Ikan pe asap

Day 25: Traditional Market

“Di ujung gang sebelah situ ada pasar kecil, Mbak Titi.” kata Pak Yanto, guide saya selama berkeliling Lasem, sambil menunjuk sebuah jalan di depan Rumah Merah – Tiongkok Kecil Heritage ketika saya mengambil foto tampak depan rumah itu.

Aha! Sontak saya tersenyum bahagia, akhirnya saya punya bahan tulisan untuk hari ke 25 #28WritingChallenge yang sedang saya jalani. Kemarin, Sabtu 25 Februari 2017 semestinya saya harus menulis tentang pasar tradisional. Namun karena saya kemarin keasikan jalan-jalan di desa Karangturi, Lasem saya nggak sempat minta antar Pak Yanto untuk main ke pasar cari bahan tulisan.

pasar lasem

Sebuah pasar tanpa nama di Karangturi, Lasem

Pasar itu kecil saja, hanya menempati setengah dari panjang jalan yang tak lebih dari 500 meter saja. Deretan bangku pedagang berjejer rapi di kanan dan kiri jalan. Beberapa pedagang sembako yang membutuhkan tempat lebih besar untuk menyimpan barang dagangannya membangun warung-warung kecil dari papan tripleks. Sementara pedagang ikan dan sayuran menggelar dagangannya hanya dengan beralas plastik di lantai pasar begitu saja.

Saya berjalan menyusuri pasar tanpa nama itu. Para pedagang dan ibu-ibu yang sedang berbelanja melempar pandangan pad kamera kecil yang saya sandang di bahu.




“Ayo, Bu… mesem! Arep difoto ki lhooo…” seorang ibu yang sedang memilih ikan segar menyeletuk. Saya tersenyum lebar padanya dan ibu penjual ikan.

 *(Ayo, Mbah… senyum! Mau difoto, lho!)

pedagang ikan segar

Ibu pedagang ikan segar dan rumput laut di Lasem

Samar-samar saya mencium aroma ikan pe, ikan asap khas pesisir Jawa Tengah bagian utara. Saya celingak-celinguk mencari sumber aroma itu, di warung sembako yanga ada di sebelah kanan, tidak nampak tumpukan ikan pe. Di penjual ikan segar yang ada di depan saya, tidak ada juga. Ikan pe atau yang juga dikenal sebagai ikan pari yang biasa dimasak jadi mangut adalah salah satu makanan favorit saya. Mencium aromanya saja sudah bisa membuat saya terbayang-bayang lezatnya semangkuk mangut ikan pe disantap dengan sepiring nasi putih hangat.

Karena memang pasar tanpa nama itu kecil saja, tak terasa saya sudah sampai di ujung gang. Pedangang ikan pe belum juga saya temukan. Saya berbalik arah dan berpikir “Ah, kalau memang nggak ada yang jual, nanti minta tolong Pak Yanto saja untuk mencarikan.”

delman di lasem

Seorang ibu pedagang di baru datang menumpang delman

Namun rupanya, perjodohan saya dengan ikan pe asap pagi itu sedang bagus. Ketika berbalik arah, saya melihat seorang ibu pedagang sedang merapikan tumpukan aneka ikan asap di sebuah meja kecil. Mungkin tadi saya tidak melihat  pedagang itu karena ia tertutup banyak antrian pembeli.

pedagang aneka ikan asap

pedagang aneka ikan asap

Ikan pe asap bukanlah menu yang lazim di daerah asal orangtua saya, Klaten. Perkenalan saya dengan hidangan ini bermula ketika keluarga saya tinggal di Cikunir, Bekasi saat saya masih duduk di bangku SD. Tetangga sebelah rumah adalah sepasang suami istri yang berasal dari Semarang. Suatu hari mereka pulang dari mudik dan mengoleh-olehi keluarga kami sekantong ikan pe asap.

Mama mengolah ikan pe asap itu dengan cara di-mangut; berkuah kuning mirip opor namun dengan tambahan irisan cabai rawit, tomat dan daun kemangi. Saya sangat suka dengan tekstur dan aroma ikan pe asap, lain halnya dengan adik laki-laki saya yang menganggap ikan pe asap berbau pesing. Alhasil sepanci mangut ikan pe yang dimasak mama malam itu, hanya saya dan mama yang menghabiskan.

Besok malam saya jadi masak mangut ikan pe.

[Seorang teman menantang saya untuk melakukan 28-Days Writing Challenge di blog ini. Aturannya sederhana; setiap hari dia akan meberikan sebuah tema dan saya harus menulis sebuah tulisan pendek (tidak lebih dari 500 kata) dari tema tersebut]

Share: