia kerjakan selama 46 tahun.

Saya ikut duduk di depan gawangan Mbah Supinah, sambil sesekali mengabadikan pekerjaan yang sedang dilakukan beliau. Tanpa dibantu kacamata, mata tua nenek 4 orang cucu itu masih begitu jeli mengoleskan malam dengan ukuran canting paling kecil. Sesekali ia menggeser badannya ke belakang karena asap dari tungku kayu yang memanaskan lilin tertiup ke arah mukanya.

tungku kayu dan kendhil tempat malam

Jangan tanya pedihnya harus berhadapan dengan asap ini seharian.

“Kenapa masih pakai tungku kayu, Mbah?” tanya saya sambil ikut bergeser karena asap yang tertiup memang pedih jika masuk ke mata.

“Lha mboten ditumbaske gas kaliyan Nyonyah e….” 

Saya tercekat mendengar jawaban Mbah Pinah. Tidak, saya tak ingin menghakimi keputusan keluarga Nyah Kiok untuk tetap menggunakan tungku kayu. Pasti keluarga Nyah Kiok sudah memperhitungkan dengan cermat penggunaan penggunaan bahan produksi agar dapat tertutup oleh hasil penjualan kain batik. Karena mempertahankan sebuah bisnis (dan juga kesetiaan para pekerjanya) selama puluhan tahun jelaslah bukan perkara yang mudah.

Share: