Pagi hari di Poyalisa Inn

Day 17: Review A Hotel/Hostel/BnB/Inn

Rasanya luar biasa lega, setelah lewat empat jam kami menempuh perjalanan laut dengan kapal kecil dari Danau Mariona menuju Poyalisa Inn, akhirnya kami melihat Vindhya melambai-lambaikan tangan di dermaga. Mesin kapal kami di luar dugaan mati sebelah, membuat perjalanan yang harusnya 2.5 jam saja menjadi hampir dua kali lipat.

Poyalisa Inn, sebuah penginapan yang terletak di atol Pulau Bomba, Kepulauan Togean. Di antara beberapa penginapan yang terdapat di Kepulauan Togean, penginapan ini sepertinya agak kurang familiar. Mungkin karena letaknya yang jauh dari Pulau Wakai, pulau di mana kapal dari Gorontalo bersandar.

Begitu kapal kami bersandar di dermaga, saya langsung melompat naik dan berlari menuju sebuah rumah yang berfungsi sebagai restoran dan dapur.

“Ibu, permisi,  toilet di sebelah mana ya?”

“Itu, yang pintunya merah” jawabnya sambil sedikit terkekeh melihat saya melompat-lompat kecil. Meskipun sederhana, saya bisa bilang Poyalisa Inn ini penginapan yang menyenangkan dari perjumpaan pertama; toiletnya bersih, ada closet duduk, dan lantai kamar mandinya pun bersih.

Poyalisa Inn Togean

Salah satu cekungan pantai di Poyalisa

Berdiri di sebuah atol dan hanya ada Poyalisa Inn saja, penginapan ini punya dua buah pantai berpasir putih yang otomatis menjadi private beach. Kedua pantai itu menghadap ke timur dan ke timur laut, sayangnya sunrise terhalang oleh Pulau Bomba. Tapi, tebing sisi barat dari atol langsung menghadap ke laut lepas, memberikan kami para tamu pertunjukan terbaik di senja hari; matahari tenggelam di horizon.

Saya berlari menyusul Vindhya yang membawakan ransel menuju pondokan. Beberapa teman yang sudah sampai duluan sedang tiduran di pasir pantai, membawa buku ditemani sebotol bir. Ahau mengulurkan segelas bir yang langsung saya sambut dengan bahagia.

“Woooow.. pelan-pelan! Itu bukan es teh manis!” katanya. Saya terbahak, terlalu bahagia karena setelah perjalanan panjang dari Jakarta sejak kemarin dini hari, akhirnya kami sampai di Kepulauan Togean.

Book, beer, and beach.

Perfect match: book, beer and beach.

Ada 17 pondok di Poyalisa Inn, 12 menghadap ke laut lepas di sisi barat dan sisanya menghadap ke pantai dan dermaga. Di setiap teras pondokan ada sebuah hammock yang terpasang, nyaman banget untuk bermalas-malasan tidur siang. Di dalam pondokan hanya ada sebuah tempat tidur king-size dan lemari kecil. Setiap pondokan dilengkapi dengan kamar mandi dalam.

pondok di Poyalisa Inn

Pondok yang saya tempati di Poyalisa Inn, langsung menghadap ke sunset

Dan karena terletak di pulau atol juga, Poyalisa Inn sepertinya tidak memiliki sumber air tawar sendiri. Air tawar untuk kebutuhan kamar mandi didatangkan dari Pulau Bomba. Bagi saya yang merasa baik-baik saja hanya bisa mandi sekali sehari, it’s not a big deal. Asalkan saya masih bisa menampung seember besar air untuk urusan pertoiletan.

Banana Cake di Poyalisa Inn yang enak banget!

Banana Cake di Poyalisa Inn yang enak banget!

Menu makanan di Poyalisa Inn biasanya berupa nasi, ikan bakar, tumis sayuran dan sambal dabu-dabu untuk makan siang dan makan malam. Untuk sarapan ada kue-kue dan bolu pisang, berselang-seling dengan nasi goreng. Ikan-ikan yang disajikan selalu segar dan dalam jumlah yang melimpah. Saya yang sangat suka makan ikan, seolah menemukan habitat yang menyenangkan.

Selain waktu matahari tenggelam, jam makan malam adalah momen favorit saya di Poyalisa Inn. Salah seorang kru penginapan akan meniup sebuah terompet besar, tanda makan malam sudah siap disajikan. Seluruh tamu akan berkumpul di restoran. Terbagi-bagi menjadi beberapa meja besar. Saling bercakap tentang apa saja. Ada yang berbicara dengan lirih, ada yang bersendau gurau dengan lantang seperti kelompok kami.

Menu makan siang di Poyalisa Inn

Menu makan siang di Poyalisa Inn

Jika badan belum lelah, kami akan lanjut nongkrong di dermaga. Memandangi langit penuh bintang sambil cekikikan menertawakan lelucon yang dilontarkan teman. Ditemani bergelas-gelas kopi dan bir, kami bersepuluh biasanya bertahan hingga hampir tengah malam di sana.

[Seorang teman menantang saya untuk melakukan 28-Days Writing Challenge di blog ini. Aturannya sederhana; setiap hari dia akan meberikan sebuah tema dan saya harus menulis sebuah tulisan pendek (tidak lebih dari 500 kata) dari tema tersebut]

Share: