kraton kacirebonan

Day 27: Destination

Saya pernah menyimpan rasa tidak suka pada kota Cirebon. Ketidaksukaan itu berawal ketika pada bulan Januari 2015 saya dan Bulan pergi liburan ke sana. Sebuah kasus pelecehan di jalan (street harrasment) terjadi pada saya. Meskipun (dan syukurnya) kejadian itu tidak menimbulkan trauma yang cukup berarti tapi cukup membuat saya berpikir dua kali jika harus ke kembali menyambangi Cirebon.

Hingga sebuah ajakan dari Bang Bernard datang di suatu hari menjelang akhir pekan di bulan Oktober 2016. Bang Ben, demikian kami biasa memanggilnya, ikut suatu lomba ‘traveler of the year’ dari sebuah majalah, dan untuk tugas terakhirnya ia diminta mewujudkan sebuah itinerary jalan-jalan di kota Cirebon. Dia ngajakin saya dan Kak Tami untuk jadi #TeamBernard dan nemenin dia jalan-jalan ke sana.

Ketika akhirnya mengiyakan ajakan Bang Ben, saya pikir inilah waktunya saya berdamai dengan ketidaksukaan pada Cirebon.

“Perginya bertiga, ada cowonya, dan kemana-mana naik mobil. Jadi kemungkinan saya mengalami apa yang dulu saya alami adalah sangat kecil.”

Gua Sunyaragi

Gua Sunyaragi




Yang saya suka dari jalan-jalan bersama #TeamBernard ke Cirebon ini, saya dapat kesempatan mengunjungi beberapa tempat yang tidak sempat saya kunjungi di trip tahun 2015 seperti Gua Sunyaragi dan sentra batik Trusmi karena saya keburu bete dengan bagaimana sebagian pria di kota ini memperlakukan pejalan perempuan seperti kami.

Harus saya akui, ada dua hal yang membuat saya looooove banget dari trip ke Cirebon kali ini. Yang pertama, mengunjungi sentra batik Trusmi dan bisa melihat salah satu proses pembuatan batik di workshop Ibu Ninik Ichsan. Dan yang kedua, makan empal gentong H. Apud. Saya sudah pernah menulis cerita betapa saya senangnya bisa melihat proses pembuatan batik tulis Cirebonan di workshop Ibu Ninik Ichsan di sini.

batik trusmi

Salah seorang pengrajin batik tulis di workshopIbu Ninik Ichsan

Lalu bagaimana tentang empal gentong?

Tentu saja ini bukan kali pertama saya makan empal gentong. Makanan ini banyak disajikan di gubug-gubug prasmanan acara nikahan. Tapi ternyata, empal gentong yang saya santap di rumah makan H. Apud ini, it’s totally a different story! Rasanya jauh lebih enak dari empal gentong manapun yang pernah saya makan. Kuahnya begitu kaya bumbu dan dan cara masak dagingnya juga beda banget dengan empal gentong di acara kawinan.

empal gentong

Empal gentong, empal asem dan sate kambing di RM H. Apud

Di rumah makan H. Apud ini juga saya akhirnya berhasil nyicipin setengah tusuk sate kambing. Padahal biasanya jangankan setengah tusuk, setengah potong daging kambing pun tidak akan bisa melewati kerongkongan saya. Lumayanlah, saya dapat pengalaman kuliner baru.

Memberikan kesempatan kedua pada destinasi yang tidak kita suka sebelumnya, bisa jadi memberikan pengalaman baru yang mengejutkan. And i’m glad a gave Cirebon a second chance.

[Seorang teman menantang saya untuk melakukan 28-Days Writing Challenge di blog ini. Aturannya sederhana; setiap hari dia akan meberikan sebuah tema dan saya harus menulis sebuah tulisan pendek (tidak lebih dari 500 kata) dari tema tersebut]

Share: