salah bei tiket, lalu bagaimana?

Day 28: Write whatever you want to write!

Hari terakhir dari #28DaysWritingChallenge nih! Sungguh saya nggak nyangka bakalan bisa lolos tantangan ini. But here i’m writing my last piece of this challenge. Berhubung hari ini saya dikasih kebebasan nulis apapun yang saya mau, saya mau cerita tentang kejadian konyol yang baru saya alami hari Minggu 26 Februari kemarin.

Week end kemarin ceritanya saya pergi jalan-jalan ke Lasem. Berangkat Jumat malam dari Jakarta dan rencananya akan kembali Minggu malam dari Semarang ke Jakarta.

Perjalanan dari Jakarta ke Semarang lalu dilanjutkan ke Lasem, jalan-jalan di Lasem-nya hingga kembali lagi ke Semarang, semua berjalan lancar. Hingga 30 menit menjelang waktu keberangkatan saya kembali ke Jakarta, saya masih berpikir “Wow, what a perfect week end getaway! Saya jalan-jalan sendiri, ga ketemu sesuatu hal yang bikin bete, ketemu banyak temen baru. Tinggal naik kereta, dan besok pagi udah sampai Jakarta lagi.”

Lalu dengan dramatisnya semua tiba-tiba berubah saat saya gagal mencetak boarding pass untuk masuk ke peron stasiun Tawang. “Boarding Pass gagal dicetak karena di luar waktu check-in” begitu pesan yang muncul setiap kali saya memasukkan kode booking di mesin cetak boarding pass. Akhirnya setelah mencoba beberapa kali, saya melambaikan tangan ke kamera ke seorang petugas keamanan PT KAI.

Mas Satpam mencoba kembali memasukkan kode booking tiket saya, dan tetap muncul dialogue box yang sama. Ia lalu mendekatkan matanya ke keterangan tiket yang muncul di dialogue box tersebut. Sambil mengernyit ia berkata,

“Lho, Mbak.. ini tiketnya untuk tanggal 27-03-2017”

27-03-2017 alias 27 Maret 2017 alias masih sebulan lagi! Ya ampun, saya salah booking tiket! Ya ampun gimana ini? Ya ampun, gimana saya musti ngantor besok pagi? Ya ampun jodoh saya di mana?  #LeoDramatis

Anehnya, bukan reaksi penuh dramatisme seperti itu yang saya keluarkan. Alih-alih panik, saya dengan tenang bertanya ke satpam tadi dimana saya bisa mencari tiket go-show. Saya sendiri heran, kemana perginya saya yang biasanya bertingkah macam Little Ms. Drama.

Pak Satpam menunjukkan loket penjualan tiket go-show di pojokan stasiun Tawang, saya buru-buru menuju kesana. Ada sekitar tiga orang mengantri di depan loket penjualan go-show, saya bergabung bersama antrian. Ketika giliran saya tiba, saya menanyakan apakah masih tersedia tiket menuju Jakarta untuk malam ini, tujuan stasiun manapun, dengan harga berapapun.

Sayangnya, Mbak Petugas loket menjawab:

“Mohon maaf, Ibu. Tiket untuk malam ini habis semua. Hanya tersisa untuk besok pagi jam 6 pagi, tujuan Gambir, seharga limaratus sekian ribu…”

Pukul enam pagi dari Semarang, artinya saya baru akan tiba di Jakarta lewat pukul 13.00 siang. Artinya saya tetap harus cuti besok. Saya putuskan untuk segera mengabarkan keadaan saya saat ini pada Pak Bos, dan minta cuti dadakan untuk esok hari. Saya pikir kalau cuti sudah disetujui, saya akan lebih fleksibel mencari tiket pulang. Kurang dari 10 menit, Pak Bos menyetujui permintaan saya via whatsapp.

Saya sudah lebih tenang dan memutuskan untuk bercerita keadaan yang saya hadapi saat ini di jejaring Path, sambil mencari opsi tiket pesawat terbang ke Jakarta dengan harga yang masuk akal. Akhirnya setelah mempertimbangkan berbagai hal, saya membeli tiket pesawat pukul 17.15 esok hari.

Kenapa saya sharing di Path? Karena di Facebook saya banyak berteman dengan keluarga, yang saya tahu mereka akan khawatir dengan keadaan saya, seberapa mereka paham pun dengan kapasitas saya sebagai ‘tukang jalan’. Dan dalam keadaan seperti ini, membuat khawatir keluarga bukanlah hal yang bijaksana. Toh, saya nggak apa-apa di Semarang.

Kalau di-Path kan isinya teman-teman yang isinya bakal ‘ngetawain’ kebodohan saya, namun saya tahu mereka perhatian.

Dari pengalaman salah beli tiket kereta ini, saya menyimpulkan langkah-langkah yang bisa kamu tiru kalau terpaksa harus menghadapi situasi yang mirip:

  1. Tetap tenang. Nggak ada gunanya jadi panik atau dramatis, masalah nggak akan selasai dengan kita jadi dramatis, yang ada cuma bakal jadi perhatian orang doang.
  2. Coba pikirkan semua opsi yang ada. Haruskan minta cuti tambahan? Mahal mana tiket naik opsi A dibanding opsi B? Lebih cepat sampai dengan opsi A atau opsi B?
  3. Kabari keluarga, atau sahabat tentang keadaan kita. Selain untuk masalah keamanan dan keselamatan kita, siapa tahu kepala dingin mereka bisa membantu kita menyelesaikan masalah.
  4. Ketawain aja. Di atas semua kesialan yang terjadi pada kita, percayalah, kalau kita bisa ketawain, semuanya akan terasa lebih ringan.
Share: